Jumat, 27 Desember 2013

Tafakur Bersama Rumput Liar


Oleh
Imam Suhairi

Di depan rumah, terdapat lahan pekarangan yang cukup luas, sekitar 14 x 10 m2. Mungkin di benak banyak orang dan teman, pekarangan yang luas cukup enak, bisa menanam berbagai jenis pohon. Namun tidak bagi saya dan mungkin juga anggota keluarga yang tinggal di rumah ini. Tiap kali datang musim hujan, pasti ada banyak rumput liar yang tumbuh subur menghijau memenuhi seluruh sisi halaman yang memang tidak beraspal tersebut. Di luar pagar malah lebih hebat, menutupi sisi pinggir jalan raya dan selokan.

Rumput yang menghijau satu sisi enak dipandang mata, tapi kalau tumbuhnya tidak teratur seperti rumah yang tidak bertuan dan tidak dirawat. Beberapa kali saya kena "semprit" oleh Pak RT karena dianggap dengan sengaja membiarkan pekarangan dan pinggir jalan ditumbuhi rumput yang tidak disukai alias liar. Tidak jarang saya mempekerjakan orang sampai 3 hari untuk mencabuti dan membersihkan rumput liar kalau telah tumbuh meninggi, meskipun sebelum hari berakhir, rumput baru tumbuh lagi. Jika lupa atau tidak sempat, maka rumput yang tumbuh dari balik batu fondasi itu sudah menutupi selokan, sehingga menghambat arus air yang lewat.
Seorang teman memberikan tips untuk menahan agar rumput tidak tumbuh lagi, yaitu dengan menyiramkan oli bekas di tempat tumbuhnya. Saya sudah coba, tetapi hanya bertahan beberapa minggu saja. Mungkin oli bekas itu sudah kebawa arus air selokan, sehingga sebentar kemudian sudah tumbuh lagi.
Pernah juga tanah yang sering ditumbuhi rumput itu saya tutup pakai batu bata dan . Tapi dari bekas retakan dan lobang-lobang yang digerus oleh arus air, tersembul kembali pucuk-pucuk rumput yang ‘indah’ berwarna hijau muda. Sambil nyabuti rumput saya berpikir betapa gigihnya makhluk Allah ini. Dia memiliki semangat hidup (spirit of life) yang luar biasa. Diperlakukan seperti apapun juga, dibasmi bagaimanapun juga, ia tetap mencoba bertahan hidup, tumbuh dan berkembang biak.
Dia selalu keluar dari kesulitan yang dihadapi untuk mempertahankan eksistensinya. Dia selalu pecahkan masalah yang ada di depannya dengan kesabaran dan kegigihannya. Dia akan bertahan sebentar utk tidak muncul ketika ada oli bekas, namun akan segera tumbuh lagi begitu situasinya memungkinkan baginya.

Sambil mencabuti akar dan batang rumput,saya terus berfikir dan merasa malu dengan kegigihan tanaman yang sering disia-siakan orang itu. Kita yang dikaruniai segala kelebihan dan keunggulan dibandingkan rumput, ternyata kadang lebih lemah darinya. Kita sering merasa lemah, tidak bersemangat dan malas menyelesaikan masalah yang kuhadapi. Kesulitan dan hambatan itu seolah datang bertubi-tubi dan membuat tidak berdaya menghadapinya.
Menghadapi hujan saja kita sering mengeluh dan membuatku batal melaksanakan tugas dan amanah yang kita emban. Menghadapi terik matahari juga menyebabkan kita mengeluh dan berkata “panas sekali hari ini!” sambil melampiaskan kekesalan.

Belajar dari rumput liar, kita seharusnya malu. Rumput tidak pernah mengeluh (atau tepatnya aku tidak pernah mendengar keluhannya). Rumput hanya menjalani kehidupannya dan bertahan hidup di lingkungannya. Rumput selalu sibuk mencari jalan keluar. Rumput akan tetap menyembul dan tumbuh meskipun dihambat dengan batu dan adukan semen. Batang rumput itu sampai berkelok-kelok mengikuti celah-celah batu yang masih dapat dilalui, menyembulkan tunas-tunas baru yang tumbuh kembali. Rumput bermanfaat bagi makhluk lain, dipangkas untuk pakan ternak sapi dan kambing. Sementara kita tiap saat selalu tampil egois untuk tidak pernah atau jarang berbagi dengan orang lain. Terima kasih rumput liar halaman rumah. (Penulis adalah pemantau rumput)

Tidak ada komentar: