Jumat, 29 Maret 2013

Gaya Blusukan Gubernur Jokowi dan Sayyidina Umar bin Khattab

Gubernur Jakarta Joko widodo dikenal gubernur paling hobi blusukan, dikenal terjun langsung keliling Jakarta, melihat kehidupan warganya. Pagi, siang, dan malam, pimpinan tertinggi Ibu kota Indonesia ini tak henti menyambangi berbagai tempat. Mulai dari sungai, rumah susun, taman, hingga pintu air. Ini dilakukannya tanpa protokoler, tanpa rencana, tidak ada sekat antara dirinya dan warga. Dia bebas bergerak untuk bertatapan langsung dengan penduduk.

Bagi Jokowi, blusukan itu penting untuk mengetahui masalah tengah dihadapi warga, mengontrol apakah instruksi dia berikan untuk perbaikan sarana dan prasarana bagi penduduk sudah dikerjakan aparat pemerintahannya, sekaligus memikirkan solusi persoalan Jakarta, terutama macet dan banjir.

Jauh sebelum Jokowi melakukan hal ini, sudah ada Khalifah Umar bin Khattab memberi contoh bagi para pemimpin untuk terjun langsung melihat rakyatnya. Umar seolah tak punya rasa lelah utuk mengetahui persoalan warga, dan setelahnya, dia sendiri yang turun tangan untuk mengatasi masalah itu, seperti dilansir islamicmovement.org.

Berbanding terbalik, jika pemburu berita kerap mengintili Jokowi saat blusukan, Khalifah Umar justru enggan aksinya menolong warga diketahui orang lain. Dia melakukannya sembunyi-sembunyi.

Saat suatu malam Umar tengah berjalan-jalan, dia mendengar suara perempuan merintih kesakitan. Dia segera mendatanginya dan menemui wanita itu hendak melahirkan. Di sebelahnya ada sang suami tidak tahu harus berbuat apa. Maka pulanglah Umar, memanggil istrinya Ummu Kalsum untuk menolong perempuan itu melahirkan. Pertolongan keduanya berjalan lancar, bayi lahir dengan selamat. Wanita itu tidak pernah tahu, yang menolongnya adalah Umar, pemimpin tertingginya.

Pada kisah lain menceritakan, Umar kembali meronda malam-malam untuk melihat keadaan dan mencari orang membutuhkan pertolongan. Dari sebuah perumahan kumuh, dia mendengar tangisan pilu anak-anak. Didengarnya dari luar gubuk itu, seorang ibu tengah menenangkan gelisah para buah hatinya. Mereka kelaparan dan tidak bisa tidur. Tidak mempunyai bahan makanan, sang ibu merebus batu dan selalu mengatakan masakannya belum matang dengan harapan anak-anaknya bakal kelelahan menunggu masakan selesai dan tertidur.

Umar seketika menangis melihat keadaan itu. Dia langsung menuju gudang makanan kota dan memanggul sekarung bermacam-macam bahan makanan untuk diserahkan pada ibu itu. Dia bahkan tidak mengijinkan pengawalnya ikut membantu. Sesampainya di rumah itu, Umar segera memberikan ransum dan memasaknya sendiri. Dia juga menyuapi anak-anak itu satu per satu. Dengan perut kenyang, mereka pun terlelap. Khalifah itu pamit pulang. Sama seperti perempuan melahirkan, ibu itu tidak tahu orang datang itu adalah sang Khalifah Umar bin Khattab.

Itu tadi sepenggal kisah blusukan dilakukan Umar bin Khattab. Meski tak banyak petinggi dunia melakukan hal sama, tapi sang khalifah telah mengajarkan terjun langsung melihat, dan mendekat dengan warga membawa hikmah luar biasa dan mendekatkan jiwa pemimpin dengan orang yang dipimpin. Sebaliknya, penguasa tidak tahu keadaan sekitar hanya tinggal menunggu kedigdayaannya selesai dengan tragis sebab dibenci rakyat. (dari berbagai sumber)

Senin, 11 Februari 2013

KUFUR NIKMAT MELALUI TARIKAN NAFAS

Bernafas, mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas dari kegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini sebenarnya bernilai miliaran rupiah? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari setiap udara yang dihirup.

Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila perorang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.

Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.




Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.
Dalam sehari manusia menghirup 2.880 liter Oksigen dan 11.376 liter Nitrogen


2.880 x Rp.25.000,- = Rp. 72.000.000,-
11.376 x Rp. 9.950,- = Rp.113.191.200,-
—————————————
Total biaya sehari = Rp.185.191.200,-

biaya bernafas 1 bulan = 30 x 185.191.200,- = Rp.5.555.736.000,-

1 tahun 365 hari, maka biaya untuk bernafas selama 1 tahun
365 x 185.191.200 = Rp.67.594.788.000,-


Jika harus dihargai dengan Rupiah maka Oksigen & Nitrogen yang kita hirup, akan mencapai Rp.185Juta lebih/hari/manusia.
Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.

Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah,  

“katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42).

Masihkah kita belum mau BERSYUKUR ? ? ! 


(share dari http://annangws.blogspot.com)

Minggu, 13 Januari 2013

Kisah Inspiratif : Antara Gelas dan Telaga

Ada seorang pemuda sedang kalut dirundung masalah yang menimpa dirinya datang menemui Pak Tua. Pak Tua yang duduk bersila dengan tenang itu seakan memang menyambut kehadiran pemuda itu. Pemuda akhirna menceritakan semua masalah hidup yang selama ini menyebabkannya selalu tidak tenang, kecewa dalam hidup, dan ketidaknyamanan lainnya. Pak Tua kemudian menyuruh anak muda itu untuk mengambil segelas air putih. Sebungkus bubuk putih pahit dikeluarkan oleh Pak Tua dari sakunya dan dilarutkan pada air yang diwadahi gelas tadi, lalu disuruh minum pada pemuda tadi.
 " Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya" ujar Pak Tua.
 " Ah, pahit sekali ", kata Pemuda tadi.

Pak Tua tersenyum, lalu mengajak pemuda itu berjalan menyusuri sebuah telaga yang tenang nan jernih. Lalu Pak Tua itu kembali mengeluarkan serbuk pahit tadi dan menebarkannya ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu diaduklah serbuk yang larut itu dalam telaga.
"coba ambil air dalam telaga ini, dan minumlah dan katakan bagaimana rasanya!" perintah Pak Tua pada pemuda itu lagi.
" emmm, segar!" ujar pemuda tadi.
"Apakah kamu merasakan pahit dalam air yang kamu minum dari telaga itu?" tanya Pak Tua
" Tidak'", jawab pemuda

Pak Tua tersenyum lalu berkata" Anak muda dengarkan baik-baik, pahitnya kehidupan sama seperti segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah rasa pahitnya pun akan sama dan tetap sama. Tapi kepahitan yang akan kita rasakan bergantung pada wadah yang kita miliki. Wadah itu adalah hati kita, tempat menampung aktivitas hidup. Jangan jadikan hati kita seperti gelas, tapi buatlah laksana telaga yang dapat menampung semua kepahitan hidup dan mengubahnya menjadi sebuah kesegaran dan kedamaian. Hati kita akan menjadi telaga dan lautan dengan jalan zikir tanpa henti." 

Pemuda tadi tertegun mendengarnya-------sementara Pak Tua telah hilang dari hadapannya...