Jumat, 04 September 2009

Materi Kuliah PBS " Menulis"

Materi Kuliah

M E N U L I S

Oleh

Imam Suhairi,S.Pd

(Staf Pengajar PBS STKIP PGRI Sumenep)

Untuk Kalangan Sendiri

MAHASISWA KELAS KHUSUS

S T K I P P G R I S U M E N E P

DI KANGEAN

2009

1. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa

Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu :

  1. keterampilan menyimak (listening skills)
  2. keterampilan berbicara (speaking skills)
  3. keterampilan membaca (reading skills)
  4. keterampilan menulis (writing skills)

Mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa kemudian berbicara. Dua hal ini kita pelajari sebelum masuk sekolah (pra sekolah), sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan (catur tunggal).

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, yang aktif dan produktif dengan memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata.

Tulisan dipergunakan oleh kalangan pelajar untuk merekam, meyakinkan, melaporkan, serta mempengaruhi orang lain dengan struktur kalimat dan organisasi bahasa yang jelas (Tarigan,1992).

PENULIS

pikiran penyandian psikomotor

menurunkan gagasan-gagasannya menterjemahkan gagasan ke mempergunakan

dalam sandi lisan dan selan- sejumlah sarana

jutnya mengubah menjadi mekanis untuk

sandi tulis merekam sandi

PEMBACA

pikiran pengalihsandian psikomotor

memahami gagasan-gagasan penulis menterjemahkan sandi tulis membaca tulisan

menjadi sandi lisan dan men-

dapatkan gagasan penulis

Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang produktif, aktif, dan ekspresif

- Produktif adalah penulis terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata dengan menghasilkan ide-ide yang bermakna.

- aktif adalah menuntut keterlibatan secara aktif semua potensi diri untuk menghasilkan makna –makna bahasa.

- ekspresif merupakan kegiatan yang menuntut pengungkapan gagasan yang tepat dan bermakna.

2. Relasi Keterampilan Menulis dengan Keterampilan Bahasa lainnya.

Hubungan keterampilan menulis dengan keterampilan berbahasa lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Menyimak

Langsung

Apresiatif

Aktif Reseptif

Komunikasi tatap muka

Berbicara

Langsung

Ekspresif

Aktif Produktif

Keterampilan Berbahasa

Menulis

tak langsung

ekspresif

aktif produktif

Komunikasi tidak tatap muka

Membaca

tak langsung

apresiatif

aktif reseptif

Seperti yang kita ketahui, proses komunikasi berlangsung melalui tiga media :

  1. visual (non-verbal)
  2. oral (lisan)
  3. written (tulis)

Komunikasi lisan dan tulis sangat erat berhubungan karena sifat penggunaannya yang saling berkaitan dalam bahasa. Terdapat sejumlah situasi yang sekaligus membutuhkan kedua-duanya, dan situasi-situasi lainnya yang membutuhkan dua bahkan tiga jenis media yang telah diutarakan tadi.

Para peneliti menyebutkan empat aspek dalam proses komunikasi :

  1. communicator (komunikator; orang)
  2. message (pesan)
  3. channel (saluran)
  4. audiens (pendengar, pemirsa)

Dalam bahasa penelitian diistilahkan :

  1. encoder (penyandi)
  2. symbols (lambang-lambang)
  3. media (perantara)
  4. decoder (pengalih sandi)

Keterampilan Menulis yang merupakan keterampilan berbahasa tidak langsung ( proses encoder dari penulis apa yang dimaksudkan berupa lambang-lambang bahasa tulis untuk decoder bagi pembaca.

Dari hal itu semakin jelas hubungan antar keterampilan bahasa di atas, antara keterampilan menulis dengan membaca, dengan menyimak dan berbicara.

Hubungan Keterampilan Menulis dengan menyimak

- Hasil simakan tentang beberapa informasi dapat menjadi sumber data yang penting dan sumber inspirasi untuk menulis.

- Menyimak dengan baik dapat meningkatkan daya imajinasi dan perbendaharaan kosa kata untuk kepentingan menulis.

Hubungan Keterampilan Menulis dengan Berbicara

- Keterampilan menulis dan berbicara sama-sama produktif, aktif dan ekspresif

- Menulis dan berbicara termasuk ke dalam retorik, yakni seni penyusunan kata-kata, kalimat-kalimat yang tepat guna dan bertanggung jawab baik dalam tuturan maupun tulisan. Lcban dalam Tarigan (1992) menegaskan retorik merupakan penggunaan bahasa secara tepat guna mengkomunikasikan perasaan yang sejati dan gagasan-gagasan yang sehat serta masuk akal.

- Menulis dan berbicara mempunyai prinsip-prinsip penyusunan gagasan yang sama.

Tetapi kritikus sastra T.S. Elliot berkomentar “ Kalau kita menulis seperti yang kita berbicara maka tidak seorangpun yang mau membacanya dan kalau kita berbicara seperti yang kita menulis maka tidak ada orang yang mau mendengarkannya. Berbicara butuh ekspresi wajah, intonasi gerak-gerik.

Perbedaan tulisan dengan ujaran.

TULISAN

UJARAN

Hampir tidak ada pengulangan

Bahasa baku/resmi

Penulis yang baik tidak selalu pembicara yang baik

Komunikasi tidak langsung

Memerlukan tanda baca

Tidak langsung mendapat umpan balik

Bersifat efektif

Sering diadakan pengulangan

Bahasa sehari-hari

Pembicara yang baik tidak selalu penulis yang baik

Komunikasi langsung

Memerlukan nada, ekspresi, gerak-gerik

Langsung mendapat umpan balik

Lebih efektif

Hubungan Keterampilan Menulis dengan Membaca

- menuliskan sesuatu prinsipnya kita ingin agar tulisan kita dibaca orang lain.

- maksud penulis akan mendapat response pembaca

Maksud penulis

Respon pembaca

Menginformasikan/mengajar

Meyakinkan/mendesak

Menghibur/menyenangkan

Mengekspresikan emosi

Mengerti/memahami

Percaya/menantang

Kesenangan

Pikiran yang dikendalikan oleh emosi

- membaca dengan terampil dapat menyerap informasi sebagai bahan bagi menulis (reference)

3. Batasan, Fungsi, Manfaat, dan Tujuan Menulis

Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang tersebut.

Gambar atau lukisan mungkin dapat menyampaikan makna-makna, tetapi tidak menggambarkan kesatuan-kesatuan bahasa. Menulis merupakan representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa. Hal ini yang membedakan antara lukisan dan tulisan, antara melukis dan menulis. Maka melukis bukanlah menulis, menggambar huruf-huruf cina bukan menulis, kalau tidak memahami bahasa cina, menyalin huruf-huruf untuk dicetak bukanlah menulis kalau tidak memahami bahasa beserta representasinya.

Maka fungsi utama menulis adalah

1. Sebagai alat komunikasi tak langsung.

2. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berfikir secara kritis.

3. Juga memperdalam daya tangkap atau persepsi kita dan memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.

Adapun manfaat menulis secara umum ide-ide dan gagasan kita dapat tersalurkan dengan baik. Sementara manfaat menulis menurut Dr. Pennebaker (dalam Hernowo (ed), 2004) adalah :

1. Menulis menjernihkan pikiran; saat memulai sebuah tugas yang rumit, cobalah untuk menuliskan pikiran-pikiran Anda.

2. Menulis mengatasi trauma yang menghalagi penyelesaian tugas-tugas penting

3. Menulis membantu dalam mendapatkan dan mengingat informasi baru

4. Menulis membantu memecahkan masalah; seseorang yang dengan bebas menulis tentang masalah yang rumit akan lebih mudah untuk mendapatkan pemecahannya.

5. Menulis bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis. Contoh : menulis laporan.

6. Menulis mengencangkan kulit wajah. Tokoh Perempuan Islam, Fatimah Mernisi berkata “ menulis lebih baik ketimbang operasi pengencangan kulit wajah”. Ia menganjurkan untuk menulis tiap hari, niscaya kulit akan segar kembali. Menurutnya yang sekaligus dikuatkan dengan hasil penelitian dalam buku “ opening up” Tahun 1990, bahwa menulis meningkatkan aktivitas sel.

7. Hasil penelitian James w. pennebaker menyebutkan; menulis tentang hal-hal yang negative akan memberikan pelepasan emosi yang membuat rasa puas dan lega

8. Orang-orang yang menulis pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Tujuan Menulis

Menulis dibuat : 1. untuk dibaca; 2. didasarkan pada pengalaman; 3. tulisan ditingkatkan melalui latihan terpimpin.

Penulis umumnya bertujuan : a. memberitahukan/mengajar (informative discourse); b. meyakinkan/ mendesak (persuasive discourse); c. menghibur atau menyenangkan (literary discourse); d. mengekspresikan perasaan/emosi (ekpression discourse)

Hugo Hartiq dalam Tarigan (1992:24) mengungkapkan tujuh tujuan menulis.

Tujuan penugasan(Assigment purpose)

Ditugaskan seseorang untuk kepentingan akademik/lain

Problem Solving Purpose Tujuan Al-truistik

Memecahkan masalah, meneliti Menyenangkan pembaca dari duka,

Pikiran&idenya agar diterima Menghargai perasaan dan penalarannya

Tujuh Tujuan

Menulis

Creative purpose Tujuan persuasive

Bertujuan mencapai nilai-nilai Meyakinkan para pembaca

Artistic, kesenian akan gagasannya

Informational purpose

Self ekpressive purpose Memberi informasi

(Tujuan pernyataan diri) kepada pembaca

Memperkenalkan/menyatakan

Diri sang pengarang kepada pembaca

4. Ragam Menulis

Salisbury dalam Tarigan (1992) membagi tulisan berdasarkan bentuknya.

1. Bentuk-Bentuk Objektif, yang mencakup : Morris membuat klasifikasi berikut :

a. penjelasan yang terperinci mengenai proses suatu hal a. eksposisi/paparan

b. laporan 1. klasifikasi

c. dokumen 2. definisi

B. Bentuk-bentuk subjektif, yang mencakup : 3. eksemplikasi

a. otobiografi 4. sebab dan akibat

b. surat-surat 5. komparasi dan kontras

c. penilaian pribadi 6. proses

d. esei informal b. Argumen/bahasan

e. potret/gambaran 1. argument formal (deduksi dan induksi)

2.persuasi informal

Sementara Weaver membuat klasifikasi sebagai berikut : c. Deskripsi/perian

a. eksposisi,yang mencakup : 1. deskripsi ekspositori

1. definisi 2. deskripsi artistic/literer

2. analisis d. Narasi/kisahan

b. deskripsi, yang mencakup : 1. narasi informatif

1. deskripsi ekspositori 2. narasi artistik

2. deskripsi literer

c. narasi yang mencakup Chenfeld membuat klasifikasi atas :

1. urutan waktu a. Tulisan kreatif yang memberi

2. motif penekanan pada ekspresi secara pribadi

3. konflik b. Tulisan ekspositori mencakup :

4. titik pandang 1. penulisan surat

5. pusat minat 2. penulisan laporan

d. argumentasi 3. timbangan buku

1. induksi 4. rencana penelitian

2. deduksi

Adelstein dan Pival membuat klasifikasi berdasarkan nada(voice).

1. Nada Akrab/intim (The intimate voice)

2. Nada Informatif

3. Nada Menjelaskan (the explanatory voice)

4. Nada Argumentatif

5. Nada Mengkritik

6. Nada Otoritatif

Dewasa ini bentuk tulisan yang umum dikenal adalah sebagai berikut :

a. argumentasi (bahasan). Bentuk tulisan yang menggarisbawahi gagasan penulisnya dengan bertopang pada argument yang logis dan objektif berdasarkan pembuktian kebenaran. Pada umumnya terdapat pada karangan ilmiah.

b. deskripsi. Bentuk tulisan mengutamakan kemampuan dengan melukiskan sesuatu seakan pembaca melihat langsung peristiwa itu.

c. eksposisi. Merupakan pemaparan pikiran agar pembaca lebih luas wawasannya.

d. persuasi. Tulisan yang membujuk, merayu, dan mengajak ikut ide penulisnya. Biasanya terdapat pada iklan.

e. narasi. Menggarisbawahi aspek penceritaan atas suatu rangkaian peristiwa yang dikaitkan dengan kurun waktu tertentu baik objektif maupun imajinatif. Biasanya terdapat pada karya sastra dan biografi.

5. Menulis adalah Proses Kreatif

Kreativitas dapat diartikan sebagai : 1. perilaku yang berbeda dengan perilaku umum;2. merupakan kecenderungan jiwa seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru;3. merupakan bentuk berpikir yang cenderung baru dan menentang konvensi;4. merupakan hasil kerja yang cenderung kebaruan, baik isi, maupun keduanya.

Menulis merupakan proses kreatif. Menulis menuntut kecenderungan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan hal-hal yang telah diketahui umum.

Kreativitas muncul dari perpaduan beberapa unsur.

1. Kemampuan berpikir kritis. Dengan berpikir kritis orang dapat menemukan sesuatu yang belum dipikirkan oleh orang lain sebelumnya. Kita tidak mudah merasa puas dengan apa yang telah ada. Jiwa kita akan hidup/dinamis untuk mencari kemungkinan-kemungkinan lain, hubungan-hubungan baru, dan cara-cara baru.

2. Kepekaan emosi. Kepekaan emosi sangat perlu agar seseorang dapat menangkap dan merasakan Sesuatu yang sangat samar dari yang ada di sekitar. Dengan kepekaan emosi orang dapat menagkap sesuatu yang sangat pribadi dari orang lain.

3. Bakat. Ibarat bara api, yang kalau tidak dikipasi maka akan mati lama kelamaan.

4. Daya Imajinasi. Orang dapat menciptakan sebuah gambaran yang utuh dan lengkap dalam fantasinya. Penulis dapat mematangkan. Merinci, dan mengutuhkan ide-idenya.

Tahapan Kreativitas dimulai dengan :

1. Pemunculan Ide.

Ide sering muncul di sembarang tempat tidak mengenal waktu, ide sering tiba-tiba muncul dan kadang cepat hilang, semakin banyak pengetahuan dan pengalaman, kemungkinan ide yang muncul akan semakin banyak dan cepat, ide dapat dirangsang dengan : a. mempelajari ide orang lain, b. meningkatkan pengetahuan dan pengalaman,c.melakukan perenungan, d. terus berlatih berpikir kritis

2. Pengembangan Ide

Pematangan dapat melalui : perincian unsur-unsurnya, membaca, diskusi, dan pengamatan.

3. Pelahiran Ide

Dapat ditunjang oleh : bekal bahasa yang memadai, keadaan psikologis yang menunjang (tenang, santai, dan leluasa), dan banyak berlatih menulis.

4. Penyempurnaan Ide

Perlu dibaca kembali hal yang ditulisnya dengan berulang-ulang atau bisa dilakukan dengan orang lain.

Membentuk Jiwa Kreatif :

1. Biasakan merasa bebas dalam berfikir dan bertindak. Jangan takut dalam melakukan sesuatu dan lakukan pekerjaan sesuai tuntutan kreativitas.

2. Ciptakan kebaruan-kebaruan. Jangan puas terhadap apa yang ada. Pikirkan sesuatu yang mungkin terjadi dan perbanyaklah kemungkinan-kemungkinan itu serta lakukan percobaan-percobaan.

3. Kembangkan daya konsentrasi.

4. Lakukan hal-hal yang menantang. Tantangan dapat menyuburkan kreativitas. Sebab dengan tantangan pikiran, imajinasi, dan emosi bekerja. Hindari hal-hal yang bersifat statis, ciptakan kebaruan setiap saat.

5. Biasakan bekerja keras. Tekunlah berlatih menulis dan jangan mudah jemu dan putus asa.

6. Olah dan matangkan setiap ide. Tulislah setiap ide yang melintas secara rinci dan utuh. Lakukan perenungan setiap ide.

7. Latih kepekaan terhadap gejala alam dan kehidupan. Amati setiap gejala kehidupan dan amati hal-hal yang tidak dapat diamati oleh orang lain, kemudian olah dan tulis yang Anda amati.

8. Ciptakan ide sendiri. Ide orang lain hanya sebagai pemancing munculnya ide Anda sendiri.

9. Berlatih berpikir asosiatif. Biasakan mengasosiasikan gejala dengan gejala yang lain.

Faktor Penghambat Kreativitas

1. Rasa malu dan minder

2. Kritik yang pedas dan berlebihan. Padahal kritik adalah balikan yang sangat berharga bagi kesempurnaan ide berikutnya.

3. Menunda waktu

4. Anggapan yang keliru tentang kreativitas dan menulis kreatif. Anggapan bahwa kreativitas hanya bagi mereka yang punya bakat.

5. Minat yang kurang

6. Penguasaan bahasa yang kurang.

7. Kekurangan Ide.

8. Iklim lingkungan yang mematikan. Iklim yang tidak menghargai ide, tidak memberi kebebasan seseorang, lingkungan yang menuntut disiplin yang kaku, dan lingkungan yang terlalu fanatik.

Mengabadikan Ide : 1. Catat setiap ide yang muncul; 2. Deskripsikan ide secara rinci dan lengkap; 3. matangkan ide; 4. Tuliskan ide menjadi sebuah karya.

Mengembangkan kemampuan bahasa :

1. Mengembangkan kosa kata, dengan cara : a. perbanyak membaca,b. catatlah kosa kata baru yang Anda temui, c. gunakan kamus ilmiah populer, d. permainan kata.

2. Mengembangkan penguasaan kaidah bahasa.

3. Mengembangkan pengetahuan makna (makna khusus dan umum, makna kias dan lugas)

4. Memahami makna konvensional dan inkonvesional. Konvensional adalah makna sesuai dengan kesepakatan masyarakat pemakainya. Inkonvesional adalah makna yang dikreasikan sendiri oleh pemakai yang bersangkutan. Contoh : hujan (turunnya rahmat/konvensional dan kehancuran/inkonvesional).

5. Memahami makna kontekstual. Makna bahasa pada hakikatnya dirtentukan oleh konteks pemakainya. Baik konteks kalimat maupun konteks sosial. Kata Gila atau edan bisa berarti sakit jiwa atau dapat berarti kekaguman.

6. Teknik Menulis yang Baik

a. Memulai Tulisan

Apakah tujuan kita menulis? Sebagai wartawan dituntut menulis berita, dosen dituntut menulis modul, mahasiswa dituntut menulis karya akhir, pengusaha dituntut menulis proposal dll.

Langkah awal menulis adalah : - merumuskan visi dan misi tulisan. Visi dapat diidentikkan dengantopik adan tema tulisan. Sedangkan misi tulisan dapat diidentikkan dengan rema tulisan (segala sesuatu yang lain yang menyusul berkaitan dengan titik awal tujuan penulisan/ amanat utama yang hendak disampaikan sang penulis kepada pembaca. Contoh : visi yang telah kita tentukan “ kerusakan hutan di pulau kangean” bisa ditergetkan untuk menginformasikan (ekspositoris) bahaya kerusakan hutan kepada pembaca. Kita sekaligus menentukan segmentasi pembaca. Apakah untuk segmen keluarga, remaja, pelajar, umum dan lain-lain, sehingga remanya bisa direspon secara efektif.

- menyusun “outline” (kerangka karangan). Kecapakan menulis sangat identik dengan kecapakan menyusun kalimat dan memilih kata-kata. Kalimat yang dimaksud adalah kalimat efektif. Kalimat efektif menurut Gorys Keraf dalam Wibowo (2001) mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulisnya dan sanggup menarik perhatian pembacanya. Kalimat efektif adalah kalimat yang tersusun secara baik, benar, segar, jelas, dan tidak berpeluang memunculkan ingar (noise). Contoh :

- para hadirin yang saya hormati, marilah kita perhatikan di ujung sana, beberapa ibu-ibu sudah selesai dengan masakannya.

- para anggota DPR serentak berdiri, sesaat setelah mereka melihat Presiden dan Wakil Presiden memasuki ruang sidang.

- demi untuk bangsa dan negara, saya sudah sejak dari dulu sudah rela berkorban.

Pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan memakai kata, juga disesuaikan dengan konteks nilai dan norma sosial pembacanya.

Ketepatan dalam pilihan kata. Yakni, kemampuan untuk memilih setepat-tepatnya kata mana yang paling cocok untuk mewakili maksud dan gagasan sang penulis. Perlu diperhatikan hal-hal :

a. memahami kata sebagai simbol. Kata mengandung dua aspek. Aspek bentuk (ekspresi) yakni aspek yang disimbolkan/aspek yang dapat diserap dengan panca indera. Aspek isi adalah aspek yang menyimbolkan/aspek interpretasi. Kedua ini tidak ada hubungan. Contoh : simbol kata “polisi” yang menyimbolkan makna tenteram dan aman tidak ada kaitannya sama sekali.

b. memahami adanya struktur leksikal. Wujudnya seperti : sinonim, polisemi, hiponim, dan antonim. Contoh : kata ‘ wafat”, tewas, gugur, meninggal, mati meskipun sama pengertiannya tetapi nuansanya berbeda, sehingga perlu ketepatan dalam penggunaannya.

c. memahami kata denotative dan konotatif

d. memahami kata khusus dan umum

b. Tulisan yang bernada Akrab

Tulisan pribadi adalah suatu bentuk tulisan yang memberikan sesuatu yang paling menyenangkan dalam penjelajahan diri sang penulis. Bahasa tulisan pribadi itu :

Hidup, bersemangat, lincah, cemerlang, menarik, dan menyegarkan. Bentuknya :

a. catatan harian : jurnal, b. otobiografis, c. esei pribadi.

Beberapa pentunjuk menulis catatan harian:

1. tulislah setiap hari, walau hanya beberapa kalimat

2. batasilah setiap jurnal dengan satu pokok penting

3. katakana dan ceritakan dengan kata-kata sendiri

4. bacalah jurnal sehari atau dua hari kemudian.

Teknik penulisan otobiografis :

1. secara dramatic : - titik tekannya pada dialog dan percakapan, aksi bergerak maju, para tokoh dibuat berbiacara seperti sebenarnya.

2. pendekatan deskriptif : - penulis melaporkan pembicaraan, tugas penulis sekedar menceritakan.

Esai : 1. esai formal, 2. esai informal/pribadi

c. Tulisan Nada Informatif.

Tujuan tulisan deskriptif mengajak pembaca bersama-sama menikmati, merasakan, memahami dengan sebaiuk-baiknya beberapa objek , aktivitas, suasana yang dialami penulis dll.

Ada pemerian factual (inilah adanya, tidak ditambahi dan dikurangi) dan pemerian pribadi ( substansi material tidak memiliki realitas sebenarnya, tetapi dibentuk oleh perasaan orang).

Petunjuk menulis tulisan pemerian faktual:

- susunan sudah memiliki aturan tertentu.

- Gayanya tidak perlu menarik perhatian.

- Nada; factual ,serius, dan resmi.

Tulisan Pemerian pribadi :

- susunan logis berdasarkan ruang, waktu, atau keduanya dan menarik hati

- Gaya : diupayakan dapat membangkitkan rasa emosional

- nada : ditulis dengan perasaan

d. Nada Menjelaskan (the explanatory voice)

Bentuknya : klasifikasi, definisi, analisis, opini.

- Klasifikasi adalah menjelaskan penggolongan –penggologan untuk memudahkan pembaca.

- Definisi sejenis tindakan pembahasan yang hendak memberi pengertian sesuatu istilah sejelas mungkin. Macam-macam definisi : definisi sinonim, definisi ilustratif, definisi negative, definisi perluasan, definisi formal.

- analisis tidak hanya menjelaskan, juga melakukan penilaian terhadap bagian-bagian. Ada analis proses dan analisis butir.

e. Nada Argumentatif /meyakinkan.

Cirri-ciri :

1. harus jelas dan tertib. Maksud dan tujuan dinyatakan dengan terbuka dan jelas.

2. hidup dan bersemangat. Penulis harus terampil menggunakan kata-kata yang hidup dan bersemangat.

3. berasalan kuat. Disertai fakta-fakta dan penalara-penalaran. Bebas dari prasangka.

4. bersifat dramatic. Dapat menggugah perasaan pembaca.

Penalaran logis dibagi : induksi dan deduksi.

Induksi bisa berbentuk : - penarikan contoh, analogi, generalisasi.

Deduksi berbentuk : silogisme.

f. Nada Mengkritik

Tulisan ini menghasilkan tulisan mengenai sastra. Penulis dapat bertindak :

a. sebagai sutradara

b. sebagai penulis cerita

c. sebagai direktu

g. Nada Otoritatif

Tulisan ini menghasilkan karya ilmiah dengan tahapan-tahapan baku ilmiah.

h. Mencari dan Membatasi Judul

Mencari judul memperhatikan :

- daya tarik; apakah saya dan orang lain tertarik dengan hal itu?

- Luasnya; apakah lingkup bahan sesuai dengan pembatasan waktu kita

- Kerumitan; dapat menjelaskan pokok masalah secara memuaskan.

Contoh : Kajian Kebahasaan pada Berita Harian Jawa Pos (terlalu luas)

Kajian Tanda Baca dan Ejaan pada Berita Harian Jawa Pos (dibatasi tapi masih luas)

Kajian Tanda Baca pada Kolom Berita Politik Harian Jawa Pos (cukup)

Kajian Tanda Koma pada Kolom Berita Politik Harian Jawa Pos (Sempit)

i.Gaya Penulisan

Gaya penulisan cara mengungkap diri sendiri melalui bahasa, sehingga berbeda dengan orang lain. hal ini menyangkut semua hirarki kebahasaan : mulai dari diksi, frase, kalimat, hingga wacana. Disamping itu memungkinkan pembaca menilai watak dan kemampuan penulisnya.

Menurut Goryz Keraf, gaya penulisan yang baik haruslah megandung tiga hal pokok berikut.

a. Kejujuran. Hal ini nampak pada susunan kalimat yang tidak berbelit-belit.

b. Sopan-santun. Rasa menghormati dan menghargai dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan (efektif dan efisien)

c. Menarik. Dapat diukur melalui sejumlah komponen : variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, penuh vitalitas, dan penuh daya imajinasi.

j. Ambiguitas, Redundansi, dan Kerancuan

Ambiguitas adalah salah satu problem kebahasaan, yakni timbulnya makna ganda. Hal ini akan teratasi dengan (1) intonasi, dan (2) memperbaiki struktur kalimat.

Contoh : 1. Parman, anak 15 tahun kini menderita akibat bisul di bawah perut dekat alat vital sebesar buah kelapa. (apa yang sebesar buah kelapa? Bisul atau alat vitanya?)

2. Kedua polisi itu dalam perjalanan menjumpai tiga orang yang tengah memikul kayu dan menegurnya. Tetapi, ketiga orang itu menunjukkan sikap tidak bersahabat. (siapa yang menegur? Kedua polisi atau pemikul kayu?)

Redundansi adalah adalah pemakaian bahasa secara berlebihan. Contoh : Bu Ida adalah satu-satunya dosen STIKA yang paling pintar. Padahal maknanya tidak akan berubah jika : Bu Ida adalah dosen STIKA yang paling pintar.

Kerancuan adalah kekacauan dalam pemakaian bahasa. Terjadi dalam tataran :

a. Kerancuan kalimat

Contoh : di lingkungan STKIP PGRI Sumenep mahasiswa dilarang tidak boleh memakai sandal.

b. Kerancuan susunan kata.

Contoh : sudah berulang kali kami mengabari tuan Tono. Kata berulang kali kerancuan dari “ berkali-kali atau berulang-ulang

c. kerancuan bentukan kata

contoh : belakangan ini, di kampus kami dipelajari sejumlah mata kuliah yang berkaitan dengan praktik bisnis. Bentukan kata dipelajarkan adalah perancuan dari diajarkan dan dipelajari.

k. Tentang Paragraf dan Kiat Menghubungkan Kalimat

Menurut Sabarti Akhadiah dalam Wibowo (2001) dalam menuangkan gagasan dituntut mampu menghubungkan atau mengikat kalimat secara nalar yang diwujudkan dalam bentuk paragraph. Syarat-syarat paragraph yang baik (Soedjito, 1981) memenuhi :

1. Kohesif/kesatuan; yakni hanya memiliki satu pikiran/gagasan pokok.

2. Koheren/kepaduan; kekompakan hubungan antara kalimat yang satu dengan yang lain.

3. Pengembangan; pemerincian pikiran pokok ke dalam pikiran-pikiran dan pengurutannya secara teratur. Goorys keraf mengistilahkan dengan kelengkapan (suatu paragraph disebut lengkap bila berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topic atau kalimat utama. Contoh (1) dalam masyarakat Pancasila, Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing adalah mutlak. (2) semua agama tentu menghargai manusia. (3) karena itu, semua umat beragama juga wajib saling mengahargai. (4) dengan itu, antar umat beragama akan terbina kerukunan yang kokoh.

Kalimat utama dan penjelas dapat disusun menjadi paragraph yang baik dengan urutan (1) logika(urutan logis), (2) waktu, (3) tempat, (4) klimak dan antiklimaks

Berdasarkan fungsinya paragraph dibedakan menjadi :

1. paragraph peralihan; memerankan dua fungsi : - merangkum menilai bahan/uraian terdahulu dan membayangkan bahan/uraian berikutnya.

2, paragraph penekana; terdiri dari beberapa kalimat berita singkat (kadang-kadang hanya terdiri ata satu kalimat) yang pada umumnya dimaksudkan untuk mengejutkan para pembaca atau memastikan bahwa mereka memperoleh pesan yang jelas.

Penulisan Pendahuluan

1. Menarik Minat Pembaca

- pernyataan yang controversial, yang sedang hangat diperdebatkan.

- suatu unsur atau elemen yang mengagumkan

- suatu nada yang kontradiksi

- suatu pernyataan dramatis yang singkat

- penggunaan sarana-sarana statistik

- penggunaan kutipan-kutipan

-suatu penunjukan atau referensi pada peristiwa mutakhir

- membuktikan keahlian sang penulis

D’Angelo dalam Tarigan (1992) menjelaskan khusus paragraph pendahuluan menyarankan beberapa cara :

1. mulailah dengan perincian-perincian pemerian

2. mulailah dengan sesuatu lelucon

3. mulailah dengan suatu kutipan

4. mulailah dengan suatu pertanyaan/masalah

5. mulailah dengan gaya bahasa tertentu

6. mulailah dengan suatu pernyataan yang samara-samar

7. mulailah dengan suatu analogi

Penulisan Kesimpulan

Kesimpulan suatu tulisan mempunyai dua fungsi :

a. sebagai penutup atau rangkuman; bagi rasa kelengkapan para pembaca, bahwa mereka telah selesai membaca tulisan yang direncanakan secara baik.

b. menyajikan hal-hal yang penting diingat oleh para pembaca; perlu bagi rasa kebulatan pokok para pembaca, yang telah meninggalkan bagi mereka bahan renungan yang penting dan serasi.

Butir-butir kesimpulan dapat meliputi :

1. membuat kalimat-kalimat kesimpulan dapat saja memandang ke belakang; dengan :

- dapat saja kembali pada beberapa ungkapan atau motif lain pada pendahuluan

- menyatakan kembali tesis

- merangkum pokok-pokok penting

2. memandang ke depan.

- dapat meramalkan masa depan

- menyarankan tindakan selanjutnya

- kegunaan gagasan-gagasan tersebut.

Menurut Abdul Chaer (1994) menghubung-hubungkan kalimat dapat dilakukan dengan cara :

1. Menggunakan kata penghubung. Dikenal frase transisi sebagai berikut :

a. hubungan tambahan : lagi, pula/juga, selanjutnya, apalagi, berikutnya, di samping itu, tambahan lagi, selain itu, bahkan, malahan, demikian juga, begitu juga.

b. hubungan perbandingan : sama halnya, sebagaimana, berbeda halnya, dalam hal yang demikian, seperti halnya, lebih jauh, lebih dari itu/

c. hubungan pertentangan : akan tetapi, melainkan, meskipun demikian, bagaimanapun juga, sedangkan, sebaiknya, namun, tentu saja.

d. hubungan akibat atau hasil : jadi, akibatnya, maka, dengan demikian, oleh karena itu, sebab itu, dalam pada itu.

e. hubungan waktu : sebelum itu, sementara itu, sesudah itu, sejak itu, kemudian, baru-baru ini.

f. hubungan tujuan : untuk itu, untuk maksud/tujuan tersebut.

g. hubungan contoh : misalnya, contohnya, dengan kata lain, sesungguhnya.

h. hubungan ringkasan : singkatnya, pada umumnya, demikianlah, begitulah

i. hubungan urutan : pertama, kedua, ketiga

2. Menggunakan penunjukan, yakni isi kalimat yang satu diulang kembali pada kalimat lain dengan kata-kata tertentu. Kata penunjuk ini dan itu, dan kata ganti ia, dia,-nya, dan mereka.

3. Menggunakan kesejajaran, yakni membentuk beberapa kalimat dengan unsure-unsur yang mirip. Contoh : Datanglah kalau perlu, Pergilah kalau kamu mau

4. Menggunakan padanan kata, alias menghubungkan kalimat satu dengan lainnya dengan kata atau frase yang maknanya berpadanan. Contoh : Anda tahu Gus Dur? Mantan Presiden RI ke-4 ini dikenal humoris. Namun, Ketua Forum Demokrasi ini juga dinilai sedikit arogan oleh kolega-kolega politiknya.

5. Menggunakan antonim atau sinonim

6. Menggunakan kesamaan tema. Kesamaan gagasan yang dikemukakan.

Contoh : apakah itu program pengentasan kemiskinan? Apakah benar-benar dapat menaikkan penduduk di wilayah kumuh?

7. Mengajarkan Keterampilan Menulis bagi Siswa

Berikut ditampilkan Beberapa metode mengajar yang dapat divariasikan oleh pendidik dalam pembelajaran menulis diantaranya : 1. Metode Ceramah (Preaching Method) Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa. Beberapa kelemahan metode ceramah adalah : a. Membuat siswa pasif b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa c. Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985) d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya. e. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik. \ f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). g. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000) Beberapa kelebihan metode ceramah adalah : a. Guru mudah menguasai kelas. b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar. d. Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 2. Metode diskusi ( Discussion method ) Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ). Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk : a. Mendorong siswa berpikir kritis. b. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas c. Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama. d. Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama. Kelebihan metode diskusi sebagai berikut : a. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan b. Menyadarkan ank didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik. c. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) Kelemahan metode diskusi sebagai berikut a. tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar. b. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas. c. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara. d. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

3. Metode demontrasi ( Demonstration method ) Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000). Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000). Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah : a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan . b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari. c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Daradjat, 1985) Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut : a. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda. b. Memudahkan berbagai jenis penjelasan . c. Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).

Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut : a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan. b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan c. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000). 4. Metode ceramah plus Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya.Dalam hal ini penulis akan menguraikan tiga macam metode ceramah plus yaitu : a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT). Metode ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Metode campuran ini idealnya dilakukan secar tertib, yaitu : 1). Penyampaian materi oleh guru. 2). Pemberian peluang bertanya jawab antara guru dan siswa. 3). Pemberian tugas kepada siswa. b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT) Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.

c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL) Metode ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill) 5. Metode resitasi ( Recitation method ) Metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri. Kelebihan metode resitasi sebagai berikut : a. Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama. b. Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Kelemahan metode resitasi sebagai berikut : a. Terkadang anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan temennya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri. b. Terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan. c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

6. Metode percobaan ( Experimental method ) Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000) Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Misalnya di Laboratorium.

Kelebihan metode percobaan sebagai berikut : a. Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku. b. Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi. c. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia. Kekurangan metode percobaan sebagai berikut : a. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan ekperimen. b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran. c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.

7. Metode Karya Wisata ( Study tour method ) Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan. Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut : a. Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran. b. Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat. c. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak. Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut : a. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak. b. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang. c. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan. d. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan. e. Biayanya cukup mahal. f. Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh. 8. Metode latihan keterampilan ( Drill method ) Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar , dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mute/pernik-pernik. Kelebihan metode latihan keterampilan sebagai berikut : a. Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat. b. Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya. c. Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.

Kekurangan metode latihan keterampilan sebagai berikut : a. Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian. b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan. c. Kadang-kadang latihan tyang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan. d. Dapat menimbulkan verbalisme.

9. Metode mengajar beregu ( Team teaching method ) Metode mengajar beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiap siswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut.

10. Metode mengajar sesama teman ( Peer teaching method ) Metode mengajar sesama teman adalah suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri

11. Metode pemecahan masalah ( Problem solving method ) Metode ini adalah suatu metode mengajar yang mana siswana diberi soal-soal, lalu diminta pemecahannya.

12. Metode perancangan ( projeck method ) yaitu suatu metode mengajar dimana pendidik harus merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian. Kelebihan metode perancangan sebagai berikut : a. Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyuluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. b. Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari. Kekurangan metode perancangan sebagai berikut : a. Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini. b. Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para guru belum disiapkan untuk ini. c. Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan. d. Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas. 13. Metode Bagian ( Teileren method ) yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan sebagian-sebagian, misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya. 14. Metode Global (Ganze method ) yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisari dari materi tersebut. Perbandingan Ciri Khas Metode Mengajar Metode mengajar yang dimiliki pendidik usahakan divariasikan, agar siswa-siswi dalam kelas yang tipe belajarnya pasti beragam itu dapat menerima, mencerna, menguasai materi yang diberikan oleh pendidik seefisien dan seefektif mungkin. Bagaimana agar yang kita harapkan itu menjadi kenyataan ? Salah satu solusinya adalah pendidik disamping menguasai beberapa metode mengajar, harus tahu juga tipe belajar para siswanya. Supaya sinkron antara metode mengajar pendidik dengan tipe belajar peserta didik. Artinya metode yang digunakan dalam megajar telah disesuaikan dengan tipe belajar peserta didik. Misal tipe belajar siswa visual, maka akan lebih mudah dicerna oleh siswa apabila guru mengajar dengan slide, makalah, atau digambarkan langsung di papan tulis. Untuk itu mari kita lihat beberpa tipe belajar siswa . Beberapa Tipe Belajar Siswa Mengetahui tipe belajar siswa membantu guru untuk dapat mendekati semua atau hampir semua murid hanya dengan menyampaikan informasi dengan gaya yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan tipe belajar siswa. Beberapa Tipe Belajar Siswa Sebagai Berikut : 1. Tipe Belajar Visual. Bagi siswa yang bertipe belajar visual, yang mememgang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Ciri-ciri Tipe Belajar Visual : ² Bicara agak cepat ² Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi ² Tidak mudah terganggu oleh keributan ² Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

Tujuan mengajarkan bahasa adalah menciptakan terampil berbahasa. Sebagai guru dapat memulai menciptakan siswa terampil menulis dengan memberi kebebasan kepada siswa untuk berkreasi. Beberapa tips demi kemajuan siswa :

- Jangan menghukum siswa atas kesalahan dia atau kelalaiannya membuat tugas /latihan

- Jangan menekan siswa dengan format penulisan yang justru menghambat kreativitasnya (awal Pembelajaran)

- Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh demokratis.

- Belajar tidak harus dalam ruangan, tapi bisa dimana saja.

- Gunakan atau manfaatkan fasilitas yang tersedia dengan maksimal untuk menunjang kreativitasnya.

- Ajak siswa untuk gemar memecahkan masalah dengan bersama.

- Ajak siswa untuk selalu menuliskan kejadian pribadinya pada catatan hariannya.

- Setelah itu, boleh diajarkan tentang kaidah kebahasaan.

- Latihlah siswa secara terus menerus dalam menulis apa saja.

- Hargai siswa yang teramnpil mengerjakan tugasnya

- Tunjang motivasinya dengan apapun. Misal : membuat majalah dinding sederhana, memajang hasil kreativitas siswa di kelas mereka dan lain-lain.

Membelajarkan Menulis dengan Metode Peta Pikiran

Wycoff dalam Hernowo (2004) menjelaskan pemetaan pikiran cara yang sangat baik untuk menghasilkan dan menata gagasan sebelum mulai menulis. Pemetaan-pikiran bisa dikatakan jaminan hilangnya rintangan yang dihadapi penulis. Gabriele Lusser Rico menamai metode ini clustering (pengelompokan). Menurutnya melalui clustering akan muncul sejumlah alternatif dari bagian pikiran kita yang dalam alternative tersebut, pengalaman hidup melebur jadi satu.

Pemetaan visual memberikan sarana untuk mengungkapkan perasaan dan rangsang indrawi. Begitu intuisi kita dipetakan, kita semakin menemukan jalan untuk meningkatkan gagasan atau menjadikannya lebih konkret dan mudah untuk dikomunikasikan. Langkah-langkahnya meliputi :

a. memetakan suara intuitif Anda. Intuitif kadang muncul di suasana hening dan tiba-tiba.

b. membebaskan batin dari tekanan

Membelajarkan menulis dengan cara ini siswa diberikan kebebasan untuk mengungkap pengalamannya, lalu cari satu masalah dan kemudian petakan sesuai dengan kemampuannya. Pemetaan itu dapat dimulai dengan bebas. Setelah itu baru dipetakan dalam bentuk tulis.(visual)

b. Membelajarkan Menulis Dengan Iringan Musik

Beberapa kegiatan yang bisa ditingkatkan oleh musik :

1. mengerjakan karya seni/makalah, 2,menulis naskah/artikel,c. beljar unutk ujian,menulsi karangan.dll. Musik secara fenomenal membantu pembelajaran dan untuk belajar. Guru yang menugaskan muridnya untuk mendengar musik dalam kelas akan membuat giat dan tulisan yang bermutu.

Musik yang dipilih memicu imajinasi, musik yang bisa merangsang dan mendorong Anda,

c Menilai Karangan Siswa

Dalam memberi tugas mengarang kepada siswa, perlu diketahui hal-hal yang perlu dinilai :

a. isi karangan : gagasan, keaslian gagasan, pengoperasian gagasan, dukungan data

b. bahasa penyajian : ketepatan susunan kalimat, ketetapan diksi, kesatuan dan kelancaran peralihan paragraph, kesesuaian gaya dengan tujuan penulisan, kebenaran penerapan ejaan.

c. teknik penulisan : keteraturan urutan gagasan, kerapian rupa karangan, kaitan judul dengan isi.

Daftar Rujukan

Hernowo (ed).2004.Quantum Writing. Bandung : Mizan

Roekan. 1991. Menulis Kreatif : Dasar-dasar dan Petunjuk Penerapannya. Malang : YA3

Soedjito & Mansur Hasan. 1981. Seri Membina Keterampilan Menulis Paragraf. Malang

Tarigan, Henry Guntur.1992. Menulis : Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa

Wibowo, Wahyu.2001. Manajemen Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

2 komentar:

Unknown mengatakan...

menulisb itu gegiatan berbahasa,tapi bagaimana dengan sastra ?
dan bagaimana dengan lambang sastra itu sendiri..?

IMAM SUHAIRI mengatakan...

makasih koreksinya