Sabtu, 31 Desember 2011

DAMAI PARA WALI (CATATAN ZIARAH WALI DI AKHIR TAHUN)

Oleh
Imam Suhairi,M.Pd





أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
Artinya: Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Alloh tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, (Yaitu mereka) adalah orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa(Yunus, 62-63)
Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia berarti menyatakan perang terhadap-Ku (Hadis Qudsi).

Mungkin kita bertanya, untuk apa membahas tentang Wali, sesuatu yang gaib dan di luar nalar logika normal. Tetapi sejak awal bagi saya sangat menarik. Ada banyak makam yang dianggap Wali di negeri ini. Orang-orang yang dekat dengan Allah semasa hidupnya. Kini, setelah wafat, mendapat sambutan luar biasa dari umat untuk mendoakannya melalui ziarah yang dilakoni. KH Soleh Darat pernah berkata, salah satu tanda kewalian seseorang adalah banyaknya orang yang berziarah ke kuburnya setelah meninggal dunia

Penulis sendiri termasuk yang sering melakukan ritual ziarah ke makam para wali yang ada di sekitar kota Sumenep. Rata-rata makam yang dikunjungi tidak pernah lekang dari peziarah. Mereka datang silih berganti, bersimpuh di samping makamnya. Meskipun ada yang mengatakan lakon ini adalah bidah dholalah, tapi tradisi ini benar mengakar dalam masyarakat.

Seperti yang dikatakan dalam awal tulisan ini, karena Wali Allah dijaga Allah. Ruh mereka suci dan damai, membuat peziarah minimal akan merasakan ketenangan dan kedamaian hati.

Ziarah Gus Dur dan Sunan Ampel
Penulis meluncur ke Tebuireng Jombang, tempat makam Gus DUr. Makam yang menurut berita mampu menyedot setidaknya 2000 para peziarah tiap hari. Ada rasa hanyut bagi penulis, mengenang perjuangan Gus Dur. Damai bersama Gus DUr, tidak hanya bagi peziarah juga munculnya pedagang kaki lima yang memadati berjejer di gang menuju makam Gus Dur.

Begitu pula di komples pemakaman Sunan Ampel. Ratusan peziarah berdatangan, silih berganti, tiada putus.Rasa Agung yang luar biasa, Allah telah menganugerahkan kemuliaannya bagi hamba-hambanya yang beriman. Ada rasa betah untuk berlama-lama di dekat makam Sunan Ampel, damai hati ini....

Begitu pula dengan makam Syaichona Cholil Bangkalan, ratusan dan ribuan peziarah terus tiada putus berdoa di dekat makam beliau. Bahkan di kompleks pemakaman Syechona Cholil, terdapat swalayan yang dibangun. Karomah yang dianugerahkan pada Syaichona Cholil seakan menembus jantung untuk selalu mendekat. Salam dan Fatihah untuk Gus Dur, KH Hasyim Asyari, Sunan Ampel dan Syaichona Cholil...

Rabu, 30 November 2011

DATA ONLINE SERTIFIKASI GURU 2012 BANYAK YANG SALAH DAN DIKOMPLAIN; SALAH SIAPA?

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan perubahan sistem lagi dalam sertifikasi tahun 2012. Sejumlah nama nampak dipublilkasikan sebagai calon peserta sertifikasi 2012. Untuk Kabupaten Sumenep Jawa Timur misalnya, lebih dari 1600 guru yang terdata secara online. Namun, malah menuai masalah. Ada beberapa guru yang tidak terdata meskipun ia secara usia, masa kerja dan golongan layak. Sementara ada yang sebenarnya tidak layak, malah masuk data.

Penulis sendiri mencari nama-nama yang seangkatan dengan penulis  pada waktu diangkat sebagai pegawai negeri sipil, nyaris tidak ada.Tapi ternyata ada dua orang nama yang masuk. Nama penulis dan teman-teman seangkatan banyak yang tidak terdata. Anehnya, dua rekan seangkatan penulis tersebut, berubah masa  kerjanya menjadi 8 tahun 11 bulan, semestinya 6 tahun lebih dikit sampai 2012. Bahkan ada komplain yang masa kerja lebih lama di salah satu SMA di Sumenep tidak masuk data online. Yang aneh lagi ada teman penulis yang telah lulus sertifikasi 2010, namanya masih tercantum jelas di data calon sertifikasi 2012. Dengan sedikit resah, penulis mengajak rekan seangkatan menanyakan ke bagian ketenagaan DIKNAS Sumenep. Jawabannya hambar, mulai dari tidak serius, sampai kata-kata sabar karena semua guru akan tersertifikasi sampai 2013. Ia bilang data itu, pusat yang menentukan.

Penulis sendiri bertanya-tanya, akhirnya dapat info dari teman di TEGAL Jawa Tengah, bahwa ada banyak guru di sana yang komplain ke pusat (jakarta), namun malah jawabannya itu yang mendata Kabupaten Kota, pusat hanya menetapkan saja. Kalau mau komplain ya ke DIKNAS Kabupaten Kota.

Sekarang penulis jadi bingung, mau mengadu pada siapa? ini salah siapa?

Ini data rekan penulis yang masih terdata, atas nama R Hairul Anwar SMAN 1 Lenteng, padahal ia telah terima cairan tunjangan tahun ini.....ANEH

Daftar Bakal Calon Peserta Sertifikasi Guru 2012

KAB. SUMENEP (1.656 orang)

NoNUPTKNamaSekolahUsia (thbl)Masa Kerja (thbl)GolonganPendidikan
12213438753655300023JUHARIYAHSMA YAYASAN ABDULLAH 36_0606_05NON PNSS1
12225945753655200032Taufik HasanSD N BILIS-BILIS IV36_0608_06II/CS1
12239947753655300022RABIATONSMP N 1 ARJASA36_0612_04III/BS1
12244949753655200012AHMADSMA N 1 MASALEMBU36_0608_11III/AS1
12255951753655300022SUCI HARTATIKSMP N 6 SUMENEP36_0608_11III/BS1
12263739753654200022SudarsonoSMK BINA MANDIRI36_0517_11NON PNSS1
12279042753655200043Farida HariyaniSD N Banaresep Barat36_0513_02III/AS1
12288059753658200003MOH FAIZISMA 3 AN NUQAYAH36_0510_05NON PNSS2
12290148753655200053Mohammad SalehormanSD N Pangarangan III36_0412_11III/BS2
12301150753655300073FaridatunSD N LOBUK III36_0413_11III/BS1
12310154753654200023BuraiSD N SLOPENG I36_0412_01III/AS1
12324247753656300013HERMIN WIDYAWATI SSMA MUHAMMADIYAH 1 SUMENEP36_0314_05NON PNSS1
12337247753654200013R.HAIRUL ANWARSMA N 1 LENTENG36_0311_11III/AS1
12347249753656300013AzizahSD N BANCAMARA I36_0311_07III/AS1
12358259753655200013HADI PRAYITNOSMA YAYASAN ABDULLAH 36_0306_11NON PNSS1
12360334753655300053IstifadhahTK AR RAHMAH36_0210_05NON PNSS1
12378542753654300072NafisahTK AL MUZHFARIYAH36_0209_05NON PNSS1
12382642751655200012DamiriSD N GELAMAN II36_0212_01III/BS1
12395349753655200033Abd SukkurSD N BILIS-BILIS IV36_0212_11III/BS1
12409543753654300012YUNESTI UMMI KULSYUMSMP N 1 SAPEKEN36_0111_11III/BS1
Catatan : Masa Kerja dan Usia per 1 Januari 2012

Minggu, 13 November 2011

Menuang Air di Era Platinum, Mungkinkah?

Oleh
Imam Suhairi,M.Pd


Mungkin kita tidak sempat lagi merenungkan kehidupan karena tenggelam dalam hidup yang sesak. Aktivitas keseharian di era kini menuntut banyak hal untuk berpacu (pikiran, nafsu, dan hati) terus mengiringi sang penuntut, yakni zaman (perubahan). Pikiran, hati, dan nafsu satu suara melangkahkan diri untuk mencapai tuntutan. Pikiran tegak lurus untuk merangkai keinginan, disertai nafsu yang terus menerus memberi semangat bagi hati untuk mengubah haluan tujuannya. 

Intinya, kehidupan kita telah dilupakan oleh hidup. Arus teknologi di segala bidang semakin menjustifikasi arah kita. Teknologi harus benar-benar menjadi raja bagi diri kita. Saya mengibaratkan era teknologi dengan era platinum. sebuah era baru yang menuntut manusia di belahan bumi ini, untuk selalu bersinergi dengan keinginan teknologi. Karena kalau tidak maka akan mati dalam kehidupannya. 

Era platinum, sebagai era logam mulia (yang dianggap mulia dan terhormat) bagi yang mencapainya, telah mereorientasi pola pikir, pola laku, dan pola tujuan hidup manusia. Maka sangat wajar apabila antar manusia akan terjadi "clash" untuk saling berebut platinum itu. Arus platinum telah membawa manusia dan kita menuju puncak kehidupan "saling bergerak, saling berkompetisi, saling bertarung, saling un-humanis guna sampai pada hamparan platinum.

Sementara air,  saya ibaratkan sebagai hamparan kesejukan yang dapat membasahi akal pikiran dan hati manusia untuk memantulkan kembali aura sumber kehidupan. Karena sumber kehidupan sebenarnya ada pada air.  kita telah melupakan air, karena sibuk memikirkan platinum. Air dipahami hanya sebagai benda yang dapat menghilangkan kehausan. Air dianggap tidak bermakna dan ketinggalan zaman.

Hamparan kesejukan dengan air (nilai-nilai ilahiyah) dapat merestorasi pola hidup, pola pikir dan hati manusia yang telah terlanjur pekat akibat dibakar pantulan platinum. Air dapat mengalirkan kesejukan pada ruhani yang terkikis tak bermakna. 

Lalu dimanakah kita bisa beroleh air dan menuangkannya?

Air ada di alam ini, air ada di hati para shalihin, air ada di jamiyah zikir, air ada di jalan-jalan para pejalan menuju Ilahi.




Minggu, 10 Juli 2011

Menggunjing, Kemarahan dan Kedunguan (Nasihat Sayidina Ali Karromallah Wajha

  1. Menggunjing adalah ladang orang-orang tercela.
  2. Orang yang mendengarkan gunjingan termasuk salah satu di antara orang-orang yang menggunjing itu.
  3. Menggunjing adalah usaha orang yang lemah.
  4. Gunjingan adalah celaan batiniah.
  5. Barangsiapa yang melihat aib dirinya sendiri, maka dia tidak akan mengurusi orang-orang lain.
  6. Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib dirinya sendiri daripada mengurusi aib-aib orang banyak.
  7. Wahai hamba Allah, janganlah engkau tergesa-gesa mencela seseorang karena dosanya, karena barangkali dosa orang itu diampuni. Dan janganlah engkau merasa aman atas dirimu karena dosa kecil yang telah engkau lakukan karena barangkali engkau akan diazab karenanya. Oleh karena itu, siapa saja di antara kalian yang mengetahui aib orang lain, hendaklah dia menahan diri dan mencelanya karena dia mengetahui aib dirinya sendiri. Dan hendaklah dia menyibukkan diri dengan bersyukur atas kesehatan yang dikaruniakanNya kepada dirinya, sementara orang lain diuji dengannya (penyakit).
  8. Tukang fitnah adalah anak panah yang membunuh.
  9. Tukang fitnah adalah jembatan kejahatan.
  10. Permulaan marah adalah kegilaan, sedangkan akhirnya adalah penyesalan.
  11. Janganlah kemarahan mendorongmu berbuat dosa karena ia hanya menyembuhkan kemarahanmu, sementara engkau telah menjadikan agamamu sakit.
  12. Hati-hatilah terhadap orang yang sengaja membuatmu marah! Karena kemarahan mematikan aktivitas berpikir dan menolak pembuktian.
  13. Sedikit marah sudah terlalu banyak dalam mennyusahkan jiwa dan akal.
  14. Kemarahan mengobarkan dendam yang terpendam.
  15. Tidak akan mempan kekuatan marah jika berhadapan dengan kehinaan meminta maaf.
  16. Janganlah mengambil keputusan ketika engkau dalam keadaan marah.
  17. Sisakanlah ruang untuk ridhamu dan ruang kemarahanmu; dan jika engkau terbang, hinggaplah di tempat yang dekat (cepat-cepatlah).
  18. Kemarahan orang bijak terletak pada perbuatannya, sedangkan kemarahan orang jahil pada ucapannya.
  19. Lidah orang bijak di belakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya.
  20. Sefakir-fakir kefakiran adalah kedunguan.
  21. Janganlah engkau bersahabat dengan orang dungu karena sesungguhnya dia membagus-baguskan perbuatannya dan dia ingin agar engkau menjadi sepertinya.
  22. Barangsiapa yang melihat aib-aib orang banyak dan dia mengingkarinya, tetapi dia rela aib-aib itu ada pada dirinya sendiri, maka itulah kedunguan sejati.
  23. Adab di sisi orang dungu seperti air tawar dalam akar tumbuhan peria, setiap kali bertambah airnya bertambah pula pahitnya.
  24. Jika orang dungu berbicara, kacau bicaranya; jika bercerita, dia tergesa-gesa; dan jika disuruh untuk melakukan perbuatan yang buruk, dia akan melakukannya.
  25. Jika orang dungu berbicara dengan satu kalimat, maka dia akan mengikutkannya dengan sumpah.
  26. Janganlah engkau menjadikan orang dungu sebagai saudaramu karena sesungguhnya dia berusaha dengan keras demi kepentinganmu, tetapi dia tidak akan mendatangkan kemanfaatan bagimu. Ada kalanya dia ingin memberikan manfaat kepadamu, tetapi dia justru merugikanmu. Maka, diamnya orang dungu lebih baik daripada kesupelannya, jauhnya lebih baik daripada dekatnya, dan kematiannya lebih baik daripada kehidupannya.
  27. Sesungguhnya seseorang mengetahui hakikat suatu urusan, tetapi dia menjauhkan diri darinya, maka dia adalah benar-benar orang yang dungu. Dan sesungguhnya seseorang tidak mengetahui hakikat suatu urusan, padahal urusan itu sangat jelas, maka dia benar-benar bodoh.

Kamis, 09 Juni 2011

TERTIPU KETAATAN

“Kalau bukan karena indahnya tutupnya Allah swt, maka tak satu pun amal diterima.”Kenapa demikian? Sebab nafsu manusia senantiasa kontra dengan kebajikan, oleh sebab itu jika mempekerjakan nafsu, haruslah dikekang dari sifat atau karakter aslinya.
Dalam firmanNya: “Siapa yang yang menjaga nafsunya, maka mereka itulah orang-orang yang menang dan bahagia.”(Al-Hasyr 9)

Nafsu, ketika masuk dalam kinerja amaliah, sedangkan nafsu itu dasarnya adalah cacat, maka yang terproduksi nafsu dalam beramal senantiasa cacat pula. Kalau toh dinilai sempurna, nafsu masih terus meminta imbal balik, dan menginginkan tujuan tertentu, sedangkan amal itu inginnya malah ikhlas. Jadi seandainya sebuah amal diterima semata-mata bukan karena amal ansikh, tetapi karena karunia Allah Ta’ala pada hambaNya, bukan karena amalnya.

Abu Abdullah al-Qurasyi ra mengatakan, “Seandainya Allah menuntu ikhlas, maka semua amal mereka sirna. Bila amal mereka sirna, rasa butuhnya kepada Allah Ta’ala semakin bertambah, lalu mereka pun melakukan pembebasan dari segala hal selain Allah swt, apakah berupa kepentingan mereka atau sesuatu yang diinginkan mereka.”

Oleh sebab itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
“Anda lebih butuh belas kasihan Allah swt, ketika anda sedang melakukian taat, dibanding rasa butuh belas kasihNya ketika anda melakukan maksiat.” Kebanyakan manusia memohon belas kasihan kepada Allah Ta’ala justru ketika ia menghadapi maksiat, dan merasa aman ketika bisa melakukan taat ubudiyah. Padahal justru yang lebih dibutuhkan manusia adalah Belas Kasih Allah ketika sedang taat. Karena ketika sedang taat, para hamba sangat rawan “taat nafsu”, akhirnya seseorang terjebak dalam ghurur, atau tipudaya dibalik amaliyahnya sendiri.

Rasulullah saw, bersabda:
“Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi dari para NabiNya: “Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang tergolong shiddiqun, jangan sampai mereka tertimpa tipudaya. Sebab Aku, bila menegakkan keadilanKu dan kepastian hukumKu kepada mereka, Aku akan menyiksa mereka, tanpa sedikit pun aku menzalimi mereka. Dan katakanlah kepada hambaKu yang ahli dosa, janganlah mereka berputus asa, sebab tak ada dosa besar bagiKu manakala Aku mengampuninya.”

Bahkan Abu Yazid al-bisthami ra mengatakan: “Taubat dari maksiat bisa sekali selesai, tetapi taubat karena taat bisa seribu kali pertaubatan.”
Mengapa kita harus lebih waspada munculnya dosa dibalik taat? Karena nafsu dibalik maksiat itu jelas arahnya, namun nafsu dibalik taat sangat lembut dan tersembunyi.
Diantara nafsu dibalik taat yang menimbulkan dosa dan hijab antara lain:
1. Mengandalkan amal ibadahnya, lupa kepada Sang Pencipta amal.
2. Bangga atas prestasi amalnya, lupa bahwa yang menggerakkan amal itu bukan dirinya, tetapi Allah swt.
3. Selalu mengungkit ganti rugi, dan banyak tuntutan dibalik amalnya.
4. Mencari keistemewaan amal, hikmah dibalik amal, lupa pada tujuan amalnya.
5. Merasa lebih baik dan lebih hebat dibanding orang yang belum melakukan amaliyah seperti dirinya.
6. Seseorang akan kehilangan kehambaannya, karena merasa paling banyak amalnya.
7. Iblis La’natullah terjebak dalam tipudayanya sendiri, karena merasa paling hebat amal ibadahnya.
8. Menjadi sombong, karena ia berbeda dengan umunya orang.
9. Yang diinginkan adalah karomah-karomah amal.
10. Ketika amalnya diotolak ia merasa amalnya diterima. (kITAB aL-hIKAM)

Rabu, 08 Juni 2011

Abu Nawas dan Syair Ilahilas

Ilahi, lastu lilfirdausi ahla. Wala aqwa ‘ala naril jahimi, Fahab li tawbatan waghfir dzunubi. Fainaka ghafirud dzanbil adzimi

Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Maka berilah hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba.
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung

Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.
Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).



Selain cerdik, Abu Nawas juga dikenal dengan kenyentrikkannya. Sebagai penyair, mula-mula ia suka mabuk. Belakangan, dalam perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah dan kehidupan sejati, ia menemukan kehidupan rohaniahnya yang sejati meski penuh liku dan sangat mengharukan. Setelah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.
Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.
Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti - yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nuwas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di Wina, Austria (1885), di Greifswald (1861), di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), Bombay, India (1312 H/1894 M). Beberapa manuskrip puisinya tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul.
Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menejelang sakaratulmautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. “Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama.”
Tentu ini hanyalah sebuah lelucon, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa.

Minggu, 29 Mei 2011

Kisah Inspiratif : Mahaguru dan Nelayan

Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon. Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?" Sang nelayan menjawab, "ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba." "Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut. "Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."

Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.

Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.

Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, "apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?" "Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya." Jawab sang nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya sang nelayan. Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang.

Sang nelayan kemudian berkata, "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki." Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.

Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan.

Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul. Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja. Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan. Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru.

Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan. Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu. Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain.

Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain. Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya. Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering? ========================================== Sumber artikel, dari buku: Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press

Rabu, 23 Maret 2011

Membangun Karakter Anak Melalui Tradisi“ Toron Tana “

Membangun Karakter Anak Melalui Tradisi“ Toron Tana “

Oleh 
Imam Suhairi 
Salah satu yang tak terlupakan dan terpatri serta wajib dilaksanakan oleh masyarakat Madura (khususnya Sumenep) adalah tradisi “toron tana”. Tradisi ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Madura dengan coraknya tersendiri. Sebagai salah satu penanda tradisi, “toron tana” memiliki kekhas-an tersendiri. 
Hal ini nampak dari motivasi dan pelaksanaannya. Tradisi “toron tana” atau turun ke tanah/menapaki tanah dilakukan menandai usia tujuh bulan pada seorang bayi.

Sesuai namanya turun ke tanah, saat itulah bayi dilambangkan untuk pertama kalinya menginjak tanah yang sebelumnya terus digendong. Tradisi ini digelar sebagai bentuk harapan agar kelak anak bisa menjadi orang yang berguna. Setidaknya menurut penulis, para orang tua telah menyimbolkan upaya membangun karakter yang baik dan luhur bagi anaknya. 

Kita bisa melihat dalam prosesinya, awalnya bayi dimandikan terlebih dulu. Sedangkan tamu - tamu yang diundang dalam tradisi ini adalah biasanya anak – anak semua. Hal ini dilakukan agar dalam proses turun ke tanah (toron tana) si anak/bayi dalam keadaan bersih lahir batin. Toron tana (turun tanah) dilambangkan awal bayi menginjak bumi yang dapat diartikan awal interaksi dengan lingkungan keduniaanya. Oleh karena itu sang bayi harus “edudus (dimandikan) dulu biar niatnya bersih. Setelah itu tokoh agama/masyarakat terdekat dimintai tolong untuk membacakan zikir dan doa bersama yang diikuti orang tua dan yang hadir. Ini bisa dimaknai, bahwa dalam proses mengarungi kehidupan anak manusia, tidak boleh lepas dari do’a kepada Allah selain ikhtiar yang telah dilakukan.

Prosesi berikutnya, bayi disuruh mengambil barang-barang yang telah disediakan didepannya yang biasanya diletakkan dalam nampan, seperti : buku, pulpen, tasbih, Al Qur'an, biji-bijian seperti kacang tanah, beras, jagung, uang dan lain-lain. agar kelak anak menjadi rajin, pintar dan tumbuh menjadi anak yang sholeh. Anak biasanya mengambil barang yang di hadapannya. Inilah puncaknya, yang menjadi pusat perhatian. Semua hadirin mengamati apa yang diambil sang bayi. Tidak jarang yang diambil oleh bayi, menjadi bahan kegembiraan dengan tertawa lebar. Ada yang mengatakan, apa yang dipegang bayi diyakini nanti akan disenanginya. Seperti mengambil Al-Qura’n, maka ia kelak akan menyenangi ilmu agama, kalau mengambil biji-bijian (beras, jagung,kacang), ia akan menyenangi bercocok tanam. Kalau ia mengambil buku dan bulpen kemungkinan ia kalau telah dewasa akan menjadi pembelajar yang pinter dan bekerja di kantoran. 

Proses ritual selanjutnya adalah menginjak bubur. Hal ini memiliki makna tersendiri agar kaki sang bayi kuat dan kokoh saat berjalan serta memiliki pijakan hidup yang kuat. Selanjutya bayi menyentuh tanah serta bermain dengan anak - anak sebayanya ditandai dengan makan bubur bersama. Diakhir acara, anak - anak ini diberi sentuhan sapu lidi dengan harapan anak tidak nakal dan patuh terhadap orangtua. Begitulah prosesi tradisi yang penuh dengan nilai luhur dan pemaknaan hidup yang dalam bagi kehidupan. Semoga tradisi tetap lestari dalam kehidupan kita sebagai simbol dan seperangkat nilai luhur yang kita miliki.

(Tulisan ini menjadi Pemenang Pertama Lomba Esai Budaya Kongkow Bareng Gus Dur online 2010)

Sabtu, 05 Februari 2011

PANTAI LOMBANG, NASIBMU KINI?

Wisata pantai Lombang terletak di ujung timur pulau Madura. Dari Kota Sumenep, untuk sampai ke lokasi pantai harus ditempuh jarak 30 km ke arah timur daya. Pantai yang dipenuhi cemara udang tersebut memang cukup jauh dari keramaian kota. Transportasi pun yang langsung menuju ke lokasi pantai bisa dikatakan tidak ada. Tapi harus “ calter” colt jenis L300, yang bisa mencapai 75-100 ribu sampai lokasi.

Pantai wisata lombang adalah salah satu aset wisata andalan Sumenep pra dan pasca suramadu. Selain banyak dikunjungi para pelancong dari domestik, juga mancanegara. Pantai lombang memang menyuguhkan hal yang tidak ditemukan di pantai pantai lain di nusantara, selain ditumbuhi pohon cemara udang yang besar-besar dan rindang, juga pasir putihnya yang bersih dan menawan. Ombak juga tidak terlalu besar, sehingga pengunjung bisa bebas mandi di pantai. Pantai ini menjadi idola pada saat pesta hari raya kupatan/ketupat, tepat tujuh hari idul fitri. Ribuan pengunjung akan memadati pantai untuk merayakan hari raya ketupat bersama keluarganya.

Tentu, hasil retribusi pengunjung menyumbangkan PAD bagi daerah. Pasca Suramadu, objek wisata ini dalam desain plan-nya akan dilengkapi berbagai fasilitas yang membuat nyaman pengunjung, khususnya dari luar daerah. Hotel dan penginapan akses transportasi langsung ke tempat wisata. Bahkan, bandar udara trunojoyo Sumenep, direncanakan dioperasionalkan untuk penerbangan domestik. Di yakini, wisata pantai lombang akan menjadi salah primadona bagi pelancong luar negeri maupun domestik selain beberapa referensi tujuan wisata di jatim lain, kayak bromo, dan Bali.

 Buah Konflik Harapan boleh saja tinggi, tapi kini menemui jalan buntu. Lahan pantai yang telah bertahun-tahun sejak orde baru aset wisata Sumenep, menuai konflik. Tanah yang dijadikan lahan wisata di-klaim beberapa warga. Mereka merasa bayar pajak dengan SPPT yang mereka pegang. Sementara Pemerintah Kabupaten justru tiba-tiba menunjukkan akta kepemilikan, bahwa tanah wisata tersebut adalah milik pemerintah kabupaten. Jalur hukum pun menjadi solusi bersama. Seperti yang banyak diperkirakan, Pemkab memenangkan persidangan, meskipun tiap kali sidang mendapat “ presure” dari warga di pengadilan. Warga yang merasa didholimi tetap tidak terima, mereka menyatakan banding atas keputusan pengadilan. Bahkan tidak berhenti di situ, warga memagari dan menutup sementara akses masuk menuju pantai wisata Lombang. Aktivitas wisata di pantai Lombang pun berhenti total.

Perkembangan berikutnya, pantai dibuka sebebas-bebasnya untuk pengunjung tanpa tiket masuk. Namun patok tanah dan pagar klaim warga atas tanah di pantai tetap berlangsung. Puncaknya ketika hari raya ketupat kemarin (2009 dan 2010), tidak ada aktivitas pesta rakyat. Tidak ada investor/even organizer yang mengelola kegiatan pesta tahunan rakyat tersebut. Makin Rumit dan Aneh Kini, Pantai Lombang makin aneh. Menurut laporan dari teman saya yang berkunjung ke sana pada waktu liburan sekolah kemarin, pengelolaannya makin runyam. “ bayangkan mas, pas saya dengan keluarga masuk dengan mobil ke lokasi, dimintai tiket Rp. 3000,- tiap pengunjung, karena ada 10 orang, yang bayar 30.000 (tiga puluh ribu). Setelah memasuki area pantai, tiba-tiba ada yang menyodorkan tiket lagi,dengan harga tiket yang sama Rp. 3000,-, saya kaget,” cerita teman saya. “ lho, tadi sudah bayar Pak, di luar”, kata teman saya. “iya Pak, disana itu milik kepala desa, tapi di pantai ini, tanahnya milik Bos saya (haji fulan), jadi ya harus bayar lagi,” desak orang itu. “ ooo, gak mau saya bayar lagi” tolak teman saya. “ kalau begitu sampeyan dan rombongan harus pindah dari pantai ini, keluar area pantai ini,” dia mengusir.

Akhirnya teman saya pindah ke luar area utama pantai, ke pantai sebelahnya. Yang paling aneh lagi, saudara teman saya yang kebelet mau buang air besar di toilet yang memang dibangun sebelumnya oleh Pemkab, malah diusir oleh petugas tadi. “ gak boleh Pak,karena Bapak tidak bayar mulai awal,” sergahnya. “ tapi saya sekarang saya mau bayar, disamping nanti bayar biaya toilet,” kata saudara teman saya. “ tetap tidak boleh,” kata petugas yang mungkin dibayar oleh yang mengklaim pemilik tanah wisata itu. Akhirnya teman saya pulang masih menimbulkan tanda tanya dalam hati, kok aneh, udah bayar, disuruh bayar lagi. Yang paling aneh orang mau buang air kok dilarang, kan yang membangun itu pemerintah, sambil menggeleng-gelengkan kepala

Nasib Pantaiku? Para insan parawisata akan mengernyutkan dahi, bila membaca dan melihat fenomena ini semua. Sampai sekarang belum ada langkah apapun untuk menyelamatkan dan membuat solusi bagi keberlangsungan pantai wisata Lombang Sumenep itu. Pemkab bergeming, mungkin untuk menghindari konflik yang makin parah.

Menurut hemat saya, persoalannya adalah selama bertahun-tahun masyarakat sekitar tempat wisata mungkin tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan wisata pantai yang menjadi primadona Kabupaten Sumenep itu. Pasca kebebasan, mereka berteriak sekencang-kencangnya menuntut ketimpangan ini. Padahal dulu, orde baru tak ada riak apapun. Menurut salah satu pengakuan warga, dulu mereka takut untuk nuntut, karena nyawanya bisa terancam. Kini mereka bertekad untuk berjuang demi haknya. Kalau hal ini hanya dibiarkan menggantung citra pariwisata kita akan runyam, yang bisa aja terjadi di daerah lain suatu saat. Wisata yang tidak ramah lingkungan masyarakat sekitar atau sebutan apapun yang pas. Sepertinya, ranah hukum bukan semata-mata solusi, masyarakat yang mengklaim akan terus berontak meskipun mereka kalah atau menang. Apalagi mereka telah “ tidak percaya” pada produk peradilan kita, apa tidak makin runyam. Barangkali diperlukan kearifan semua pihak, mulai dari pimpinan daerah dan tokoh-tokoh masyarakat, masyarakat sekitar pantai, dan yang mengklaim tanah tersebut untuk bermusyawarah bersama. Pemkab bisa saja hanya sebagai fasilitator (pemegang stempel) kebijakan pariwisata, pengelolanya pasrahkan pada desa dan yang mengklaim tanah, ada dewan pengawas yang terdiri para tokoh masyarakat yang peduli. Atau mungkin ada rekomendasi lain yang lebih cerdas dari pembaca?monggo share…