Selasa, 21 Desember 2010

Membelajarkan Antikorupsi Berbasis Lingkungan

Oleh Imam Suhairi,S.Pd

Kita menjadi bangsa yang hampir kehilangan wibawa. Di luar negeri, kasus-kasus yang menimpa para TKI kita di sejumlah negara yang terus terjadi. Di dalam negeri, selain disibukkan dengan penanganan korban bencana alam, konflik antar elit politik yang tidak mencerahkan, korupsi yang semakin membingungkan penanganannya karena melibatkan semua pihak dan level. Menyitir pernyataan Ahmad Gojali Harahap, PBNU (2003) bahwa negeri ini telah menyerupai negeri “ democratic corruption”. Korupsi yang tidak hanya menyentuh level elit pemerintahan, tetapi juga kesepakatan korup yang justru merambah pada level kaum menengah (lembaga-lembaga masyarakat) dan level terbawah (masyarakat biasa).

Berbagai cara yang dianggap efektif dalam upaya pemberantasan korupsi dilakukan. Mulai optimalisasi fungsi lembaga penegak hukum, sampai pada keterlibatan NGO (Non Government Organization) semacam NU dan Muhammadiyah serta LSM untuk ikut menyuarakan antikorupsi. Di bidang pendidikan diprogramkan pendidikan antikorupsi pada siswa di sekolah-sekolah. Pendidikan antikorupsi mempunyai kepentingan jangka panjang. Terwujudnya generasi yang bersih, tidak korup dan beradab. Rencananya, pendidikan antikorupsi akan serentak dilaksanakan pada tahun 2011. Berbagai modul dan buku panduan pendidikan antikorupsi diterbitkan kerjasama antara KPK dan Kementerian Pendidikan Nasional. Sekolah diberi kewenangan penuh untuk mengeksplorasi dan mengembangkan nilai-nilai pendidikan antikorupsi di sekolahnya masing-masing.

*** 
Hakikatnya, sekolah telah melakukan upaya menanamkan sejumlah nilai-nilai yang sejalan dengan kepentingan tersebut. Nilai-nilai yang ada di sekolah dan lingkungan sekolah secara tidak sadar, telah ikut membentuk karakter pembelajar. Bahkan, alam sekitar juga menjadi sumber yang dominan bagi proses pembentukan kepribadian anak didik. Guru bisa meminta siswa mengamati cara hidup dan perilaku penduduk yang bernilai kejujuran, jiwa sosial yang tinggi, dan sederhana. Menghormati dan menjamu setiap tamu dengan ikhlas meskipun seadanya. Hidup dengan penuh semangat kegotongroyongan yang masih kental dalam setiap kesempatan.

Dalam konteks ini, siswa bisa dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sosial di desa dan kampungnya. Siswa dimungkinkan untuk mengadakan kas sosial kelas yang pengelolaannya dilakukan secara jujur. Selain itu siswa juga diajak untuk berdiskusi, tentang penyimpangan dan efeknya yang ada dalam masyarakat sekitar. Seperti adanya tindak kekerasan (perkelahian), pencurian, dan orang yang tidak suka bergotong-royong serta perilaku menyimpang lainnya. Sejumlah fenomena sosial yang terdapat dalam lingkungan sekitar sekolah menjadi laboratorium sekaligus tempat belajar siswa yang menyenangkan. Lingkungan menjadi sumber inspirasi bagi penemuan kembali jati diri siswa yang selama ini mungkin “tergerus” oleh konstruksi pengetahuan dari barat. Lingkungan dan alam sekitar, ternyata menjadi sumber seperangkat nilai yang dapat dikembangkan bagi kepentingan kepribadian anak didik yang beradab, berbudaya, dan lebih-lebih antikorupsi. Semoga!

Minggu, 26 September 2010

Sejatinya Reuni

Oleh Imam Suhairi Reuni banyak dipahami sebagai aktivitas berkumpul beberapa orang setelah lama berpisah yang sebelumnya punya keterikatan baik sosial maupun emosional. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2008) dimaknai pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama. Reuni dianggap saluran yang tepat untuk melepas kangen dan rindu. Reuni juga mampu me-refresh dari dunia kepenatan menuju situasi yang enjoy, menarik, dan ada gairah kembali. Ia dianggap sebagai silaturrahmi massal yang mudah dan murah. Reuni telah menjadi salah satu simbol tradisi dalam lingkungan masyarakat kita yang heterogen. Momentum lebaran menjadi waktu yang tepat untuk mengadakan acara reuni. Alasan utamanya, saat lebaran para perantau tengah mudik ke kampung halamannya. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dengan tradisi mudik lebaran yang tetap bercokol kuat di masyarakat kita. Dengan mengumpulkan teman saat sekolah atau kuliah, rekan seperjuangan dulu, dan keluarga besar diharapkan tercipta suasana segar dan harmoni kembali. Mengingat kembali kenangan masa silam antar teman, bercengkrama dengan bebas penuh energik. Ada suasana seperti dulu saat berkumpul satu sekolah/kampus,, meskipun kini diliputi kesibukan aktivitas dan status sosial sendiri-sendiri. Hal itulah yang menginspirasi berbagai kalangan, untuk menyelenggarakan kegiatan reuni. Seperti halnya para alumni sebuah SMA Negeri di Sumenep yang mengadakan reuni bagi alumninya semua angkatan dengan label memanfaatkan lima puluh tahun usia sekolah tersebut. Kegiatan ini juga merebak di berbagai kota di Jawa timur seiring momentum lebaran tahun ini. Paling sederhana, reuni diformat dalam bentuk pertemuan di gedung sederhana atau mungkin hanya di rumah teman lama yang diisi ramah tamah. Tetapi ada juga yang dikemas dalam bentuk reuni akbar yang melibatkan alumni dari semua angkatan satu sekolah. Kegiatannya pun bisa beraneka macam, tidak cukup satu hari. Seperti contoh reuni akbar lima puluh tahun SMA Negeri Sumenep, yang merangkai kegiatannya sejak awal puasa kemarin. Mulai dari tadarus, pengajian, pertemuan terbatas, bakti sosial, sholat id, sampai pada puncaknya pertemuan yang digelar secara massal di sebuah stadion olahraga. Bagaimanapun formatnya, tanpa disadari, kegiatan reuni telah mampu memoles kemeriahan nuansa lebaran. Ia telah mengejewantahkan potensi kedirian tenggelam pada dimensi sosial yang lebih luas. Aktivitas keluarga lebur ke dalam kebersamaan selama pelaksanaan reuni. Ada rasa bangga bersama dan berinteraksi kembali dengan relasi yang telah lama tidak bertemu. Tidak sekedar bercengkerama, tetapi ada rasa bersatunya kembali hati dan pikiran secara massal. Autokritik Namun kalau kita cermati, ada beberapa nilai terlupakan yang menandai di tengah kemeriahan artifisial itu. Yang dominan kemudian reuni hanya terkesan ajang kumpul-kumpul yang sifatnya pragmatis. Reuni tidak lebih sekedar berorientasi mengumpulkan teman lama untuk mengenang masa-masa lalu, makan-makan kemudian bubar. Reuni hanya berbekas sesaat tanpa menghadirkan makna yang lebih strategis. Lebih ekstrim, justru jadi ajang “kedirian”. Unjuk diri atas keberhasilan profesi yang ditekuni, pamer apa yang dimiliki pada teman lama, dan performa yang berlebih yang ditunjukkan kepada khalayak. Reuni justru semakin memperlebar diskriminasi sosial. Bingkai kebersamaan yang diharapkan tergadaikan dengan kungkungan elitisme reuni. Sebagian imaje yang berkembang pelaksanaan reuni jadi ajang cari untung. Sebelum pelaksanaan puncak acara reuni, panitia intensif melakukan penggalangan dana kemana-mana. Undangan yang disebar bukan tidak bernilai, tetapi peserta harus membayar sejumlah uang, sekaligus sebagai tiket untuk mengikuti acara. Tidak mengherankan, panitia juga membuka rekening khusus untuk mempermudah bagi donatur. Kalau pelaksanaan reuni sederhana, hanya beberapa orang, mungkin tidak terasa untungnya. Tetapi acara reuni yang melibatkan ribuan orang, pengadaan perlengkapan sampai konsumsi bisa bernilai proyek. Itulah yang muncul di sebagian peserta. Yang menyertai selanjutnya adalah reuni yang tidak peka sosial. Sebatas hanya kegiatan kelompok tertentu yang jauh dari dampak sosial yang lebih besar. Kita justru terjebak pada egoisme kelompok. Lupa pada “ fenomena dan masalah sosial” di luar yang semestinya justru harus mendapat peran prioritas. Tak ada efek sosial yang menyertainya kecuali hanya bersifat gerombolan (berkumpulnya seseorang sesaat tanpa keterikatan dan keberlanjutan). Reuni pada akhirnya adalah kegiatan informal yang tidak ada rencana tindak lanjut. Membangun Kebermaknaan Awalnya kita sepaham bahwa reuni adalah salah satu penanda pertemuan kembali relasi yang telah lama terlupakan dikarenakan kepentingan profesi yang tidak sama atau jarak geografis yang tidak mungkin bersatu. Namun ada hal baru yang lebih bermakna yang bisa kita kembangkan menandai kegiatan ini. Diperlukan dasar pemikiran yang strategis untuk melaksanakan kegiatan reuni.. Hal-hal apa saja yang melatarbelakangi, untuk siapa, dan langkah apa saja yang akan dilakukan dirumuskan dengan strategis. Panitia reuni tidak sekedar mendata nama dan alamat peserta, tetapi lebih komprehensif pada data pribadinya menyangkut profesinya sekarang. Pemrakarsa atau panitia sekaligus melakukan mamping keberadaan atas potensi yang dimiliki tiap alumni. Hal tersebut dilakukan agar reuni lebih punya efek strategis. Kita paham tidak semua alumni sukses dalam hidupnya. Alumni atau teman yang telah sukses dan memiliki potensi dapat memberdayakan alumni atau temannya yang kurang beruntung. Selanjutnya dibangun relasi strategis untuk kemudian merumuskan rencana tindak lanjut. Kalau memungkinkan dibentuk sebuah ikatan alumni yang nantinya menjadi lembaga sosial dengan aktivitas pemberdayaan. Dengan begitu, kegiatan reuni yang kita laksanakan tidak sekedar bermakna “kumpul-kumpul kemudian bubar”. Akan tercipta egaliterisme dan kerja-kerja sosial yang memberdayakan bagi alumni, teman atau konteks yang lebih luas, masyarakatnya. Semoga.

Selasa, 07 September 2010

Rekonstruksi Makna Puasa

Rekonstruksi Makna Puasa Oleh Imam Suhairi* Gaung puasa Ramadan terasa dimana-mana. Mesjid dan surau mulai dari pusat kota sampai pelosok kampung yang sebelumnya sepi, sejak hadirnya bulan Ramadan ramai dengan aktivitas keagamaan. Tidak terkecuali, pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan antrian orang. Menariknya, penjual musiman di trotoar-trotoar jalan untuk kebutuhan takjil dan sahur serta berlebaran muncul bak jamur, ikut menyemarakkan aktivitas Ramadan. Kehadiran bulan Ramadan telah menciptakan profit tersendiri bagi para pedagang. Selama satu bulan mereka diberi kesempatan berkelana untuk menarik konsumen yang tiada lain adalah kaum muslim. Sementara konsumen, harus menganggarkan dana lebih dalam menunaikan segala kebutuhannya selama Ramadan dan Idul Fitri nanti. Kerepotan Sosial Tidak mengherankan, apabila pusat-pusat penjual makanan jelang buka puasa selalu diserbu para pembeli untuk memenuhi selera mereka. Aktivitas ibu-ibu tidak kalah sibuk, mereka harus kerja ekstra menyiapkan menu buka dan sahur mulai siang dan malam hari. Menjelang hari raya, mereka juga akan disibukkan dengan kebutuhan lebaran dan tuntutan barang-barang yang serba baru. Itu terjadi karena tradisi di masyarakat kita, berpuasa di bulan Ramadan tidak sekedar dipahami menahan haus dan lapar serta nafsu seks mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Juga melibatkan banyak aspek sosial yang melingkupi dan menjadi tuntutan tradisi. Tradisi menyiapkan buka dan sahur dengan serba mewah adalah salah satunya. Tradisi buka puasa bersama yang kadang cenderung hanya jadi ajang kedirian (riya’), untuk dikatakan bahwa dirinya mampu memberi buka puasa relasi bisnis, sanak famili, dan tetangganya. Kita juga disibukkan dengan persiapan perhelatan lebaran dengan serba baru. Yakni dengan memborong pakaian dan belanjaan untuk kebutuhan diri dan mungkin untuk dibagi-bagikan kepada sanak keluarga yang ada di kampung. Namun, hal itu kadang dilakukan bukan sebagai bingkai solidaritas sosial yang murni dan ikhlas lillah, tetapi hanya ingin menunjukkan keberhasilan diri. Di belahan lain, sejak awal puasa Ramadan telah direpotkan dengan persiapan mudik lebaran. Perusahaan-perusahaan jasa transportasi mulai sibuk dengan angkutan mudik. Sementara para pemudik, telah memesan tiket sejak awal puasa. Mereka juga direpotkan dengan barang-barang yang akan dibawa ke kampung mudik. Satu sisi, puasa telah menciptakan kerepotan sosial. Hakikat Puasa Komplit sudah, puasa yang kita jalani kebanyakan telah tergerus oleh kesibukan dan kerepotan sosial sempit makna. Puasa tidak mampu lagi memberikan perubahan derajat kehambaan kita dihadapan Tuhan. Puasa hanya terjebak pada tradisi dan rutinitas yang merepotkan jiwa dan jasmani. Yang menurut M Hilaly Basya, bahwa puasa dimaknai hanya sebagai tradisi yang tidak mampu didialogkan secara bermakna. Upaya membangun kembali makna puasa harus diawali oleh kesadaran diri akan hakikat tujuan perintah puasa. Kesadaran harus kembali tertanam utuh, bahwa berpuasa adalah “la’allakum tattaquun”. Derajat taqwa akan mengalahkan kesibukan dan kerepotan hidup yang tidak sinergis dengan jalan ketuhanan. Hujjatul Islam Imam Gazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin menetapkan arti taqwa ke dalam dua hal, yakni taqwa fardu, kemampuan menahan diri dari mengerjakan yang diharamkan oleh Allah. Yang kedua, taqwa adab, yakni menahan diri dari berbuat berlebih-lebihan dalam barang yang halal. Jika kita dapat mencapai kedua-duanya, yakni menahan diri dari mengerjakan haram dan dari perbuatan berlebih-lebihan dalam yang halal, maka tercapai taqwa yang sempurna (waro’kamil). Mencapai itu semua tentu dengan jalan riyadah melawan hawa nafsu. Yakni memelihara anggota tubuh dan hati dari maksiat lahir dan maksiat batin. Metode yang tepat untuk melawan hawa nafsu adalah lapar dan dahaga Patut dicermati Sabda Rasulullah melalui Ibnu Abbas ra. bahwa “ tidak akan bisa memasuki istana langit, orang yang penuh perutnya”. Dengan puasa, minimal dapat menghilangkan syahwat lahir, juga dapat membersihkan hati, melembutkannya, dan akhirnya dapat mengantarkannya ke arah ma’rifatullah (kenal akan hakikat ketuhanan). Seorang Sufi, Sahl At Tasturi mempertegas keutamaan puasa “ sekarang ini adalah masa yang tiada seorang pun memperoleh keselamatan kecuali dengan mengendalikan hawa nafsunya. Mengendalikannya hanya dengan lapar dan dahaga, qiyamul lail, dan rajin ibadah. Mudah-mudahan dengan puasa tahun ini, kita dapat kembali pada makna hakiki dari puasa

Sabtu, 28 Agustus 2010

NAWANG : ANTARA PUSARAN MASYARAKAT MISKIN&TRADISI URBAN (KAJIAN SOSIOLOGIS NOVEL NAWANG KARYA DIANING YUDISTIRA)

NAWANG : ANTARA PUSARAN MASYARAKAT MISKIN&TRADISI URBAN (KAJIAN SOSIOLOGIS NOVEL NAWANG KARYA DIANING YUDISTIRA) Diajukan sebagai tugas Mata Kuliah Sosiologi Sastra yang dibina Dr Ainurrokhim, M.Pd Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Surabaya. Oleh Imam Suhairi,S.Pd NIM: 20092110003 2010 PENDAHULUAN Latar Belakang Karya sastra dipandang sebagian orang sebagai hal biasa dan tidak punya pengaruh apapun terhadap kehidupan. Hal ini dikarenakan bahwa karya sastra dianggap hanya hasil dari proses rekayasa pikiran manusia semata. Estetika bahasa yang dianggap berlebihan juga semakin melegitimasi pendapat bahwa sastra adalah bohong dan tipuan atau khayalan belaka. Ayal, sastra dianggap hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu untuk menikmatinya, yakni orang yang tidak punya kerjaan. Praktis, karya sastra dalam perspektif ini dianggap hanya sebagai salah satu media hiburan, tidak lebih dari itu. Tentu pandangan itu keliru. Karya sastra dalam proses ciptaannya tidak sekedar hasil lamunan semata yang tidak bermanfaat. Karya sastra justru lahir dari realitas objektif. Mencipta karya sastra berarti mengangkat realitas-objektif menjadi realitas baru. Realitas yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan yang dapat dicerna dan dipedomani dalam kehidupan serta bentuk penyajian yang penuh dengan estetis dan bermakna. Bahan penciptaan karya sastra diangkat dari realitas. Diangkat mengandung arti “diolah” sehingga menjadi realitas baru yakni realitas sastra yang estetis, imajinatif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Bahan proses imajinatif yang diangkat oleh pengarang bukanlah lamunan, fantasi, atau khayalan, namun justru fakta kehidupan yang telah mengkristal dalam diri pengarang. Kristalisasi fakta kehidupan nampak pada pengalaman diri, pengalaman batin, pengalaman bahasa, maupun pengalaman estetis pengarang (Tjahjono, 1988:37). Hal tersebut digarisbawahi Horace (Wellek, 1989 : 25) bahwa sastra yang bermutu adalah sastra yang mengandung prinsip dulce et utile (indah dan berguna). Artinya karya sastra yang bermutu harus memenuhi syarat sebagai karya seni yang estetis (keindahan)-nya tinggi dan bermanfaat bagi pembacanya. Setelah membaca karya sastra ada sejumlah nilai kehidupan yang diperolehnya. Setidaknya mampu membangkitkan kepekaan diri dan bagi kehidupan sosialnya. Pengarang yang menghasilkan sebuah karya sastra dipenuhi oleh rekaman fakta sial yang telah tersimpan dalam memori otaknya. Fakta sosial itulah yang kemudian diolah dengan media bahasa yang penuh makna dan estetis. Sehingga sastrawan tidak sekedar mampu melaporkan realitas yang ada, juga disajikan dengan penuh keharuan rasa dan bahasa yang bermakna serta indah. Sastrawan lewat karyanya mencoba memahami setiap kehidupan sosial dari relung perasaan yang terdalam (Saraswati, 2003). Kehadiran sastra minimal untuk mengungkapkan fakta kemanusiaan yang bernilai penting secara jujur dan terbuka. Tentang apa yang dihadapi masyarakatnya dan gejala sosial lain yang selalu berkembang. Lebih dalam, sekaligus berkesempatan menyiarkan gagasan-gagasan cerdas bagi perubahan sosial. Dalam ruang yang lebih khusus, juga menjadi media untuk menuturkan kembali berbagai peristiwa aktual dengan tujuan menciptakan ruang diskusi bagi perubahan sosial. Masalah Melalui karya sastra berbentuk novel misalnya, kita bisa memahami hal-hal aktual yang terjadi di masyarakat tertentu. Masalah-masalah sosial dapat terungkap secara mendalam melalui peran tokoh dalam karya sastra. Latar sosial juga dapat muncul dalam pergulatan karakter tokoh dalam cerita. Artinya ada banyak hal yang didapat dalam membaca dan menelaah sastra kaitannya dengan konteks kehidupan masyarakat. Konsep ini semakin mempertajam, bahwa sebuah karya sastra seperti novel misalnya, tidak akan tercerabut dari masyarakatnya. Sastra akan selalu mencerminkan masyarakatnya dimana ia tercipta. Seperti halnya novel Nawang Karya Dianing Yudistira yang berlatar sosial “masyarakat tertentu” dimana ia diciptakan. Kita dapat menelaah novel tersebut dari: 1. Latar masyarakat desa/kampung yang terlilit dalam pusaran kemiskinan. 2. Gejala masyarakat yang termotivasi untuk urban. Metode Teknik yang digunakan sebagai alat analisis adalah dengan pendekatan sosiologis. Yakni mengkaji sastra dari perspektif sosial. Bahwa ada kaitan erat antara proses penciptaan sastra dengan realitas sosial. Yakni untuk memahami hubungan karya sastra dengan kehidupan sosial yang melingkunginya. Berdasarkan pandangan bahwa karya sastra diciptakan pasti berada dalam lingkungan masyarakat dan diungkap berbagai masalah masyarakat sesuai dengan gagasan dan persepsi pengarang (Yudiono, 2009:57) KAJIAN TEORI Problem Kemiskinan Salah satu masalah kemanusiaan yang dihadapi oleh dunia adalah kemiskinan. Dengan tolok ukur pendapatan per kapita 1,25 dolar AS, diperkirakan jumlah penduduk miskin di dunia 1,4 milyar orang (“Understanding poverty,” 2009). Demikian pula, Indonesia, jumlah orang miskin tahun 2009 yang semula diperhitungkan oleh pemerintah 32,38 juta orang akan meningkat menjadi 33,71 juta orang atau setara dengan 14,87% jumlah penduduk Indonesia. Bila kita memperhatikan data terakhir dari BPS, pertumbuhan pembangunan suatu bangsa dapat dilihat juga dari Indeks Kemiskinan Manusia (IKM). Menurut UNDP nilai IKM Indonesia dewasa ini adalah 17,9 yang menduduki peringkat ke-33 dari 99 negara. Kemiskinan sebenarnya merupakan keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup: • Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar. • Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Pada umumnya dari sisi penyebab, dikenal tiga macam kemiskinan (absolut), yaitu kemiskinan struktural, kemiskinan kultural dan kemiskinan natural. Mar’ie Muhammad (dalam http://www.stefanusrahoyo.blogspot.com),mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai ketidakmampuan seseorang, suatu keluarga, dan sekelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs). Termasuk dalam kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut adalah pangan maupun nonpangan, khususnya pendidikan dasar, kesehatan dasar, perumahan dan kebutuhan transportasi. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat yang entah secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh tatanan kelembagaan yang ada. Keterbatasan kepemilikan tanah, harga jual gabah yang rendah sehingga penjualan hasil pertanian tak cukup mampu untuk bahkan sekadar menutup biaya produksinya membuat para petani terlilit kemiskinan dari hari ke hari. Semua itu terjadi karena tatanan kelembagaan (tata niaga) beras, khususnya, sangat dikendalikan sementara bantuan dan proteksi dari pemerintah terhadap sektor ini kurang terlihat. Tatanan institusional inilah yang menjerembabkan para petani dalam kemiskinan struktural. Sementara kemiskinan kultural merupakan kemiskinan yang terjadi akibat faktor-faktor budaya sehingga seseorang atau sekelompok orang tidak mampu “berproduksi” secara maksimal. Sikap malas, tak mau bekerja keras, ketiadaan budaya menabung, kebiasaan hidup boros, misalnya, tak pelak merupakan salah satu penyebab kemiskinan Satu hal lagi yang sering disebut sebagai salah satu penyebab kemiskinan absolut adalah faktor alamiah. Misalnya, tanah yang tandus dan miskin sumber daya alam, penduduk terlalu padat, cacat fisik sejak lahir, usia jompo. Sekalipun demikian, John Kenneth Galbraith telah memberikan bukti bahwa faktor-faktor alamiah kurang bisa dijadikan penjelasan mengenai terjadinya kemiskinan. Ia menunjuk Jepang, Singapura, Taiwan, Hongkong dan Korsel sebagai bukti. Secara alamiah negara-negara tersebut bukanlah negara-negara yang kaya akan sumber daya alam. Namun demikian, dalam kenyataannya, kelima negara di atas tidak termasuk negara miskin. Kemiskinan berakibat pada partisipasi dan kualitas orang miskin. Artinya, akses anak-anak miskin terhadap lembaga pendidikan yang bermutu sangat terbatas, di samping kemungkinan putus-sekolah (drop-out) juga besar. Kondisi ini akan berdampak di kemudian hari setelah anak-anak miskin dengan pendidikan rendah ini memasuki dunia kerja. Mereka akan menduduki posisi yang juga rendah atau menjadi tenaga tidak terampil (unskilled labour), bahkan menjadi penganggur (jobless). Selanjutnya, bila mereka berkeluarga, pendidikan anak-anaknya juga akan relatif sama dengan taraf dan kualitas pendidikan yang dialami orangtuanya. Demikianlah siklus pendidikan seperti ini berlangsung dari generasi ke generasi dengan akibat pewarisan kemiskinan antar generasi. Hal kedua, kemiskinan juga berakibat pada perumahan. orang-orang miskin di perkotaan menempati rumah yang kurang layak huni Ketiga, masalah lain yang berkenaan juga dengan perumahan adalah orang miskin yang tidak memiliki tempat tinggal (homeless). Orang miskin yang tidak memiliki rumah ini tinggal di taman kota, pinggir jalan, tenda atau tempat-tempat yang disediakan oleh lembaga sosial dan gereja. Penyebab gejala homeless ini adalah pengangguran, Keempat, kemiskinan juga berakibat terhadap kriminalitas. Di satu pihak, penduduk miskin dapat menjadi korban kejahatan, seperti dirampok atau diperas, karena mereka tidak cukup memiliki akses terhadap perlindungan wilayah yang mereka huni. Di pihak lain, orang miskin juga dapat menjadi pelaku kejahatan yang secara umum disebabkan oleh terbatasnya pendapatan mereka. Berbeda dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang beruntung, kejahatan yang dilakukan oleh orang miskin ini lebih mudah terungkap dan tertangkap pelakunya. Tentu dibutuhkan berbagai kebijakan dan pendekatan strategis dalam upaya memperkecil angka kemiskinan. Baik kemiskinan yang bersifat struktural, kultural, maupun kemiskinan absolut. Problem Masyarakat Urban Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Berbeda dengan perspektif ilmu kependudukan, definisi Urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Perpindahan manusia dari desa ke kota hanya salah satu penyebab urbanisasi. perpindahan itu sendiri dikategorikan 2 macam, yakni: Migrasi Penduduk dan Mobilitas Penduduk, Bedanya Migrasi penduduk lebih bermakna perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota. Sedangkan Mobilitas Penduduk berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara atau tidak menetap. Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya. Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik. Di bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke perkotaan. A. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi 1. Kehidupan kota yang lebih modern dan mewah 2. Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap 3. Banyak lapangan pekerjaan di kota 4. Di kota banyak perempuan cantik dan laki-laki ganteng 5. Pengaruh buruk sinetron Indonesia 6. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan berkualitas B. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi 1. Lahan pertanian yang semakin sempit 2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya 3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa 4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa 5. Diusir dari desa asal 6. Memiliki impian kuat menjadi orang kaya Tidak dapat dipungkiri pula, dampak urbanisasi menciptakan masalah kemiskinan beragam, antara lain akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan, ketidaksiapan infrastruktur, perumahan dan layanan publik. ANALILIS SOSIOLOGIS NOVEL NAWANG Novel Nawang Novel Nawang karya Dianing Widya Yudhistira diterbitkan oleh penerbit Republik tahun 2009. Novel Nawang merupakan salah satu karya Dianing Yudhistira, selain karyanya yang lain, seperti novel sintren (2007) yang masuk kategori lima besar Khatulistiwa Literary Award dan Perempuan Mencari Tuhan (2007). Selain itu cerpennya bisa ditemukan dalam sejumlah antologi cerpen Kembang Manyang (2000), Dunia Perempuan (2002), Yang Dibalut Lumut (2003), Bunga-bunga Cinta (2004). Untuk karya puisinya ditemukan dalam sejumlah buku antologi Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Dari Negeri Poci (1994 dan 1998), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (1995), Teriakan Kota (2003), dan Mahaduka Aceh (2005), Tanah Pilih (2008) dan lain-lain. Novel Nawang merupakan novel yang menceritakan tokoh perempuan bernama Nawang, yang sekaligus menjadi judul novel. Tokoh Nawang sejak kecil hingga dewasa yang selalu bergelut dengan problem hidup. Tokoh Nawang yang hidup di suasana desa yang masih sangat tradisional, masih mempercayai hal-hal yang mistis (tidak rasional). Nawang kecil telah dihadapkan pada persoalan orangtuanya yang hidup pas-pasan atau kemiskinan. Kemiskinan inilah yang menyebabkan Bapak Nawang, Karyo dan Mak Menur harus dikucilkan dari keluarga Mak. Keluarga Mak yakni Mbah Putri yang kaya raya tidak menyetujui pernikahan anaknya Menur dan Karyo. Karyo yang hanya pedagang ikan asin di pasar harus banting tulang menghidupi keluarganya. Mak yang hanya punya sebidang tanah, berusaha keras menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Meskipun akhirnya Bapak harus bekerja sebagai pedagang asongan di terminal bus, semangat untuk melanjutkan pendidikan bagi anak-anaknya, yakni Nawang dan Palupi terus bergelora. Sampai akhirnya Nawang dan Palupi menjadi sarjana dan bekerja tidak lagi sebagai petani miskin dan pedagang. Novel Nawang diakhiri dengan cerita Nawang yang sudah bekerja di Ibukota Jakarta dan akhirnya pulang kampung ke Batang, karena Bapak meninggal. Ia pun tidak bisa melihat Bapak untuk terakhir kalinya, karena tertinggal pesawat dan angkutan yang membawanya pulang. Nawang : Pusaran Masyarakat Miskin Kehadiran Novel Nawang memberi kesan tersendiri bagi realitas kebangsaan hari ini. Realitas tentang kondisi masyarakat yang terpuruk dalam kemiskinan terus-menerus. Banyak faktor yang menggeluti masyarakat miskin, sehingga mereka tetap tidak beranjak dari statusnya sebagai masyarakat miskin. Novel Nawang telah mempresentasikannya dengan gamblang dan cukup terbuka. Dengan mengambil latar cerita suasana pedesaan di Batang, sebuah kota kecil di belahan Jawa tengah, tampak jelas suasana alam yang asri dan masyarakat desa yang masih kental dengan keyakinan mistis dan kurang rasional. Sesuatu hal yang ada, selalu dihubungkan dengan hal-hal lain atau kehidupannya berkenaan dengan nasib dan kejadian yang akan datang. Kecemasan akan muncul bila tertimpa suatu hal yang dianggap isyarat bagi kehidupannya. “Kebetulan? Tidak. Ini tak sekedar kebetulan. Kata orang-orang tua,cicak jatuh di bahu kanan merupakan isyarat buruk. Akan datang musibah. Nawang ingat sama Galang yang pernah kejatuhan cicak di bahu kanannya. Tak lama kemudian mbah Sinom, buyut Galang yang sudah tua dan buta itu tercebur ke sumur belakang rumah... (Yudistira,2009:2) Keyakinan pada hal-hal yang berbau takhayul ini juga diulang oleh pengarang pada bagian lain. Ketika bapak terpuruk usahanya berjualan ikan asin. Bapak bahkan percaya ramalan Mbah Darno yang mengatakan kalau bapak tak akan pernah berhasil bila masih jualan ikan. Yang akhirnya bapak beralih dari berjualan ikan asin jedi berjualan kelontong (Yudistira, 2009: 24) Novel Nawang mampu bersentuhan dengan masyarakatnya. Yakni Alam desa yang dipenuhi dengan hiruk pikuk para buruh tani yang sedang bekerja. Dan suasana penuh keakraban antar individu begitu kental dimunculkan oleh pengarang (Yudistira,2009:3). Tidak hanya itu sekelumit suasana kota kecil Batang juga diekspresikan oleh pengarang. Kondisi pusat pertokoan di Batang yang dimiliki oleh etnis Cina, dan justru pribumi hanya kebanyakan sebagai pelayan toko. Membaca novel Nawang kita akan diajak untuk tidak sekedar memahami hiruk pikuk permasalahan rumah tangga yang terbelit kemiskinan, juga seolah diajak oleh pengarang untuk menyusuri jalan-jalan di kota Batang, seperti kutipan teks berikut. “Dalam perjalanan yang hiruk itu ia harus melewati tiga kali lampu merah. Artinya ia harus dua kali menyeberang. Lampu merah pertama di perempatan RSU Kalisari. Lampu merah kedua di dekat alun-alun Batang. Kedua lampu merah ini tidak pernah sepi dari kendaraaan. Usai itu ia melewati lagi lampu merah persis di depan alun-alun, dekat kantor polisi. Sepanjang jalan di depan alun-alun itu berjejer pertokoan yang dimiliki etnis Cina. Penduduk aslinya malah banyak yang menjadi pelayan toko di tanah sendiri. Selalu demikian, para perantau lebih gigih dalam berusaha, sementara penduduk asli lebih banyak santai dan cenderung menerima apa adanya (Yudistira, 2009: 7).” Kemiskinan telah membuat Nawang jadi korban. Dambaan keluarga yang utuh dan tenteram yang didambakan ternyata terhambat oleh faktor kemiskinan tadi. Bapak Nawang, Karyo yang berasal dari golongan orang miskin, sejak awal tidak diterima sebagai menantu oleh mbah putri untuk menikahi Mak Menur yang berasal dari golongan orang kaya. Meskipun pada akhirnya Mak juga nekat kawin dengan Bapak, Mbah Putri tetap saja tidak setuju dan malah menganggap Mak bukan anaknya lagi. “Mbah Putri meradang sampai sekarang. Meski telah lahir Nawang, Palupi dan Subur, mbah Putri belum bisa menerima bapak sebagai menantu. Mbah Putri sering mencemooh bapak, karena bapak datang dari keluarga miskin.” (Yudistira, 2009:13) Dapat dipahami bahwa kemiskinan dapat memberi efek yang luas dalam hal lain. Baik suasana batin maupun fisik. Pada batinnya misal: 1. Kemiskinan yang tidak pernah beranjak, akan menimbulkan keluhan-keluhan hidup yang pada akhirnya menyalahkan Tuhan. Tuhan dianggap kurang adil dan sebagainya, meskipun itu hanya lintasan sesaat dalam hati manusia. Seperti halnya dalam gambaran novel nawang, kemiskinan yang menderanya dan keluarganya mengakibatkan keluhan-keluhan kepasrahan. Benar kata Nabi bahwa kemiskinan akan dekat kepada kekufuran. “Duh Gusti,” ucap mak dengan sangat pasrah. Nawang terdiam. Betapa hidup seperti tengah mempermainkannya. Selama ini mak sama bapak tak pernah berhenti bekerja, tetapi ada saja masalah. Berkali-kali bapak ditipu teman sendiri. Orang yang berhutang sering ingkar janji, bahkan tak membayar. Sedang hasil sawah yang dikelola tak menentu.” (Yudistira, 2009:29) Di teks yang lain. “Nawang getir di depan Palupi. Tuhan seperti membedakan hidupnya. Bila orang lain hidup tenang, senang, rukun dengan kakek neneknya sejak semula, Nawang sebaliknya. Dari dulu ada saja masalah menghadang keluarganya. Istigfar Nawang, Tuhan tak pernah membedakan umatnya, begitu di sisi hatinya yang lain. Seperti inilah cara Tuhan mencintai kamu. Nawang menelan ludah. Apakah benar cara Tuhan mencintai umatNya seperti ini? Alangkah pahit cara Tuhan menyayangiNya.” (2009:67) 2. Kemiskinan akan menyebabkan perasaan serba salah pada orang lain. Menolak atau menerima pemberian orang lain yang lebih. Kalau diterima seakan telah menjatuhkan harga diri dihadapan orang lain. Tetapi kalau ditolak, seperti tidak enak kebaikan orang lain. Hal ini yang terjadi pada Bu lek Melati ketika diberi cincin pertunangan anaknya, Hasan. Nawang berharap Bu lek Melati menolaknya. Nawang teringat kata-kata Bapak, meskipun ia miskin tapi jangan sekali-sekali menadahkan tangan. (Yudistira, 2009:11-13). 3. Kemiskinan menumbuhkan sikap untuk tidak berprofesi yang justru jadi penyebab kemiskinan. Kemiskinan yang menimpa keluarga Nawang termasuk kategori kemiskinan struktural. Sebagai salah satu keluarga yang menggantungkan hidupnya pada pertanian, Nawang justru terlilit kemiskinan. Hasil pertanian tak cukup mampu untuk bahkan sekadar menutup biaya produksinya membuat para petani terlilit . Semua itu terjadi karena tatanan kelembagaan (tata niaga) beras, khususnya, sangat dikendalikan sementara bantuan dan proteksi dari pemerintah terhadap sektor ini kurang terlihat. Tatanan institusional inilah yang menjerembabkan para petani dalam kemiskinan struktural. Keberuntungan ekonomi belum berpihak pada petani Indonesia. “Jadi petani? Susah. Berangkat pagi-pagi pulang senja hari. Setiap hari bergelut dengan lumpur. Hasil panen sering tak menentu. Kalau bukan berat gabah yang menurun dari tahun kemarin, kualitas gabah yang menurun. Akibatnya harga gabah anjlok di pasaran. Kalau dihitung-hitung panen hanya menyisakan penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari.” (Yudistira, 2009 : 29) 4. Kemiskinan membuat anak-anak yang belum waktunya berpikir ekonomi keluarga, akhirnya ikut menanggung derita kemiskinan dan pergelutan masalah keluarga/orang dewasa. Semestinya anak-anak konsentrasi dalam belajar dan menuntut ilmu, harus disibukkan dengan mengurus rumah tangga dan membantu keluarga. Tidak jarang anak-anak terlibat sebagai pekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya yang miskin. Hal ini juga menimpa Nawang. Nawang harus menghadapi keruwetan hidup akibat kemiskinan struktural yang menimpa keluarganya. Ia harus menerima menjadi pembantu di warung Bu Dhe di kampusnya, karena bapak sudah tidak bisa lagi mengirim uang dengan normal, akibat dagangan bapak terbakar di pasar. “Nawang termenung di depan wajan. Tangannya tengah mencuci wajan yang tebal karena bumbu ikan yang menyatu dengan minyak goreng. Sebulan sudah ia menjalani profesi menjadi pembantu. Sekarang ia tak akan memandang rendah pekerjaan ini, apalagi meremehkan pembantu.”(Yudistira, 2009:154) 5. Kemiskinan juga berakibat pada ketersedian tempat tinggal yang terbatas dan fasilitas hidup seadanya. Nawang yang berasal dari keluarga miskin dalam sekolah harus naik sepeda ontel boncengan dengan adiknya Palupi. Untuk tidur pun ia juga harus berdua sekamar dengan Palupi. Beda dengan rumah Mbah Putri ketika mereka mengunjunginya. Terbesit juga untuk mempunyai kamar sendiri seperti di rumah mbah putri. “ sampai di rumah, ketika makan bersama, Palupi dan Nawang saling berebut untuk bercerita tentang rumah mbah putri yang serba wah. “ kapan ya mak, Palupi punya kamar sendiri, secantik kamar mak dulu.” Bapak tersendak. Semua terdiam. Tak lama kemudian bapak pergi tanpa berkata apapun (Yudistira, 2009:57)” Kemiskinan memang mendera, tetapi hal yang patut dihargai dan dicatat adalah semangat hidup untuk tetap bekerja keras. Begitu pula dalam kondisi miskin, gelora untuk terus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi tidak luntur. Apapun akibatnya, pendidikan harus diutamakan. Tokoh bapak sadar, bahwa kemiskinan yang menyelimuti keluarganya harus dilawan dengan kerja keras dan salah satu cara untuk memberantas kemiskinan adalah dengan pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan. “ ...pokoknya kamu, Palupi, subur kuliah semua.” Nawang mengangguk-angguk. Sesaat keduanya saling diam. Bapak tidak ingin mewariskan kemiskinan pada anak-anaknya. Ia tahu betul betapa susah dan hinanya jadi orang miskin. Dicemooh, dikucilkan dari pergaulan, juga tak mendapat kepercayaan di tengah-tengah masyarakat. “tugas kamu, belajar yang teguh agar tercapai keinginanmu (yudistira, 2009:101)” Ada keteguhan hidup untuk terus berusaha dalam hidup. Yang terpenting, keluarga Nawang dapat mengambil nilai-nilai kehidupan dari kemiskinan yang dideranya. Nawang menjadi manusia yang tegar menghadapi masalah, begitu pula seluruh anggota keluarganya. Hal ini mungkin tidak akan dicapai oleh orang yang tidak merasakan kekurangan/kemiskinan. Nawang juga santun dan tidak menganggap rendah apapun yang berbau kemiskinan. Ketegaran dan kerja keras Nawang dan keluarganya inilah, ia berhasil lulus perguruan tinggi dan bekerja di Jakarta. Sementara adiknya Palupi sukses menjadi seorang guru SMP di daerah kelahirannya. Nawang : Gejala Urban Urban merupakan gejala sosial yang saat ini telah menjadi salah satu problem kebangsaan. Urban bahkan seakan mentradisi di kalangan masyarakat dan daerah yang minus lapangan pekerjaannya. Masyarakat desa dan pelosok, karena sulitnya mencari pekerjaan di kampungynya harus datang dan mengadu nasib ke kota-kota besar, termasuk ibukota Jakarta. Jadi urbanisasi hanya salah satu efek dari kemiskinan yang ada. Baik miskin harta dan keterampilan. Akibat kemiskinan yang terus berlangsung, dapat saja ia melakukan urban. Dalam novel Nawang, tampak jelas pengarang memperagakan tokohnya Nawang, yang melegitimasi semangat urban ini. Tokoh Nawang sejak awal telah berkomitmen untuk keluar dari daerahnya yang tidak menjanjikan perbaikan hidup baginya. Dimulai dari semangatnya untuk kuliah ke Kota Semarang dan tidak akan kembali lagi ke kampung halamannya. Artinya Nawang akan terus ke Jakarta untuk bekerja dan menetap di ibukota. Seperti terlihat dalam kutipan berikut. “seperti janji Nawang dulu, ia tak akan kembali ke Batang usai kuliah. Dan setelah cukup lama malang melintang menjadi penulis lepas di berbagai surat kabar, kabar baik datang. Teman kuliahnya dulu menawarinya pekerjaan sebagai editor. Tak peduli meski di Jakarta( Yudistira, 2009:172). Tarikan kuat untuk tetap tinggal di Jakarta menggelora. Nawang seakan tidak peduli lagi dengan kondisi tanah kelahirannya. Ia justru menganggap tanah kelahirannya telah berkhianat membuat dia bergelut dalam kemiskinan yang panjang. Ia tidak ingin lagi tertimpa hidup dalam keadaan miskin. Jauh dari penghargaan, selalu dicemooh dan sumber kesalahan. Karena kebanyakan orang menganggap orang miskin adalah tidak baik dan selalu jahat. Sikap urban yang ditunjukkan Nawang bukan tanpa alasan, atau dari ego berlebihan, tetapi dari kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan ia bertahan dalam kondisi kemiskinan. “Mbak tak akan pernah tinggal di Batang.” Bagaimanapun Batang, ia tanah air mbak Nawang.” Nawang menatap Palupi tajam lalu berkata dengan intonasi kuat, bahkan sangat kuat. “ tanah air yang telah berkhianat.” (Yudhistira, 2009:174) Barangkali tetap akar persoalannya adalah kemiskinan. Hidup dan mencari penghidupan di kota besar dianggap dapat meningkatkan taraf ekonomi dan taraf gengsi mereka terhadap lingkungan sebelumnya. Kota dianggap sebagai pusat segalanya mulai dari aktivitas ekonomi dan sosial. Simpulan Menelaah novel Nawang dari perspektif sosiologis, kita akan dihadapkan pada setidaknya beberapa tinjauan. Pertama, potret masyarakat miskin yang terus mendera dan menjadi momok bagi semua. Kedua, adalah problem hidup yang serba menyulitkan. Yang sebenarnya akarnya adalah kemiskinan itu sendiri. Ketiga, fenomena masyarakat urban. Penduduk desa yang berusaha mencari penghidupan yang lebih layak di kota-kota besar. Hal ini dikarenakan daerahnya sendiri sudah tidak mendukung bagi kehidupannya. Menurut M. Enoch Markum (psikolog UI) menangani kemiskinan perlu adalanya intervensi individual, intervensi kulutural da intervensi struktural.Intervensi individul harus diikuti oleh sikap mereka yang aktif , peduli terhadap lingkungan sekitarnya dan pada prinsipnya, lingkaran kemiskinan ini harus dihentikan atau tidak boleh terus berputar, yakni dengan cara memutus lingkaran sedini mungkin sebelum terjadi perpindahan ke kondisi lebih lanjut. Pemutusan lingkaran kemiskinan ini dimaksudkan agar orang miskin tidak terperangkap dalam lingkungannya. Intervensi kultural maksudnya mereka diyakinkan mempunyai kemampuan atau keterampilan tertentu (self- efficacy) yang selanjutnya akan tumbuh harga- dirinya (self-esteem). Sementara intervensi pengentasan kemiskinan harus secara struktural (political will), yakni dengan memprioritaskan dibukanya akses orang miskin terhadap pendidikan, kesehatan, listrik, perumahan, air bersih, dan program welfare lainnya Daftar Pustaka http://stefanusrahoyo.blogspot.com/2007/10/makalah.html Markum, M. Enoch. 2009. Pengentasan Kemiskinan dan Pendekatan Psikologi Sosial diakses:www.psikobuana.com/ Saraswati, Ekarini, 2003. Sosiologi Sastra:Sebuah Pemahaman Awal. Malang: UM Yudistira, Dianing Widya. 2009. Nawang. Jakarta : Republika Yudiono K.S. 2009. Pengkajian Kritik Sastra Indonesia. Jakarta : Gramedia Sarana

Selasa, 22 Juni 2010

ISTIKHARAH POLITIK JELANG COBLOSAN

ISTIKHARAH POLITIK JELANG COBLOSAN Oleh Imam Suhairi (Direktur Pemantau Pemilukada MaSDev Sumenep Madura) Istilah Istikharah dalam Islam dimaknai dengan permohonan kepada Allah Swt supaya ditunjukkan pilihan yang benar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia beristikharah berarti melakukan salat istikharah agar diberi ketetapan hati. Ketetapan hati untuk memilih yang benar diantara banyak pilihan. Terkait dengan pelaksanaan pesta demokrasi pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Sumenep, yang menyuguhkan calon terbanyak di Jawa Timur dan atraksi dari performa calon yang seakan membius massa dan pemilih dalam setiap kampanye, tentu membutuhkan pemikiran ekstra dari para pemilih untuk menjatuhkan pilihannya dengan tepat. Seperti yang kita pahami, ada delapan calon bupati dan wakil bupati yang akan berkompetisi dalam helatan pilkada. Berbagai performa calon melalui visi dan misi serta program unggulan telah disampaikan kepada massa pemilih. Hampir semua visioner dan mengimpikan sebuah perubahan yang cukup signifikan bagi Sumenep yang lebih baik. Dengan banyaknya calon dan visi mereka itulah masyarakat terpetakan ke dalam beberapa kelompok. Pertama; sebagian masyarakat kebingungan untuk menjatuhkan pilihan politiknya, dikarenakan visi misi dan program calon yang hampir sama. Sementara mereka tidak mengenal calon yang akan dipilihnya. Fenomena ini akan menimbulkan angka ketidakhadiran untuk memilih. Kedua, pemilih yang asal pilih. Pemilih tidak melihat lagi calon, visi dan program calon, yang penting asal memilih. Mereka datang ke TPS, hanya untuk menghargai undangan sebagai pemilih dan mencoblos siapa saja secara spontan tanpa ada pemikiran mendalam. Ketiga, sebagian masyarakat yang justru sangat pragmatis.Di masyarakat Sumenep sekarang muncul istilah “ tongket (settong saeket)”, maksudnya mereka akan memilih calon tertentu jika diberi uang sebesar lima puluh ribu rupiah satu suara. Atau ada istilah lain, yang penting cair meskipun sebungkus rokok. Fenomena ini muncul sebagai akibat dari kekecewaan masyarakat akan pemimpinnya. Mereka tidak percaya lagi dengan visi dan misi calon yang disuarakan. Yang penting mereka diberi upah material untuk memilih. Keempat, pemilih emosional. Meskipun visi misi kurang menarik, kelompok ini telah jauh-jauh hari menjatuhkan pilihan politiknya. Pilihan politik mereka banyak dipengaruhi oleh kedekatan emosi, kultur, keluarga, dan partai. Pemilih ini akan sulit bergeming untuk pindah pilihan politik dengan iming-iming apapun. Kelima, kelompok masyarakat yang tidak memilih. Mereka cenderung untuk abstain dan golput dalam pemilukada. Mereka beranggapan ada atau tidak pemilukada sama saja, tidak akan ada perubahan signifikan. Kecenderungan ini biasanya disuarakan para kaum muda dan aktivis yang mempunyai daya kritisisme kuat. Mereka tidak hanya “ tidak percaya” pada calon untuk mampu membawa perubahan signifikan. Lebih dari itu, mereka dengan cerdas mengkritik sistem dan pelaksanan pemilihan serta visi dan program para calon yang kadangkala dianggap sangat kebablasan. Diprediksi angka golput ini akan mencapai 35-45 persen dan akan menjadi pemenang pilkada. Tentu sebagai warga negara yang baik, kita berkewajiban untuk turut serta secara aktif dalam pesta demokrasi lima tahunan semacam pemilukada. Suara kita ikut menentukan arah pembangunan masa depan daerah. Kehadiran pemilukada adalah proses politik yang regeneratif dan demokratis untuk mengantarkan calon yang dikehendaki mayoritas rakyat. Coblosan pemilukada Sumenep akan menentukan pemimpin pemerintahan periode 2010-2015 masyarakat diharapkan menggunakan hak pilihnya di TPS TPS yang telah ada. Untuk itu melalui istikharah politik, kita dapat menentukan secara tepat calon pemimpin diantara banyak calon. Istikharah politik menginginkan pilihan politik yang cerdas dan bermutu. Yakni pilihan politik yang tidak sekedar memilih calon (asal-asalan) atau tidak sekedar menjatuhkan pilihan politik karena dilandasi oleh kedekatan dan emosional semata, atau bahkan hanya sekedar karena diberi“ material tertentu” yang sifatnya pragmatis. Istikharah politik dimulai dari proses menelaah visi, misi, dan program calon bupati dan wakil bupati. Manakah visi dan misi serta program calon yang realistis dan benar-benar visioner, manakah yang mampu akan membawa perubahan signifikan bagi masyarakat. Istikharah politik akan mencermati kepribadian dan track record para calon bupati dan wakil bupati. Istikharah politik menuntut pengamatan secara kontinyu dan mendalam terhadap semua aktivitas calon dan prediksi ke depan apabila calon tersebut menjadi pemimpin. Sebuah aktivitas istikharah pada akhirnya akan diparipurnakan ke dalam bentuk “permohonan” petunjuk kepada Tuhan, untuk ditunjukkan pilihan yang tepat bagi pilihan politiknya. Dengan aktivitas semacam ini, produk istikharah akan menghasilkan sebuah pilihan politik yang cerdas dan tepat tidak hanya berdimensi pada kehidupan sosial politik, juga akan berdimensi ilahiyah (ketuhanan) yang sifatnya sangat transedental. Semoga. (dikirim ke beberapa media : radar japos, surya dan kompas jatim)

Sabtu, 30 Januari 2010

Kumpulan Humor Gus Dur

KUMPULAN HUMOR DAN GUYONAN ALA GUS DUR 

Gus Dur adalah kyai Nyleneh, pintar , cerdas dan suka humor. Siapun teman bicara Gus Dur selalu menunggu cerita humor segar yang dilontarkan Gus Dur di sela perbincangan seriusnya. Bila itu sudah terjadi maka mencairlah semua ketegangan dan masalah yang dihadapinya. Banyak celetukan, guyonan, dan tanggapannya atas peristiwa dan masalah pelik membuat masyarakat yang keningnya berkerut, dengan refleks menarik ujung bibir dan membentuk seulas senyuman.

Bahkan, guyonan Gus Dur disukai banyak tokoh dunia, salah satunya mantan Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika Presiden Kuba Fidel Castro secara mendadak mendatangi Gus Dur di Hotel Melia Havana, Havana,Kuba,di sela-sela acara Pertemuan G-77 pada 2001, Gus Dur sedang tiduran di sofa kamar hotelnya sambil mendengarkan rekaman kaset wayang kulit. Karena mendadak dan di luar acara protokoler, Castro diterima apa adanya oleh Gus Dur. Suatu saat, ketika ditanya tentang “hobinya” ini, bagi Gus Dur, humor sudah menjadi makanan sehari-harinya.”Gus, kok suka humor terus sih?” tanya seseorang, yang kagum karena humor Gus Dur selalu berganti-ganti. “Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari,” jelasnya. “Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat,” sambungnya. Banyak humor-humor yang dilontarkan Gus DUr dalam berbagai kesempatan, yang bisa kita simak berikut.
Dalam pertemuan selama 40 menit itu,Gus Dur sempat melawak sampai Castro mengungkapkan rasa kagumnya.“Hebatnya Presiden RI ini, memimpin 200 juta penduduk masih bisa melawak, padahal saya memimpin 11 juta penduduk sudah pusing,”kata Castro.

Bedanya orang Perancis, Amerika dan Indonesia.
Menurut Gus Dur, pernah ada sebuah kapal berisi penumpang berbagai bangsa karam. Ada tiga orang yang selamat, masing-masing dari Prancis, Amerika dan Indonesia. Mereka terapung-apung di tengah laut dengan hanya mengandalkan sekeping papan. Tiba-tiba muncul jin yang baik hati. Dia bersimpati pada nasib ketiga bangsa manusia itu, dan menawarkan jasa. “Kalian boleh minta apa saja, akan kupenuhi,” kata sang jin. Yang pertama ditanya adalah si orang Prancis…. “Saya ini petugas lembaga sosial di Paris,” katanya. “Banyak orang yang memerlukan tenaga saya. Jadi tolonglah saya dikembalikan ke negeri saya.” Dalam sekejap, orang itu lenyap, kembali ke negerinya. “Kamu, orang Amerika, apa permintaanmu?” “Saya ini pejabat pemerintah. Banyak tugas saya yang terlantar karena kecelakaan ini. Tolonglah saya dikembalikan ke Washington.””Oke,” kata jin, sambil menjentikkan jarinya. Dan orang Amerika lenyap seketika, kembali ke negerinya. “Nah sekarang tinggal kamu orang Indonesia. Sebut saja apa maumu.” ” Duh, Pak Jin, sepi banget disini,” keluh si orang Indonesia. “Tolonglah kedua teman saya tadi dikembalikan ke sini.” Zutt, orang Prancis dan Pria Amerika itu muncul lagi.

Humor Gus Dur : Salad 
Gus Dur nggak mati akal kalau urusan melucu. , Bahkan guyonan Gus Dur pun juga diucapkan dalam bahasa asing. Suatu ketika Gus Dur bercerita tentang ada seorang pejabat negara ini yang diundang ke luar negeri. Dia lalu mengisahkan seorang istri pejabat Indonesia yang dijamu makan malam dalam sebuah kunjungan ke luar negeri. Dalam kesempatan itu, kata Gus Dur, si nyonya pejabat ditawarkan makanan pembuka oleh seorang pramusaji, “you like salad, madame?” “Oh sure, I like Salat five time a day. Shubuh, Dzuhur, Asyar, Maghrib and Isya,” jawab si Nyonya percaya diri

Guyonan SBY dan Gus Dur
Ceritanya, tentang Andy F Noya yang nyesal lalu malamnya datang ke makamnya Gus Dur. Dulu waktu di acara Kick Andy, dia sempat mengajukan pertanyaan yang mengandung ragu soal pernyataan Gus Dur tentang jutaan orang akan siap perang jika dirinya dilengserkan, dan Gus Dur akhirnya lebih memilih untuk lengser ketimbang harus terjadi pertumpahan darah. “Gus, aku minta maaf ya.” Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi, sebelum ia mengucap kalimat lainnya, ia merasakan ada getaran di batu nisan yang sedari tadi dipegangnya. Andy terkejut dan menafsir itu jawaban Gus Dur kalau ia telah memaafkannya. Karena merasa dia terhubung dengan Gus Dur naluri pertanyaan “kick”-nya muncul, dan ia pun mengajukan pertanyaan: “Gus, satu pertanyaan saja. Apa reaksi Gus Dur ketika orang yang dulunya menolak perintah Anda justru kemarin memimpin upacara pemakaman Anda, yakni Pak SBY.” Jelas saja tidak ada jawaban, dan sayangnya batu nisan juga tidak bergerak. “Berarti ngak ada masalah Gus ya?” Andi kembali menegaskan dan berharap ada isyarat walau tidak mungkin ada jawaban. “Saya sih ngak ada masalah. Tapi SBY yang bermasalah.” Andy tentu saja terkejut dengan jawaban ini dan menoleh ke kiri, kanan, depan, belakang. Tidak ada orang. Badan Andy tiba-tiba berkeringat, timbul penyesalan karena sudah bertanya, dan juga disergap rasa takut. “Gus, mmma…ma…aaf kan…” “Ngak perlu minta maaf Mas Andy. Gitu aja kog repot. ” Andy langsung reflek berdiri dan memutar badan dan sebelum kakinya melangkah, ia melihat sosok yang membuat rambut kribonya berdiri karena geram. “Wong saya cuma Butet Kertaradjasa, kok.” Geerrrrrrrr

Peternak Lebah ala Gus Dur
Saat Presiden Abdurrahman Wahid menjabat, Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Dephutbun) tidak henti didemo. Setiap hari ada saja kelompok yang berdemonstrasi di departemen yang saat itu dipimpin Nur Mahmudi Ismail. Tuntutan mereka sama, yang mendeseak pembatalan pengangkatan Sutjipto sebagai Sekjen Dephutbun. “Sutjipto terlalu tua, copot saja!” teriak salah satu pendemo. “Sutjipto bukan pejabat karir, berikan saja jabatan itu kepada orang dalam!” pekik yang lain. “Pengangkatan Sutjipto berbau KKN, copot saja,” bunyi tulisan sebuah poster yang diacungkan. Rentetan demonstrasi yang sempat melumpuhkan sebagian kegiatan Dephutbun itu. Pasalnya, tidak sedikit karyawan yang ikutan berdemo, yang pada akhirnya menyerempet posisi Menteri Nur Mahmudi sendiri. Tapi Presiden berkeras supaya Sutjipto dipertahankan. Dalam suasana seperti itulah cucu KH Hasyim Asy’ari itu, melantik pengurus Perhimpunan Peternak Lebah di Jakarta akhir Maret 2000. Dalam pidatonya, Gus Dur antara lain memaparkan mengenai kondisi peternakan lebah terkini. “Kita ini setiap tahun masih mengimpor 350 ribu ton lebah dari luar negeri,” tutur dia.”Lah, orang-orang yang berdemo itu, daripada mendemo menterinya mbok lebih baik beternak lebah, supaya kita tidak mengimpor lagi!” pinta Gus Dur

Gus Dur Dicium Artis Cantik
Magnet sense of humor Gus Dur yang tinggi membuat kesengsem seorang artis cantik saat hadir dalam suatu acara di rumah salah seorang pengasuh Pondok Kajen, Jawa Tengah. Saking gemesnya, artis itu dengan santai langsung ngesun (mencium) pipi Gus Dur tanpa pake permisi. Jelas beberapa di antara mereka yang hadir langsung dibikin kaget dan bingung. Siapa yang kuat ngeliat kiai nyentrik cuma diem aja disun (dicium) artis cantik. Tak lama kemudian begitu sudah agak sepi, Gus Mus yang sedang di antara mereka, langsung numpahin sederet kalimat yang sudah dari tadi cuma bisa disimpan di dalam hati. “Loh Gus, kok Gus Dur diam saja sih disun sama perempuan?’” Dengan santai dan.. silakan bayangin sendiri gayanya, Gus Dur malah ngasih jawaban sepele. “Lha wong saya kan nggak bisa lihat. Ya mbok sampeyan jangan pengen….”

Antara PDI Perjuangan dan NU
Gus Dur mengatakan pada bu Mega bahwa antara PDI Perjuangan dan NU ada kesamaannya: sama-sama suka salah. Suatu ketika bu Mega sedang bersama-sama Gus Dur datang di satu kota. Maka seorang pengurus cabang NU mengajak pengurus PDI cabang kota tsb bertemu Gus Dur. Bertanyalah Gus Dur: Piye mbak mu ? (maksudnya gimana kabar bu Mega). Jawabnya “Wah mbludak Gus, siteris” (maksudnya pengunjung buanyak dan histeris). Nah saat mengunjungi kantor cabang NU Gus Dur berkeliling memeriksa kantor yang baru itu. Mereka mengirimkan surat undangan untuk mengundang Gus Dur. Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa kantor sudah beres, hanya kurang eternitnya. Saat kunjungan Gus Dur melihat semua sudah rapi. Dan bertanya ” lho mana katanya kurang eternit? ini sudah rapi semua kok.” Jawab si pengurus NU ” ohh niku ingkang kurang eternit ingkang wonten komputer” Yang belum ada itu internet …bukan eternit … halaaah..  

Jarak Tuhan dengan Hambanya
Yang paling jauh dengan Tuhannya adalah a. Agama Islam, karena selalu mengucapkan ‘Allahu Akbar’ (dengan suara kencang), b. Agama Hindu panggil Tuhannya ‘o….mm’ (dengan suara pelan), c. Agama Kristen memangil Tuhannya ‘Bapak dan Bunda’ (dengan suara terisak)  

Raja Arab yang tidak pernah tertawa Pernah suatu ketika, Gus Dur membuat tertawa Raja Saudi yang dikenal sangat serius dan hampir tidak pernah tertawa. Oleh Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), momentum tersebut dinilai sangat bersejarah bagi rakyat Negeri Kaya Minyak. “Kenapa?” tanya Gus Dur. “Sebab sampeyan sudah membuat Raja ketawa sampai giginya kelihatan. …Baru kali ini rakyat Saudi melihat gigi rajanya,” jelas Gus Mus, yang disambut gelak tawa  

Gus Dur Presiden Buta Wapresnya Bisu Kita memang sedang melihat sosok presiden yang amat berbeda. Ketika dia salah ucap di depan DPR dengan mengatakan “tentang pembubaran DPR … eh, Deppen dan Depsos…” dengan entengnya Gus Dur menertawakan dirinya sendiri sebagai penutup kesalahan ucap itu. “Yah, beginilah kalau presidennya batuk dan Wapresnya flu!” Sama juga ketika dia tampil di forum internasional di Bali. Dengan entengnya, Gus Dur mengejek dirinya sendiri dengan bahasa Inggris yang sangat baik bagaimana sebuah negara yang presidennya buta dan Wapresnya bisu. Dari semua tokoh yang berkomentar terhadap laku Gus Dur seperti itu, adik kandungnyalah yang bisa memberikan gambaran tepat. “Gus Dur itu seperti sopir yang kalau belok tidak memberi richting dan kalau ngerem selalu mendadak,” ujar Salahuddin Wahid, sang adik.  

ULAMA ACEHTapi, bisakah Gus Dur mengerem Aceh? Gus Dur tentu sudah mendengar Aceh itu ibarat kelapa. Seperti yang disampaikan seorang tokoh Aceh di TV. Rakyat adalah airnya, ulama adalah dagingnya, mahasiswa adalah batoknya, dan GAM adalah sabutnya. Tokoh tersebut berpendapat ulamalah yang harus dijaga. Sebagai ulama, tentu Gus Dur lebih tahu bagaimana caranya. Gus Dur punya humor bagaimana harusmerangkul ulama. Suatu saat rombongan ulama naik bus. Ada seorang ulama yang membuka jendela sehingga tangan si ulama keluar dari bus. Ini tentu bahaya dan melanggar peraturan “dilarang mengeluarkan anggota badan”. “Jangan sekali-kali menegurnya dengan alasan membahayakan tangan si ulama,” ujar Gus Dur. Lalu bagaimana? “Bilang saja begini: Mohon tangan Bapak jangan keluar dari jendela karena tiang-tiang listriknya nanti bisa bengkok!”.

Syukur Tidak Bisa memanjat Guyonan itu, rupanya, tidak berlebihan. Meski sudah banyak yang meramalkan bahwa penampilan Gus Dur di depan DPR Kamis lalu bakal ramai, toh tidak ada yang menyangka bahwa sampai seramai itu. Kalau bukan kiai, mana berani menjadikan pidato Ketua DPR Akbar Tandjung sebagai sasaran humor? Akbar sejak dulu memang selalu memulai pidato dengan memanjatkan syukur. Maka, Gus Dur pun melucu, yang membuat semua anggota DPR tertawa: syukur memang perlu dipanjatkan karena Syukur tidak bisa memanjat Begitu menariknya, karuan saja pidato presiden kini banyak ditunggu penonton televisi. Padahal, dulu-dulu kalau presiden pidato di TV banyak yang mematikan TV-nya. Begitu tidak menariknya pidato presiden di masa Orde Baru sampai-sampai pernah para anggota DPRD diwajibkan mendengarkannya. Itu pun harus diawasi agar mereka sungguh-sungguh seperti mendengarkan. Untuk itu, perlu diadakan sidang pleno DPRD dengan acara khusus nonton televisi. 

Hosni mubarak Mungkin Gus Dur tidak menyangka bahwa suatu saat dirinya jadi presiden. Maka, di masa lalu banyak sekali presiden di dunia ini yang jadi sasaran humornya. Misalnya saat tampil bersama humorolog Jaya Suprana di TPI tahun lalu. Gus Dur menceritakan, Hosni Mubarak, presiden Mesir, sangat marah karena seorang rakyatnya membuat 39 humor yang menyakitkan hati Mubarak. “Saya ini presiden, saya bisa hukum kamu, apakah kamu tidak takut?” bentak Mubarak. Apa jawab si pembuat humor? “Mohon ampun paduka. Humor ke-40 itu bukan kami yang membuat!”
 
Pak harto dan petani Saat itu Gus Dur juga menghumorkan Pak Harto yang sangat ditakuti, tapi sebenarnya juga dibenci rakyat banyak. Suatu kali Pak Harto terhanyut di sungai dan hampir meninggal. Seorang petani menolongnya dengan ikhlas. Si petani tidak tahu siapa sebenarnya yang dia tolong itu. “Saya ini presiden. Presiden Soeharto. Kamu telah menyelamatkan saya. Imbalan apa yang kamu minta?” kata Soeharto. “Pak, saya hanya minta satu,” jawab si petani.”Jangan beri tahu siapa pun bahwa saya yang menolong Bapak.”  

Presiden Habibie dan Gus Dur Habibie yang doyan bicara itu juga dijadikan sasaran humor Gus Dur. Suatu saat Gus Dur yang terkenal gampang tertidur (tapi selalu bisa mengikuti apa yang dibicarakan orang selama dia tidur) menghadap Habibie. Sang presiden bicara ke sana kemari tidak henti-hentinya. Apa komentar Gus Dur? “Saya sih cuek saja. Biar dia bicara terus. Toh saya tidur,” katanya.  

Keluhan kyai Pernah Gus Dur punya humor begini: seorang kiai datang mengeluh kepadanya karena satu di antara empat anaknya masuk Kristen. Sang kiai mengeluh, kurang berbuat apa sampai terjadi demikian. Padahal, dia tidak kurang-kurangnya berdoa kepada Tuhan agar tidak ada anaknya yang masuk Kristen. “Sampeyan jangan mengeluh kepada Tuhan. Nanti Tuhan akan bilang, saya saja punya anak satu-satunya masuk Kristen!”  

Pesawat Dicat kuning Di saat yang lain pesawat yang akan ditumpangi Gus Dur ke Semarang batal berangkat. Padahal, dia sudah lama menunggu. Gus Dur biasa sekali antre tiket sendiri. Meski ada hambatan pada penglihatan, Gus Dur sudah sangat hafal liku-liku bandara. Saking seringnya bepergian. Saat itu di Jateng lagi getol-getolnya kuningisasi. Apa saja, mulai bangunan sampai pohon-pohon, dicat kuning atas instruksi Gubernur Jateng Suwardi. Maksudnya agar rakyat semakin mencintai Golkar. Maka, ketika para penumpang lain marah-marah, Gus Dur cuek saja. “Sampeyan tahu nggak mengapa pesawat ini batal berangkat ke Semarang?” tanyanya. Lalu, dia menjawab sendiri pertanyaannya: “Pilotnya takut, kalau-kalau begitu pesawatnya mendarat langsung dicat kuning,” katanya. Humor ini kemudian menjadi sangat populer  

Made In Japan, Sangat Cepat … Di luar Hotel Hilton, Gus Dur bersama sahabatnya yang seorang turis Jepang mau pergi ke Bandara. Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang sekali menyalip taksinya. Dengan bangga Si Jepang berteriak, “Aaaah Toyota, made in Japan. Sangat cepat…!” Tidak lama kemudian, mobil lain menyalip taksi itu. Si Jepang teriak lagi, “Aaaah Nissan, made ini Japan. Sangat cepat.” Beberapa lama kemudian, taksi yang ia naiki lagi-lagi disalip mobil, dan Si Jepang teriak lagi “Aaaah Mitsubishi. Made in Japan sangat cepat…!” Gus Dur dan sopir taksi itu merasa kesal melihat Si Jepang ini bener-bener nasionalis. Kemudian, sesampainya di bandara, sopir taksi bilang ke Si Jepang. “100 dolar, please…” “100 dolars…?! Ini tidak jauh dari hotel.” “Aaaah… Argometer made in Japan kan sangat cepat sekali,” kata Gus Dur menyahut Si Jepang itu.
 
Sama-sama telat dicabut Suatu saat saya menjenguk Gus Dur yang diopname karena stroke di RSCM Jakarta. Saat itu dahlan Iskan memang presiden direktur PT Nusumma dan Gus Dur presiden komisarisnya. Saya lihat Gus Dur berbaring miring karena memang belum boleh duduk. Setelah menyalaminya, saya mengucapkan permintaan maaf karena baru hari itu bisa menjenguk. “Saya sakit gigi berat, Gus,” ujar saya. Tanpa saya duga, Gus Dur ternyata men-cuekin keadaan kesehatannya. Dia langsung memberi saya teka-teki yang ternyata humor segar. “Sampeyan tahu nggak, apa yang menyebabkan sakit gigi?” tanyanya. “Tidak, Gus,” jawab saya. “Penyebab sakit gigi itu sama dengan penyebab orang hamil dan sama juga dengan penyebab mengapa rumput sempat tumbuh tinggi,” katanya. Saya masih melongo. Gus Dur menjawab sendiri teka-tekinya. “Yaitu sama-sama terlambat dicabut,” ujarnya. Saya langsung tertawa.
 
Kesatuan Ummat Beragama Guyonan lainnya dilontarkan Gus Dur saat menghadiri “Seminar wawasan kebangsaan Indonesia” di Batam. Di hadapan 100 pendeta dari seluruh propinsi Kepulauan Riau, Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama. “Oleh karena itu seluruh umat bertanggung jawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain, tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta.
 
Gus Dur Diplintir Media Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya. Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia. Gus Dur mengatakan, pada saatnya nanti dia akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura. Walah-walah… gitu aja kok repot!  

Menebak Usia Mumi Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman Orde Baru. Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli Palaeo Antropologinya yang terbaik. Akan tetapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman Orde Baru yang waktu itu masih bergaya represif misalnya banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel. Setelah sejumlah negara maju untuk menebak usai mumi, giliran delegasi Indonesia yang maju. Pak Komandan bertanya kepada panitia, bolehkan dia memeriksa mumi itu di ruang tertutup. “Boleh, silahkan,” jawab panitia. Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringan Pak Komandan Intel itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri. “Usia mumi ini enam ribu dua ratus empat puluh lima tahun enam bulan tujuh hari,” katanya dengan lancar. Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum jawaban itu tepat sekali. Menjelang kembali ke Indonesia, Pak Komandan Intel dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel. “Anda luar biasa,” kata mereka. “Bagaimana cara Anda tahu dengan persis usia mumi itu?” Pak Komandan dengan enteng menjawab, “Saya gebuki, ngaku dia!”

Ohh Internet Suatu kali ada seorang Kiai Madura yang membanggakan pembangunan pesantrennya kepada Gus Dur. “Wah … pesantren saya sudah jadi. Lengkap, bangunannya luas bertingkat,” katanya dengan wajah bangga. “Kapan-kapan Gus Dur harus ke sana. Soalnya sudah lengkap dengan eternit,” tambahnya lagi. “Eternit?” tanya Gus Dur sambil berpikir setiap bangunan kan memang perlu eternit. “Payah, mosok nggak ngerti. Itu lho yang pakai komputer …!” “Ohhh … internet,” jawab Gus Dur bersama-sama beberapa orang yang hadir sambil tertawa.  

Stek Tumbuhan Di ruang perpustakaan pribadinya, sedang terjadi diskusi yang serius antara Gus Dur dengan salah seorang anaknya yang kepingin jadi anggota LKIR. Gus Dur: “Memangnya apa yang bisa kamu sumbangkan untuk LKIR sekolahmu?” Anak: “Sebuah penemuan dari penelitian yang saya lakukan sendiri.” Gus Dur: “Apa itu?” Anak: “Penggabungan (stek) tiga jenis tumbuhan yang sangat berlainan spesiesnya. Dan ternyata berhasil.” Gus Dur: “Apa tiga jenis tumbuhan itu …?” Anak: “Kelapa, singkong, dan tebu.” Gus Dur: (terdiam, sepertinya tidak percaya) “Lalu apa yang terjadi dengan ketiga tumbuhan itu?’ Anak: “Jadi gethuk  

Fenomena ‘Gila’ Gus Dur Konon, guyonan mantan Presiden Abdurrahman Wahid selalu ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan, termasuk presiden dari berbagai negara. Pernah suatu ketika, Gus Dur membuat tertawa Raja Saudi yang dikenal sangat serius dan hampir tidak pernah tertawa. Oleh Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), momentum tersebut dinilai sangat bersejarah bagi rakyat Negeri Kaya Minyak. “Kenapa?” tanya Gus Dur. “Sebab sampeyan sudah membuat Raja ketawa sampai giginya kelihatan. Baru kali ini rakyat Saudi melihat gigi rajanya,” jelas Gus Mus, yang disambut gelak tawa Gus Dur. Melekatnya predikat humoris pada Presiden RI yang keempat itu pun sempat membuat Presiden Kuba Fidel Alejandro Castro Ruz penasaran. Suatu ketika, keduanya berkesempatan bertemu. Seperti yang diceritakan oleh mantan Kepala Protokol Istana Presiden Wahyu Muryadi pada tayangan televisi, Fidel Castro bertanya kepada Gus Dur mengenai joke teranyarnya. Dijawablah oleh Gus Dur, “Di Indonesia itu terkenal dengan fenomena ‘gila’,”. Fidel Castro pun menyimak pernyataan mengagetkan tersebut. “Presiden pertama dikenal dengan gila wanita. Presiden kedua dikenal dengan gila harta. Lalu, presiden ketiga dikenal gila teknologi,” tutur Gus Dur yang kemudian terdiam sejenak. Fidel Castro pun semakin serius mendengarkan lanjutan cerita. “Kemudian, kalau presiden yang keempat, ya yang milih itu yang gila,” celetuk Gus Dur. Fidel Castro pun diceritakan terpingkal-pingkal mendengar dagelan tersebut.  

Hasil Otopsi Dokter Bedah Terhadap Kepala Presiden RI. a. Bung Karno hanya otak kanannya yang berkembang karenanya Bung Karno suka dengan wanita, b.Habibi hanya otak kirinya yang berkembang karenanya dia suka teknologi, c. Soeharto saat dibuka kepalanya tidak ada otaknya. d. Gus Dur saat dibuka kedua otak kanan dan kirinya berkembang, tapi tidak pernah nyambung,” ujarnya menirukan lelucon Gus Dur.  

Tak Punya Latar Belakang Presiden Mantan Presiden Abdurrahman Wahid memang unik. Dalam situasi genting dan sangat penting pun dia masih sering meluncurkan joke-joke yang mencerdaskan. Seperti yang dituturkan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat diinterview salah satu televisi swasta. “Waktu itu saya hampir menolak penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan. Alasan saya, karena saya tidak memiliki latar belakang soal TNI/Polri atau pertahanan,” ujar Mahfud. Tak dinyana, jawaban Gus Dur waktu itu tidak kalah cerdiknya. “Pak Mahfud harus bisa. Saya saja menjadi Presiden tidak perlu memiliki latar belakang presiden kok,” ujar Gus Dur santai. Karuan saja Mahfud MD pun tidak berkutik. “Gus Dur memang aneh. Kalau nggak aneh, pasti nggak akan memilih saya sebagai Menhan,” kelakar Mahfud.  

Buto Cakil Pembayar Demonstran? Punakawan selalu digambarkan sebagai kstaria. Musuhnya jelek-jelek semua, misalnya Buto Cakil. Punakawan sering diculik, dibawa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi, menurut Ki Tedjo, sekarang semuanya serba tak jelas. Perilaku kesatria pun tak jelas. Yang jadi Punakawan pun tak jelas. Yang disebut istana pun tak jelas. Sebab saat ini masih banyak istana, ada yang di Cendana, ada yang di sana, pokoknya di mana-mana. “Supaya rakyat tentram, mbok ya (para elite politik) itu kalau berantem caranya yang cerdas lah. Rakyat seperti kita ini kan juga perlu tahu. Bukan begitu, Gus?” “Sebelum tahu istananya, harus tahu dulu siapa demonstrannya,” jawab Gus Dur. “Ya sebelum tahu demonstrannya, harus tahu dulu siapa yang membayari.” (mbs)  

Meminta Ditemani Gadis di Hotel? Seorang gadis, hitam manis, duduk di sebuah bar. “Permisi, boleh saya mentraktir Anda minum?” tawar seorang laki-laki muda menghampirinya.”Apa ke hotel?” teriak si gadis.”Bukan, bukan. Jangan salah paham. Saya hanya menawari minuman ….” “Kau meminta aku menemanimu ke hotel?” teriak si gadis lebih keras. Merasa ditolak, dengan perasaan malu, laki-laki muda itu beringsut dan duduk di sudut ruangan. Semua orang di bar menatap laki-laki dengan sinis dan mencibir. Beberapa menit kemudian, si gadis menghampiri si laki-laki muda itu. “Maafkan saya. Saya sedang menyamar. Sebenarnya, saya adalah seorang mahasiswi psikologi yang sedang mempelajari tingkah laku manusia di situasi yang tidak dikehendakinya.” Si laki-laki menatap dengan tampang dingin. Kemudian berteriak dengan amat kerasnya, “Berapa? Dua ratus ribu???”
 
Gus Dur dan Sepatu Bush Terjadilah insiden pelemparan sepatu oleh wartawan stasiun TV di Irak ke arah presiden Amerika Serikat George W. Bush. Dunia jadi geger. Semua media menyajikannya sebagai berita utama. Tokoh-tokoh dunia berkomentar. Mayoritas memberikan dukungan kepada sang wartawan. “Lemparan penghinaan itu adalah tanggapan balik terhadap invasi Amerika ke Irak.” Dunia Arab kontan memberinya gelar pahlawan, meski belakangan wartawan ini babak belur. Para tokoh di Indonesia pun tidak ketinggalan. Ada yang menyesalkan sikap wartawan yang emosional, tidak beretika. Namun umumnya memberikan acungan jempol kepada wartawan. Tibalah saatnya dalam suatu forum politik para wartawan merangsek mendekati mantan presiden RI Gus Dur, meminta pendapatnya soal sepatu Bush. “Gus Dur bagaimama pendapat anda tentang insiden pelemparan sepatu? Apakah itu termasuk bentuk kejengkelan warga Irak?” “Apakah anda mendukung itu Gus?” “Gus, apakah Bush pantas mendapatkan itu” Gus Dur masih diam. Wartawan mulai tenang, menunggu kejutan. “Ah wong nggak kena aja kog pada ribut,” kata Gus Dur sambil lalu. Wartawan pun tertawa puas. (nam)
 
Rokok Kiai Di satu pesantren di Jombang, Jawa Timur, santri-santri dilarang merokok. Dan mbah kiai pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan takzir (hukuman) setimpal pada santri yang melanggar. Namun ada saja santri nakal yang melakukan pelanggaran. Beberapa gelintir santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan di malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau di gang-gang kecilnya, atau di tempat jemuran pakaian atau di pekarangan kiai. Satu malam seorang santri perokok ingin melakukan aksinya. Ia bergegas ke kebun blimbing. Ia dekati seorang temannya di kejauhan sedang menyalakan rokok. “Kang, join rokoknya ya…” katanya sambil menyodorkan jari tengah dan telunjukknya. Temannya langsung menyerakan rokok yang dipegangnya. Santri perokok langsung mengisapnya. “Alhamdulillah, nikmatnya…” katanya. Diteruskan dengan isapan kedua. Rokok semakin menyala, dan… dalam gelap dengan bantuan nyala rokok itu lamat-lamat ia baru sadar siapa yang sedang dimintainya rokok. Namun santri belum yakin dan diteruskan dengan isapan ketiga… Rokok semakin meyala terang. Ternyata… yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri. Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya. Sang kiai marah besar: “Hei rokok saya jangan dibawa, itu tinggal satu-satunya, kang…”  

Masa Ngomong Aja Nggak Boleh? Nyeleneh, kontroversi, ceplas-ceplos, humoris, cerdas dan seakan tak pernah kehabisan akal. Begitulah beberapa karakter yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Cucu Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari itu pun pernah menjadi Presiden RI ke-4, meski kemudian dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebelum masa jabatannya berakhir. Saat menjadi presiden, sikap kontroversinya pun kerap menuai protes dari banyak kalangan. Tak hanya oleh lawan politiknya, keluarga Gus Dur sendiri tak jarang berbeda pendapat terkait sikapnya yang seolah tak mau kompromi. “Waktu jadi presiden, saya pernah bilang pada Gus Dur, ‘Sampean itu jangan sering-sering membuat pernyataan yang kontroversi, yang membingungkan masyarakat’,” kata Lily Khadijah Wahid—adik kandung Gus Dur. Tanpa pikir panjang, Gus Dur menjawab, “Saya ini udah nggak bisa ngeliat (melihat). Masa ngomong aja nggak boleh?”  

Gus Dur, Bill Clinton, dan Jacques Chirac Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa… setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya. Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!” Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?” “Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya. Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak… kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya. Presiden Indonesia: “Wah… kok bisa tau juga?” “Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut. Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat… “Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur. “Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat. “Ini… jam tangan saya ilang…”, jawab Gus Dur kalem. Masalah Yang Tidak dapat diselesaikan Gus Dur menganggap hanya ada dua masalah di dunia ini Pertama, adalah masalah yang dapat diselesaikan. Namun, kata Gus Dur, itu bukanlah suatu masalah, karena dapat diselesaikan. Kedua, masalah yang tidak dapat diselesaikan. “Untuk masalah yang tidak dapat diselesaikan, jangan diambil pusing untuk dipikirkan. Kan tidak dapat diselesaikan,”

Doa Mimpi Matematika Jauh sebelum menjadi Presiden, Gus Dur dikenal sebagai penulis yang cukup produktif. Hampir tiap pekan tulisannya muncul di koran atau majalah. Tema tulisannya pun beragam, dari soal politik, sosial, sastra, dan tentu saja agama. Pernah dia mengangkat soal puisi yang ditulis oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun yang dimuat majalah Zaman. Kata Gus Dur, anak-anak itu ternyata lebih jujur dalam mengungkapkan keinginannya. Enggak percaya? Baca saja puisi yang dibuat oleh Zul Irwan ini: Tuhan … berikan aku mimpi malam ini tentang matematika yang diujikan besok pagi  

Tiga Polisi Jujur Gus Dur sering terang-terangan ketika mengkritik. Tidak terkecuali ketika mengkritik dan menyindir polisi. Menurut Gus Dur di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. “Pertama, patung polisi. Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng (mantan Kapolri).” Lainnya? Gus Dur hanya tersenyum.  

Guyon dengan Fidel Castro Nah, ini yang jadi guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden RI saat berkunjung ke Kuba dan bertemu pemimpin Kuba, Fidel Castro. Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan. Beliau bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan di situ. Tahanan pertama bercerita, “Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara.” Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba. Tahanan kedua berkata geram, “Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya. “Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga. Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Karena saya Che Guevara…” Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut.
 
Becak Dilarang Masuk Saat menjadi presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan saat itu, Mahfud MD (buku Setahun bersama Gus Dur, kenangan menjadi menteri di saat sulit) tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik. Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki oleh becak. “Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak pak polisi. “Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong, tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak . “Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak pak polisi lagi. “Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak seperti ini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan

. Radio Islami Seorang Indonesia yang baru pulang menunaikan ibadah haji terlihat marah-marah. “Lho kang, ngopo (kenapa) ngamuk-ngamuk mbanting radio?” tanya kawannya penasaran. “Pembohong! Gombal!” ujarnya geram. Temannya terpaku kebingungan. “Radio ini di Mekkah tiap hari ngaji Al-Qur’an terus. Tapi di sini, isinya lagu dangdut tok. Radio begini kok dibilang radio Islami.” “Sampean tahu ini radio Islami dari mana?” “Lha…, itu bacaannya ‘all-transistor’, pakai ’Al’.”  

Orang NU Gila Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU ataupun bukan. Tak jarang mereka pun datang dari luar kota. Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur. Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” jelasnya. “Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh
 
Homor Gus Dur tentang Krisis Ekonomi Ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, beliau mengirim tim ekonominya ke AS untuk bertemu dan meminta pandangan Presiden Bill Clinton tentang Ekonomi Indonesia yang saat itu sedang didera krisis. Sesampainya di AS, tim ekonomi disambut di Gedung Putih namun dengan nada yang sangat pesimis. “Kami di AS punya Johny CASH (aktor di Las Vegas), Stevie WONDER (penyanyi kondang), dan Bob HOPE (pelawak tenar)” demikian sambut Clinton. “Anda di Indonesia, tidak punya CASH (uang tunai), tidak ada WONDER (keajaiban), jadi tidak ada HOPE (harapan) …. CASHLESS, WONDERLESS, dan HOPELESS!” Tegas Bill. Tim ekonomi Indonesia pun pulang dengan wajah tertunduk lesu.Sesampainya di Istana Merdeka, Tim ekonomi melapor kepada Presiden Gus Dur. “Gimana hasil kunjungan ke AS?” Sapa Gus Dur. Ketua Tim ekonomi pun berkeluh kesah:“Wah, payah Gus! Menurut Clinton Indonesia tidak punya Johny CASH, Stevie WONDER, dan Bob HOPE. Jadi kita CASHLESS, WONDERLESS, dan HOPELESS! Pendeknya susah deh, Gus! ”Sambil senyum-senyum, Gus Dur menjawab dengan jenaka dan cerdik:”Gitu aja kok repot!!! Kita memang tidak punya Johny CASH, Stevie WONDER, dan Bob HOPE…. Tapi kita punya banyak SLAMET, HARTO, dan UNTUNG!!!”
 
Humor Umat Beragama Guyonan lainnya dilontarkan Gus Dur saat menghadiri ‘Seminar wawasan kebangsaan Indonesia’ di Batam. Di hadapan 100 pendeta dari seluruh propinsi Kepri, Gus Dur menjelaskan kebersmaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama. “Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta.

Humor DPR Dia juga sempat melontarkan guyonan tentang prilaku anggota DPR RI. Sempat menyebut mereka sebagai anak TK, Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah ‘turun pangkat’ setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam. “DPR dulu TK sekarang playgroup,” kata Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jakarta, Selatan, Kamis (17/03), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang Rabu (16/03). Humor Jihad Bahkan saat menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan ‘menjamin’ tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya. “Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan kepada Gus Dur. Gus Dur pun menjawab, “Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi.”  

Humor Ziarah Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela ideologinya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya. Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur. “Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi,” katanya.  

Gitu Aja Kok Repot Selain humornya, Gus Dur juga dikenal dengan jawabannya yang menyederhanakan pemikiran masyarakat yang terkadang berbelit-belit. Dia kerap kali menjawab, “Gitu aja kok repot.” Seperti saat dia memberikan tanggapan perihal pernyataan Probosutedjo perihal kebenaran kondisi Soehrato yang sakit. Saat itu (2 Maret 2000), Gus Dur mengaku tidak diijinkan bertemu dengan Soherto. Gus Dur mengakui, dari pihaknya tidak ada masalah sama sekali untuk mengunjungi Soeharto, dan pintunya selalu terbuka. “Perkara saya pergi dengan siapa tidak masalah. Dengan Marzuki Darusman atau kalau perlu seluruh kabinet saya bawa. Begitu saja kok repot-repot,” katanya. Jawaban yang sama juga dilontarkan cucu pendiri NU itu saat menanggapi tuntutan Fron Pembela Islam (FPI). “Jangan takut dan khawatir, tenang-tenang saja. Gitu aja kok repot.” Ucapan ini menjadi trademark tersendiri, sehingga ucapan ini pula yang ditiru oleh Gus Pur dalam acara Republik Mimpi. Saat ditanya Andy F Noya dalam acara Kick Andy, perihal peran yang dilakoni Handoyo, Gus Dur pun kembali menanggapi dengan enteng. “Abis gimana lagi, yah anggep saja sudah. Itung-itung advertensi (iklan) gratis,” katanya disambut gelak tawa penonton.  

Hallo Abdurrahman Saleh Sudah Mendarat di Airport Abdurahman Wahid Pada akhir April 2000, Gus Dur sempat ke Malang, dan mendarat di Bandara Abdurrahman Saleh. Ini mengingatkan dia pada peristiwa belasan tahun silam, ketika dia mendarat di bandara yang sama dari Jakarta, saat masih ada penerbangan regular dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Malang. Waktu itu Gus Dur bersama antara lain Almarhum Jaksa Agung Sukarton Marmosujono. Sebagaimana lazimnya untuk rombongan orang penting, mereka pun disambut oleh pasukan Banser NU. Ketika rombongan sudah siap berangkat ke Selorejo, sekitar 60 kilometer dari bandara, petugas Banser melaporkan pada posko melalui handy talky. “Halo, halo, rojer,” kata Mas Banser. “Lapor: Abdurrahman Saleh sudah mendarat di airport Abdurrahman Wahid!”
 
Lupa Tanggal Lahir Gus Dur, nama lengkapnya adalah Abdurrahma Al-Dakhil. Dia dilahirkan pada hari Sabtu di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ada rahasia dalam tanggal kelahirannya. Gus Dur ternyata tidak tahu persis tanggal berapa sebenarnya dia dilahirkan. Sewaktu kecil, saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah SD di Jakarta, Gus Dur ditanya, ” Namamu siapa Nak?” “Abdurrahman,” jawab Gus Dur. “Tempat dan tanggal lahir?’ “Jombang …,” jawab Gus Dur terdiam beberapa saat. “Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjutnya Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung dulu bula kelahirannya. Gus Dur hanya hapal bulan Komariahnya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia tidak ingat bulan Syamsiahnya atay hitungan berdasarkan perputaran matahari. Yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Syakban, bulan kedelapan dalam hitungan Komariag. Tetapi gurunya menganggap Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah. Maka sejak itu dia dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Syakban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.
 
Ikan Curian Gusdur Jadi Halal Gus Dur menjadi santri di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam (Ponpes Salaf API) Tegalrejo, Magelang, antara 1957-1959. Gus Dur bersama beberapa teman-temannya merancang skenario pencurian ikan di kolam milik Sang Guru, Kiai Haji Chudlori. Waktu itu, Gus Dur menyuruh teman-temannya untuk mencuri ikan di kolam sementara Gus Dur mengawasi di pinggir kolam,” Gus Dur tak ikut masuk ke kolam dengan dalih mengawasi jika sewaktu-waktu KH Chudlori keluar dan melewati kolam. Tak lama kemudian, lanjut dia, KH Chudlori yang setiap pukul 01.00 WIB selalu keluar rumah untuk menuaikan shalat malam di masjid melintas di dekat kolam. Seketika itu juga, teman-teman Gus Dur yang sedang asyik mengambil ikan langsung disuruh kabur. Sementara Gus Dur tetap berdiri di pinggir kolam dengan memegang ikan hasil curian. Gus Dur kepada KH Chudlori , kalau tadi ikan milik kiai telah dicuri dan Gus Dur mengaku berhasil mengusir para pencuri itu, ikan hasil curiannya berhasil Gus Dur selamatkan. Atas “jerih-payah” Gus Dur itu, KH Chudlori menghadiahkan ikan tersebut kepada Gus Dur supaya dimasak di kamar bersama teman-temannya. Akhir kata, ikan itu akhirnya dinikmati Gus Dur bersama teman-teman bengalnya. Jelas Gus Dur mendapat protes keras dari teman-temannya yang disuruhnya mencuri tadi. Namun bukan Gus Dur namanya jika tak bisa berdalih, yang lebih penting adalah hasilnya. “Wong awakmu yo melu mangan iwake. Lagian, iwake saiki wis halal wong uwis entuk izin seko kyai. (Kamu juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan curian tersebut sudah halal, karena telah mendapat izin dari kiai-red)

Obrolan Hari Jumat Pernah suatu ketika Gus Dur di ruang kerjanya di Istana Merdeka menerima Mohammad Sobary, peneliti dari LIPI, kolumnis dan pernah menjadi pemimpin Kantor Berita Antara dan Djohan Effendi (Kepala Litbang Departemen Agama). Hampir sepanjang hari Gus Dur berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya tersebut. Sobary sempat menjadi moderator ketika berlangsung dialog antara Gus Dur dengan masyarakat seusai shalat Jumat di Masjid Baiturrahim (Masjid Istana Kepresidenan). Sobary lantas mengulang cerita Gus Dur tentang hal lucu yang terjadi di sekitar Gus Dur selama masa istirahat. Sebelum shalat Jumat, Gus Dur dari ruang kerjanya menelepon Menteri Agama di kantornya. Kebetulan yang mengangkat telepon di kantor Menteri Agama adalah seorang staf menteri. Dialognya demikian: Gus Dur: Hallo, saya mau bicara dengan Menteri Agama Staf Departemen Agama: Ini siapa? Gus Dur: Saya Abdurrahman Wahid Staf Departemen Agama: Abdurrahman Wahid siapa? Gus Dur: Presiden…… Dua Gus Adalah Musuh Orba Di kalangan Nahdliyin, Gus adalah julukan bagi anak kiai yang mereka hormati . Panggilan hormat itu tetap melekat, bahkan sampai si anak sudah jadi bapak atau kakek . Begitulah, menurut Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus, dan lain-lain-anpa menyebut diri sendiri. Lain sikap hormat kalangan Nahdliyin, lain pula pandangan pemerintah Orde Baru. Yang terakhir ini tak suka dengan para Gus itu, terutama yang kritis terhadap kekuasaan. Kekritisan Gus Dur terhadap pemerintah Orde Baru mengakibatkan ia “dikucilkan.” Gus Nun sering ngomong pedas, maka dianggap musuh pemerintah juga . Tapi , kata Gus Dur, di acara jamuan makan malam bersama tamu-tamunya, sebenarnya ada satu “Gus” lagi yang tidak disukai pemerintah . Para tamu pun penasaran, dan menunggu Gus siapa lagi gerangan yang dimaksud . “Gusmao…,” ungkap Gus Dur menyebut nama belakang Kay Rala Xanana (sekarang Presiden Timor Leste), pemimpin Fretilin yang saat itu masih di penjara.  

Kuli dan Kyai Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab. Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin! Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?” “Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”  

Sate Babi Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius. Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram? Gus Dur: Babi Ajudan: Yang lebih haram lagi Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi! Ajudan: Yang paling haram? Gus Dur: Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!  

Siapa yang Paling Berani Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang “berdiskusi” tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan … Bill Clinton: Kalau Anda tahu … prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia … Mayor .. sini deh … coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali. Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia “The Star Spangled Banner” saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu). Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!! Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan! Koizumi: (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) … coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali … ! Sersan: (melihat ada hiu … glek … tapi) for the queen I’am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali … dan dikejar hiu juga). Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!! Koizumi: Hebat kamu … kembali ke tempat … Anda lihat Pak Clinton … Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda … (tersenyum dengan hebat …) Gus Dur: Kopral ke sini kamu … (setelah dayang …) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok? Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang bersama hiu … kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden …) Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi … kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! … Hidup Indonesia … !!!
 
Cuma Takut Tiga Roda Suatu hari, saat Abdurarahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI, ada pembicaraan serius. Pembicaraan bertopik isu terhangat dilakukan selesai menghadiri sebuah rapat di Istana Negara. Diketahui, pembicaraan itu mengenai wabah demam berdarah yang kala itu melanda kota Jakarta. Gus Dur pun sibuk memperbincangkan penyakit mematikan tersebut. “Menurut Anda, mengapa demam berdarah saat ini semakin marak di Jakarta Pak?” tanya seorang menterinya. “Ya karena Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso melarang bemo, becak, dan sebentar lagi bajaj dilarang beredar di Kota Jakarta ini. Padahal kan nyamuk sini cuma takut sama tiga roda…!”  

Suami Takut istri Masuk surga untuk lelaki ternyata ada dua antrian, yg pertama untuk suami takut istri, antriannya panjaaaang sekali. Satu lagi untuk suami tidak takut istri, tak ada antrian, cuma satu orang!! (kurus kecil lagi). Waktu ditanya kenapa dia berani antri disitu, dia bilang; “saya disuruh istri saya!!!”
 
Dai menangkap Imam Adakah dalil yang membolehkan seorang dai menangkap seorang imam? Tapi, ini benar-benar terjadi di Indonesia. Dai yang menangkap itu adalah Da’i Bachtiar (Kapolri saat itu) dan yang ditangkap adalah Imam Samudra,” kata Gus Dur  

Gus Dur iri dengan Supir Metromini Di pintu akherat seorang malaikat menanyai seorang sopir Metromini. “Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu. “Saya sopir Metromini, Pak.” Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metro tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas. Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. “Apa kerja kamu di dunia?” tanya malaikat kepada Gus Dur. “Saya presiden dan juga juru dakwah, Pak.” Lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Melihat itu Gus Dur protes. “Pak kenapa kok saya yang presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metromini.Dengan tenang malaikat itu menjawab, “Begini Gus, saat Anda ceramah, Anda membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat sopir Metromini mengemudi ngebut, ia membuat orang-orang berdoa.”  

Sunatan Haji Hanafi Jombang Sangat Terkenal ?” Dua orang pria sedang “pipis” disebuah toilet di Kuala LumpurTiba-tiba yg seorang menoleh kepada pria di sebelahnya sambil berkata “Orang Indonesia ya” ya” jawab yg satunya”Muslim ya”"betul”"dari kota Jombang ya”"Iya dari Jombang”"Yg nyunat situ Haji Hanafi yg matanya buta sebelah ya”"Betul” (sambil berpikir) “Tapi kok… mas bisa tahu semua itu?”"Soalnya cuma Haji Hanafi yg sayatan sunatnya melenceng dan situ sedang mengencingi sepatu saya”..  

Berapa banyak yang Hadir Gus Dur memang sangat humoris hingga pelawak-pelawak Srimulat jadi kelabakan jika beradu lucu dengan Gus Dur. Suatu saat, Tarzan Srimulat dan kawan-kawan mengaku kehabisan bahan untuk melucu karena acaranya didahului dengan sambutan Gus Dur yang sangat lucu. Dalam melucu, Gus Dur tak jarang memulai dengan menertawai dirinya sendiri, sehingga orang lain tak tersinggung. Ketika berceramah di depan kerumunan massa, misalnya, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir. “Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya
 
Beda NU lama dengan NU baru Suatu hari, di bulan Ramadhan, Gus Dur bersama seorang kyai lain (kyai Asrowi) pernah diundang ke kediaman mantan presiden Soeharto untuk buka bersama. Setelah buka, kemudian sholat maghrib berjama’ah. Setelah minum kopi, teh dan makan, terjadilah dialog antara Soeharto dan Gus Dur. Soeharto: “Gus Dur sampai malam di sini?” Gus Dur: “Engga Pak! Saya harus segera pergi ke ‘tempat lain’.” Soeharto: “Oh iya ya ya… silaken. Tapi kyainya kan ditinggal di sini ya?” Gus Dur: “Oh, iya Pak! Tapi harus ada penjelasan.” Soeharto: “Penjelasan apa?” Gus Dur: “Sholat Tarawihnya nanti itu ‘ngikutin’ NU lama atau NU baru?” Soeharto jadi bingung, baru kali ini dia mendengar ada NU lama dan NU baru. Kemudian dia bertanya. Soeharto: “Lho NU lama dan NU baru apa bedanya?” Gus Dur: ” Kalau NU lama, Tarawih dan Witirnya itu 23 rakaat.” Soeharto: “Oh iya iya ya ya… ga apa-apa….” Gus Dur sementara diam. Soeharto: “Lha kalau NU baru?” Gus Dur: “Diskon 60% !” Hahahahahaha…. (Gus Dur, Soeharto, dan orang-orang yang mendengar dialog tersebut pun tertawa.) Gus Dur: “Ya, jadi sholat Tarawih dan Witirnya cuma tinggal 11 rakaat.” Soeharto: “Ya sudah, saya ikut NU baru aja, pinggang saya sakit  

Dialog Presiden Dengan Tuhan a. Ronald Reagen (AS), ” Tuhan, kapan negara kami makmur?, Tuhan jawab,” 20 tahun lagi”. Presiden AS menangis. b. Presiden Syarkozy ( Prancis), ” Tuhan, kapan negara Prancis makmur?, Tuhan menjawab, ” 25 tahun lagi”, Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis. c. Tony Blair ( PM. Inggris ). ” Tuhan, kapan negara Inggeris bisa makmur”, Tuhan menjawab,” 20 tahun lagi”, PM. Tony Blair ikut juga menangis. d. Gusdur ( Presiden RI),” Tuhan, kapan negara Indonesia bisa makmur?,” ternyata Tuhan tidak jawab, gantian Tuhan yang menangis.