Rabu, 31 Desember 2014

Liburan Hedonis atau Sosial?



Oleh
Imam Suhairi




Bagi saya yang hampir 12 jam bergelut dalam dunia pendidikan tiap harinya, liburan sekolah seperti semester ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Mengemberikan karena selama satu semester bisa dibilang penat dari aktivitas pembelajaran di sekolah. Mendambakan suasana santai di rumah bersama keluarga dalam waktu dua pekan sesuatu yang menyenangkan.
Awal liburan tahun ini saya sempatkan untuk menjenguk keluarga teman sekantor yang sakit di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Karena bersama dengan teman-teman, kami mampir di salah satu plaza di kota metropolis kedua setelah ibukota tersebut. Hanya sekedar jalan-jalan, meskipun sebenarnya capek dan gak ada tujuan, karena tidak punya uang untuk belanja di pusat perbelanjaan yang banyak menawarkan aneka produk tersebut.
Liburan ini pula, banyak teman seprofesi dengan saya yang tanya tentang liburan,  kemana dan menikmati apa? Seolah liburan adalah rekreasi ke tempat-tempat wisata di luar kota. Bagi mereka yang tak berlibur dianggap kurang “keren”.  Tak ayal, banyak teman-teman yang bepergian ke luar kota bersama keluarganya bahkan rekan sekerja untuk rekreasi ke tempat wisata dan pusat perbelanjaan. Bahkan ada kabar, beberapa petinggi sekolah menengah malah memilih berlibur ke luar negeri dengan judul “studi banding”.
Di bagian lain, ada komunitas masyarakat yang mengisi liburan mereka dengan kegiatan sosial dan kegiatan spiritual. Sebuah organisasi sayap NU, LKNU Sumenep malah mengisi liburan dengan kegiatan “Khitanan Masal”. Kelompok-kelompok pengajian di kampung melakukan perjalan ziarah wali di tanah Jawa dan Madura.
Bagi kita, tentu bisa mencerna apa yang kita pilih dalam berlibur. Terjebak pada liburan yang bergaya hedonis dan konsumerisme atau lebih bermanfaat bagi sesama dengan bergabung pada kegiatan sosial. Semoga jadi renungan!

Tidak ada komentar: