Jumat, 04 September 2009

Materi Kuliah PBS " Fonologi"

Materi Kuliah

Fonologi Bahasa Indonesia

Oleh

Imam Suhairi,S.Pd

(Dosen Pembina Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep)

Untuk Kalangan Sendiri

MAHASISWA KELAS KHUSUS

S T K I P P G R I S U M E N E P

DI KANGEAN

2008/2009

  1. Bunyi Diftong

Dihasilkan dengan kualitas posisi lidah berubah,naik turun. Menurut Daniel Jones dalam Yulianto(1988:39) ada 3 macam diftong :

1. Diftong naik (rishing diphthong), terjadi jika lidah naik saat menghasilkannya. Saat mengucapkan vokal pertama lebih rendah dibandingkan dengan vokal terakhir.

Diftong /ai/ pada pantai, /au/ pada pantau, /oi/ pada sepoi

2. Diftong turun (falling diphthong), saat menghasilkannya lidah bergerak menurun. Tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa jawa.

Diftong /ua/ pada uadoh (sangat jauh), /uє/ pada uenteng (sangat ringan), /uo/ pada duawa (sangat panjang), /uә/ pada guedhe (sangat besar).

3. Diftong memusat (centring diphthong), arah lidah menuju lidah menuju posisi saat menhasilkan vocal sedang-tengah (pusat). Terdapat dalam bahasa Inggris. /iә/ pada ear (telinga), /ua/ pada poor (miskin),/єә/ pada there (disana), /Oә/ pada floor (lantai)

4.

  1. Klasifikasi Konsonan dan Alofonnya

Konsonan dihasilkan dengan cara merintangi udara saat pembentukanya. Pembedaan konsonan ditentukan oleh tiga faktor : keadaan pita suara, pendekatan alat-alat ucap, dan cara artikulasi.

a. Berdasarkan keadaan pita suara :

1. Konsonan bersuara (voice consonant), pita suara bergetar. Pita suara dalam keadaan merapat dan merenggang, sehingga bunyi yang dihasilkan berat.. fonem konsonan bersuara /b/,/m/,/w/,/d/,/z/,/n/,/r/,/l/,/j/,/ň/,/y/,/g/,dan /ŋ/

2. Konsonan tak bersuara (voiceless consonant), pita suara lemah dalam getarannya. Pita suara meranggang, sehingga udara mudah masuk.

Konsonan /p/,/f/,/t/,/s/./c/,/ś/,/k/,/x/,/?/,dan /h/. Bisa dibuktikan dengan cara menutup lubang telinga rapat-rapat saat mengucapkan.

b. Berdasarkan daerah artikulasinya :

1. Konsonan bilabial, dihasilkan mempertemukan bibir bawah dengan bibir atas. Konsonan /p/,/b/,/m/,/w/.

2. Konsonan labiodental, articulator adalah bibir bawah (labium) dengan titik artikulasi gigi atas (dentum). Konsonan /f/,/v/

3. Konsonan apikodental, dihasilkan ujung lidah (apeks) dengan dentum (gigi atas). Konsonan /n/,/t/,/d/

4. Konsonan apikoalveolar, antara ujung lidah dengan lengkung kaki gigi (alveolum). Konsonan /t/,/d/,/l/,/r/

5. Konsonan laminoalveolar, daun lidah (lamina) menyentuh alveolum. /z/ dan /s/

6. Konsonan palatal, tengah lidah (medium) menyentuh palatum (langit-langit keras). Konsonan /c/,/j/,/ś/,/y/,/ň/

7. Konsonan velar, pangkal lidah (dorsum) dengan velum (langit-langit lunak). Konsonan /k/,/g,/x/,/, dan / ŋ/

8. konsonan glottal, glotis dalam keadaa sempit (tertutup). Konsonan stop /?/, dan /h/

c. Berdasarkan cara artikulasinya

1. Konsonan hambat (stop), yang dihasilkan dengan cara menutup arus udara rapat sehingga udara terhenti seketika, lalu dilepaskan kembali secara tiba-tiba. Tahap pertama (penutupan) disebut implosive, misal : /p/ pada atap (stop implosif), dan /p/ pada paku (eksplosif)

Bunyi stop lain : /b/,/t/,/d/,/k/,/g/,/?/

2. Konsonan afrikatif (paduan), bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup rapat, kemudian dilepas seara berangsur-angsur. Misal : /c/,/j/

3. Konsonan Frikatif (geser), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menghambat arus udara sehingga arus udara tetap dapat keluar. Misal : /f/,/v/,/s/,/z/,/ś/,/x/

4. Konsonan tril (getar), dengan cara arus udara ditutup dn dibuka berulang-ulang secara cepat. Misal : /r/

5. Konsonan lateral (samping), dengan cara arus udara ditutup sedemikian rupa sehingga udara masih bisa keluar melalui salah satu atau kedua sisi-sisi rongga mulut. Misal : /l/

6. konsonan nasal (hidung), arus udara yang lewat rongga mulut ditutup rapat, sehingga dialirkan lewat rongga mulut. Misal /m/,/n/,/ň/, dan /ŋ/

  1. Gugus Konsonan (kluster)

Gugus konsonan atau kluster merupakan deretan dua konsonan atau lebih yang tergolong dalam satu suku kata yang sama (Moelyono dalam Yulianto, 1988:55). Tidak setiap konsonan yang berderet dapat dimasukkan gugus konsonan/kluster. Pada kata makhluk/maXIU?/ bukan termasuk kluster, sebab suku kata bentuk tersebut adalah makh/maX/ dan luk/lU?/. Sedangkan pada kata mantra termasuk kluster sebab suku katanyta adalah man dan tra. /tr/ alam satu kata.

Contoh lain : /pl/ pada plas-tik, /gr/ pada gra-fik, /ns/ trans-mi-gra-si /str/ pada stra-te-gi, /skr/ pada skrip-si, /sw/ pada swa-la-yan, /dw/ pada dwi-fung-si

  1. Suku Kata dan Polanya

Suku kata merupakan bagian kata yang diucapkan dalam satu hembusan nafas. Suku kata umumnya terdiri atas beberapa fonem. Ada pula yang hanya terdiri atas satu fonem. Ada pula suku kata yang bukan bagian dari kata, maksudnya sebuah kata yang hanya terdiri atas satu suku kata. Kata yang demikian itu disebut monosilabik.

Suku kata selalu ditandai adanya sebuah vokal. Vokal yang menandai suku kata, dalam pengucapan selalu menampakkan kenyaringan/sonoritas. Vokal inilah sebagai puncak suku kata. Konsonan yang mengawali vokal dalam suku kata disebut tumpu suku (onset silaba) sedangkan konsonan yang mengakhiri vokal disebut koda suku (koda silaba)

1. puncak suku : i-bu

2. puncak suku + koda suku : in-tan

3. tumpu suku + puncak suku : ti-kus

4. tumpu suku + puncak suku + koda suku : per-gi

Suku kata yang diakhiri dengan puncak suku/vokal disebut suku buka, sedangkan suku kata yang diakhiri koda suku/konsonan disebut suku tutup.

Pola penyukuan tidak sama dengan pemenggalan kata. Penyukuan kata berkaitan dengan kata sebagai satuan bunyi bahasa sedangkan pemenggalan kata berhubungan dengan kata sebagai satuan tulisan. Pola suku kata lazimnya ditandai dengan symbol “V’ dan “K” yang masing-masing menyatakan vokal dan konsonan. Konsonan bahasa Indonesia dapat mengambil bentuk :

1. satu vokal (V) : i-bu,i-a

2. satu vokal dan satu konsonan (VK) : il-mu, ar-ti

3. satu konsonan dan satu vokal (KV) : ar-ti, pak-sa

4. satu konsonan, satu vokal, dan satu konsonan (KVK) : per-lu, sa-lam

5. dua konsonan dan dan satu vokal (KKV) : dra-ma

6. dua konsonan, satu vokal, dan satu konsonan (KKVK) : trak-tor

7. satu konsonan, satu vokal, dan dua vokal (KVKK) : teks-til

8. tiga konsonan dan satu vokal (KKKV) : stra-te-gi

9. tiga konsonan, satu vokal, dan satu konsonan (KKKVK) : struk-tur

10. dua konsonan,satu vokal, dan dua konsonan (KKVKK) : kom-pleks

11. satu konsonan, satu vokal, dan tiga konsonan (KVKKK) : korps

  1. Bunyi segmental dan Suprasegmental

Bunyi segmental mengacu pada pengertian bunyi-bunyi yang dapat disegmentasi/dipisah-pisahkan. Kata matang misalnya, dapat disegmentasi menjadi /m/,/a/,/t/,/a/,/n/,/g/. Jelas bunyi-bunyi tersebut menunjukkan adanya fonem. Dengan demikian, sebenarnya bunyi-bunyi bahasa yang telah diuraikan sebelumnya adalah bunyi segmental.

Sedangkan bunyi suprasegmental tidak dapat disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi ini selalu mengiringi, menindih, atau menemani bunyi segmental. Bunyi suprasegmental dikelompokkan beberapa aspek :

(a) nada/pitch ( tinggi-rendah)

Dalam penuturan nada suara tidak fungsional/tidak membedakan makna. Penuturan yang diucapkan secara berlagu, maknanya sama dengan ketika diucapkan secara biasa.

[aku], [membaca], [buku] pengucapan dengan nada apapun tidak mengubah makna.

(b) Tekanan/aksen

Tekanan dalam tuturan berfungsi membedakan maksud dalam tataran sintaksis (kalimat), tetapi tidak membedakan makna dalam tataran kata (leksis).

Kata [menulis] ketika diucapkan pada silaba pertama [me] tetap sama maknannya ketika diucapkan dengan tekanan pada silaba kedua atau ketiga. Berbeda dengan kalimat Besok teman saya berangkat ke Surabaya, dapat bermakna lima kemungkinan.

1. Besok teman saya berangkat ke Surabaya = maksudnya bukan hari ini atau kemarin

2. Besok teman saya berangkat ke Surabaya = maksudnya bukan saudara saya atau orang lain

3. Besok teman saya berangkat ke Surabaya = memang teman saya bukan teman kamu

4. Besok teman saya berangkat ke Surabaya = memang benar-benar mau berangkat

5. Besok teman saya berangkat ke Surabaya = berangkat ke Surabaya bukan ke kota lain

(b) durasi

Tidak fungsional dalam dalam tataran kata. Kata [jatuh] diucapkan panjang-pendek pada silaba pertama atau kedua sama saja [ja:tuh] atau [ja:tu:h]

Pada kalimat bermakna penyagatan. Awas, jatuh [ awa:s/jatu:h], dia sangat perhatian padaku

(c) Jeda (kesenyapan)

Jeda ini terasa lebih fungsional bila dibanding dengan suprasegmental yang lain.

1.a. Anak/pejabat yang nakal itu telah dimejahijaukan = yang nakal adalah pejabat

b.Anak pejabat/yang nakal itu telah dimejahijaukan = yang nakal adalah anak pejabat

2. a. Ia membeli buku/sejarah baru = yang baru sejarahnya

b. Ia membeli buku sejarah/baru = yang baru bukunya

Dalam penulisan untuk membedakan kekaburan makna frase-frase tersebut diberi tanda penghubung (-)

1.a. Anak pejabat-yang nakal itu telah dimejahijaukan

b. Anak-pejabat yang nakal itu telah dimejahijaukan

2.a. Ia membeli buku sejarah-baru

b. Ia membeli buku-sejarah baru

(d) Intonasi

Dengan kajian intonasi, kalimat dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat berita/deklaratif, kalimat tanya/interogatif, dan kalimat perintah/imperatif

Kalimat deklaratif ditandai dengan intonasi datar-turun. Rumah sekarang mahal

2 33/2 33/2 31,#

Kalimat interogatif dengan intonasi datar-naik, Rumah sekarang mahal ?

2 33/2 33/2 2-33,#

Kalimat imperative dengan intonasi datar-tinggi. Kamu sekarang ke sini!

2 33/2 33/3 33,#

  1. Fonemik

Fonem adalah kesatuan bunyi terkecel suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Untuk mengetahuinya, maka harus membandingkan dengan bentuk-bentuk lain.

Bentuk linguistic [palang] dapat dipisah menjadi [p],[a], [l],[a],[n],[g]. kelima bentuk linguistic ini tidak mempunyai makna. Jika [p] diganti dengan bentuk lain, misal [m] pada malang, [d] pada dalang, dan [g] pada galang, terbukti fonem [p] berfungsi membedakan makna.

6.1 Fonemisasi dan Pasangan Minimal

Fonemisasi adalah prosedur menemukan fonem-fonem yang ada dalam suatu bahasa. Fonemisasi bertujuan praktis menciptakan ejaan (ortografi) sebuah bahasa.

Tahapan-tahapan fonemisasi : penyusunan (arranging), pembandingan (comparing), dan penggabungan (combining).

Misal ditemukan kata-kata : baku, saku, buku, baru, dan baki disusun dan dibandingkan, misal :

Baku baku baku baku

Saku buku baru baki

/b/ /s/ /a/ /u/ /k/ /r/ /u/ /i/

Pada penggabungan ditemukan fonem /b/,/s/,/a/,/u/,/i/,/k/,/r/.

Pasangan Minimal/minimal pairs adalah seperangkat kata yang memiliki jumlag fonem sama, juga jenis fonem yang sama, kecuali fonem yang berbeda pada urutan yang sama, sedangkan artinya berbeda.

Contoh : data babak cocok

dada bapak coco?

dana b, p k, ?

t,d,n

6.2 Distribusi Komplementer dan Variasi Bebas

Bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip apabila berdistribusi komplementer merupakan sebuah fonem. Contoh : bunyi /k/ pada paku dan/k/ pada maki seara fonetis sama persis. Bunyi /k/ yang pertama tergolong velar belakang karena dipengaruhi bunyi vokal /u/, dan bunyi /k/ yang kedua tergolong velar depan karena dipengaruhi vokal /i/. juga pada /y/ pada yaitu dan yang.

Variasi bebas adalah bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip, jika dapat saling menggantikan dalam suatu kata dan tidak menyebabkan perubahan arti. Hal ini merupakan sebuah fonem. Hal ini terdapat dalam bahasa-bahasa yang mempunyai beberapa dialek.

Misal : telur patur lubang juang

telor pastor lobang joang

6.3 Fonem dan Distribusi Fonem

Terdapat enam fonem vokal (monoftong) dalam bahasa Indonesia : /i/,/e/,/ә/,/u/,/a/dan,/o/

Terdapat diftong (vokal rangkap), yakni /ay/,/aw, dan /oy/ sedangkan konsonan meliputi : /y/,/w/,/l/,/p/,/b/,/f/,/m/,/t/,/d/,/c/,/j/,/s/,/z/,/r/,/n/,/ň/,/ś/,/?/,/k/,/g/,/X/,/ŋ/,dan /h/

Kasus /f/ dan /v/ dalam ejaan bahasa Indonesia kedua lambing/grafem ini digunakan. Namun, kedua huruf/grafem itu melambangkan satu fonem, yaitu /f/. Seperti kata ditulis fariasi atau variasi tidak akan menimbulkan perbedaan arti. Sama halnya dengan /q/ dan /k/ yang dilambangkan dalam satu fonem /k/

fonem

alofon

grafem

contoh

/i/

I

i

ibu, baIk

u

U

u

usap, agUŋ

e

є

e

bebas, kәlєreŋ

ә

є

o

O

o

toko,tOkOh

a

a

apa,paksa

ay

ai

pantai

aw

au

pulau

oy

oi

amboi

y

yh

y

saya, yhaitu

w

w

sewa

l

l

pula

p

p

atap

f

F dan v

Taraf, vokal

m

m

mati

t

t

tetap

d

d

pada

c

c

cecak

j

j

juga

s

S dan sh

Iris,sholat

z

z

Azis,zaman

r

r

rusa

n

n

mantap

ň

ny

nyanyi

ś

sy

syarat

?

Tidak ada(zero)

ma?af=maaf

k

K dan q

Kuda, quran

g

g

gadung

X

kh

maXlU?=makhluk

ŋ

ng

dengan

h

ĥ

h

Pihak, tahu(paham)

Fonem-fonem dapat didistribusikan dengan lengkap (inisial/awal kata, medial/tengah kata, dan final/akhir kata.

  1. Proses Fonologis

Segala proses yang menyangkut terjadinya perubahan bunyi bahasa. Perubahan terjadi pada kata dasar, maupun kata turunan akibat afiksasi ataupun proses morfologis lainnya.

1. Asimilasi, adalah proses perubahan bunyi yang mengakibatkan mirip atau sama dengan bunyi lain di dekatnya. Contoh : kata tentang dan tendang. /t./ pertama diucapkan apikodental, sedangkan /t/ kedua diucapkan apikoalveolar karena mengikuti bunyi /d/

2. Disimilasi, adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi bunyi yang tidak sama atau berbeda. Contoh : kata belajar berasal dari ber+ajar, seharusnya berajar, karena ada dua bunyi /r/ maka disimilasi menjadi belajar

3. Modifikasi Vokal, perubahan bunyi vokal sebagai akibat dari pengaruh bunyi lain yang mengikutinya. Contoh : kata balik. Vokal /i/yang diucapkan rendah. Tetapi ketika mendapat akhiran-an menjadi balikan, tergolong /i/ tinggi. Perubahan ini disebut metafoni

Kata toko dan tokoh. Bunyi vokal pertama /o/ dan vokal kedua /O/ karena silaba kedua berbunyi /O/ pada tokoh, maka silaba /o/ pertama pada tokoh juga harus berbunyi/O/. Perubahan ini disebut apofoni.

4. Zeroisasi, penghilangan bunyi fonemis sebagai upaya penghematan. Ada tiga model

a. aferesis : penghilangan fonem pada awal kata Contoh : tapi untuk tetapi, peperment menjadi permen.

b. apokop : penghilangan satu atau lebih fonem pada akhir kata. Misal : president menjadi presiden

c. sinkop : penghilangan pada tengah kata. Contoh : baharu pada baru, dahulu pada dulu

5. Metatesis, perubahan urutan bunyi fonbemis pada suatu kata, sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing. Contoh : kerikil menjadi kelikir, jalur menjadi lajur

6. Diftongisasi, perubahan bunyi monoftong menjadi diftong. Contoh: sentosa menjadi sentausa, teladan menjadi tauladan

7. Monoftongisasi, perubahan dua bunyi vokal menjadi vokal tunggal. Contoh : ramai menjadi rame, kalau menjadi kalo, petai menjadi pete

8. Anaptiksis, perubahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi vokal tertentu untuk memperlancar uacapan. Ada tiga jenis :

a. protesis, penambahan pada awal kata. Contoh : mpu menjadi empu, ,mas menjadi emas

b. epentesis, penambahan bunyi pada tengah kata. Misal : kapak menjadi kampak, upama menjadi umpama, sajak menjadi sanjak

c. paragog adalah penambahan bunyi pada akhir kata. Contoh : ina menjadi inang, hulubala menjadi hulubalang.

Tidak ada komentar: