Jumat, 04 September 2009
Materi Kuliah PBS " Semantik"
Pengertian Semantik
Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda) yang
berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah ‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau
‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik
(Perancis : signé linguistique).
Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda lingustik terdiri dari :
1) Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa.
2) Komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan sedangkan yang ditandai atau
dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent
/ acuan / hal yang ditunjuk.
Jadi, Ilmu Semantik adalah :
Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
ditandainya.
Ilmu tentang makna atau arti.
A. Batasan Ilmu Semantik
Istilah Semantik lebih umum digunakan dalam studi ingustik daripada istilah untuk ilmu
makna lainnya,seperti Semiotika, semiologi, semasiologi,sememik, dan semik. Ini dikarenakan
istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang cukup luas,yakni mencakup
makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda lalulintas, morse, tanda matematika,
dan juga tanda-tanda yang lain sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna atau
arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
B. Hubungan Semantik dengan Tataran Ilmu Sosial lain
Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik
yang memiliki hubungan dengan Imu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan juga
dengan filsafat dan psikologi.
1
1. Semantik dan Sosiologi
Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan
bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitas
kelompok penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan
identitas kelompok penuturnya.
Kata ‘cewek’ identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata ‘wanita’ terkesan
lebih sopan, dan identik dengan kelompok orang tua yang mengedepankan
kesopanan.
2. Semantik dan Antropologi.
Semantik dianggap berkepentingan dengan antropologi dikarenakan analisis makna pada
sebuah bahasa, menalui pilihan kata yang dipakai penuturnya, akan dapat menjanjikan
klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti ‘lapar’ dapat
mencerminkan budaya penuturnya.
Karena kata ‘ngelih’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat Jogjakarta.
Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat daerah Jombang.
C. Analisis Semantik
Dalam analisis semantik, bahasa bersifat unik dan memiliki hubungan yang erat dengan
budaya masyarakat penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat
digunakan untuk menganalisi bahasa lain.
Contohnya penutur bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘rice’ pada bahasa Inggris
yang mewakili nasi, beras, gabah dan padi.
Kata ‘rice’ akan memiliki makna yang berbeda dalam masing-masing konteks yang
berbeda. Dapat bermakna nasi, beras, gabah, atau padi.
2
Tentu saja penutur bahasa Inggris hanya mengenal ‘rice’ untuk menyebut nasi, beras,
gabah, dan padi. Itu dikarenakan mereka tidak memiliki budaya mengolah padi, gabah, beras dan
nasi, seperti bangsa Indonesia.
Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan bahwa tidak selalu
penanda dan referent-nya memiliki hubungan satu lawan satu. Yang artinya, setiap tanda
lingustik tidak selalu hanya memiliki satu makna.
Adakalanya, satu tanda lingustik memiliki dua acuan atau lebih. Dan sebaliknya, dua
tanda lingustik, dapat memiliki satu acuan yang sama.
Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan contoh-contoh berikut :
Bisa ‘racun’
‘dapat’
buku ‘lembar kertas berjilid’
kitab
3
Jenis Semantik
Semantik memiliki memiliki objek studi makna dalam keseluruhan semantika bahasa,
namun tidak semua tataran bahasa memiliki masalah semantik.
Hal itu dapat dilihat dari bagan berikut :
Fungsi (o semantik)
Tata bahasa
(gramatika) sintaksis kategori
Peran semantik gramatika
morfologi
fonologi (o semantik); tetapi tiap fonem membedakan
(fonemik) makna
Fonetik (o semantik)
Leksikon semantik leksikal
Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan
sintaksis.
Morfologi adalah cabang lnguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses
pembentukannya. Satuan dari morfologi yaitu morfem dan kata.
Contoh :
Ajar pe-lajar
be-lajar pe- dan be- dapat membedakan makna
4
Sedangkan sintaksis, adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam
membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Sintaksis memiliki satuan
yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat.
Semantik sintaktikal memiliki tataran bawahan yang disebut :
a) Fungsi gramatikal
b) Kategori gramatikal
c) Peran gramatikal
Contoh analisis semantik sintaktikal :
Kata
Fungsi Si Udin menjaga adiknya di rumah sakit
fungsi subjek predikat objek keterangan
kategori nomina verba nomina nomina
peran agent benefaktif patient locative
Satuan dan proses dari morfologi dan sintaktik memiliki makna. Oleh karena itu, pada
tataran ini ada masalah-masalah semantik yang disebut semantik gramatikal karena objek
studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.
Kalau yang menjadi objek penyelidikan adalah semantik leksikon, maka jenis
semantiknya adalah semantik leksikal. Semantik leksikal menyelidiki makna yang ada pada
leksem dari bahasa. Oleh karena itu, makna yang ada dalam leksem disebut makna leksikal.
Leksem adalah satuan-bahasa bermakna. Istilah leksem ini dapat dipadankan dengan
istlah kata, yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis,dan yang lazim
didefiinisikan sebagai satuan gramatik bebas terkecil. Baik kata tunggal maupun kompositum
Contoh :
Kambing nama hewan
Hitam jenis warna
Kambing hitam ‘orang yang dipersalahkan’
Manfaat Semantik
5
1. Bagi seorang wartawan, reporter, atau orang-orang yang berkecimpung dalam dunia
persuratkabaran dan pemberitaan :
Mereka akan memperoleh manfaat praktis dari pengetahuan mengenai
semantik,yang dapat memudahkan dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna
yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
2. Bagi peneliti bahasa :
Bagi pelajar sastra, pengetahuan semantik akan banyak member bekal teoritis
untuk menganalisis bahasa yang sedang dipelajari.
Sedangkan bagi pengajar sastra, pengetahuan semantik akan member manfaat
teoritis, maupun praktis. Secara teoritis, teori-teori semantik akan membantu dalam
memahami dengan lebih baik bahasa yang akan diajarkannya. Dan manfaat praktisnya
adalah kemudahan untuk mengajarkannya.
3. Bagi orang awam :
Pemakaian dasar-dasar semantik tentunya masih diperlukan untuk dapat
memahami dunia yang penuh dengan informasi dan lalu-lintas kebahasaan yang terus
berkembang.
Semantik Dalam Studi Linguistik
1. Aristoteles (384 – 322 SM)
Kata adalah satuan terkecil yang mengandung makna. Yaitu (1) makna yang hadir
dari kata itu sendiri secara otonom (makna leksikal), dan (2) makna yang hadir akibat
proses gramatika (makna gramatikal). (Ullman 1977:3)
2. Plato (429 – 347 SM)
Bunyi-bunyi bahasa secara implicit mengandung makna tertentu.
Memang ada perbedaan pendapat antara Plato dan Aristoteles. Pato mempercayai tentang
adanya hubungan berarti antara kata (bunyi-bunyi bahasa) dengan referent-nya. Sedangkan
Aristoteles, berpendapat bahwa hubungan antara bentuk dan arti kata adalah soal perjanjian
antar pemakainya (Moulton 1976 : 3).
6
3. C. Chr. Reisig (1825)
Konsep baru mengenai gramatika :
Gramatika terdiri dari tiga unsure utama, yaitu :
a) Semasiologi – studi tentang tanda
b) Sintaksis – studi tentang susunan kalimat
c) Etimologi – studi tentang asal usul kata,perubahan bentuk kata, dan perubahan
makna
4. Michel Breal (akhir abad XIX)
Dalam karangannya, Essai de Semantique, telah menggunakan istilah semantik.
Dan menyebutnya sebagai suatu bidang ilmu yang baru.
5. Ferdinand de Saussure
Dalam bukunya Cours de Linguistique Generale (1916).
“studi lingustik harus difokuskan pada keberadaan bahasa pada waktu tertentu.
Pendekatannya harus sinkronis, dan studinya harus deskriptif”.
De Saussure juga mengajukan konsep signé (tanda) untuk menunjukkan
hubungan antara signifié (yang ditandai) dan signifiant (yang menandai).
Signifié adalah makna atau konsep dari signifiant yang berwujud bunyi-bunyi
bahasa.
Signifié dan signifiant sebagai signé linguistique adalah satu kesatuan yang
merujukpada satu referent. Yaitu sesuatu, berupa benda atau hal yang dikuar bahasa.
7
Materi Kuliah PBS " Semantik"
Pengertian Semantik
Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda) yang
berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah ‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau
‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik
(Perancis : signé linguistique).
Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda lingustik terdiri dari :
1) Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa.
2) Komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan sedangkan yang ditandai atau
dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent
/ acuan / hal yang ditunjuk.
Jadi, Ilmu Semantik adalah :
Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
ditandainya.
Ilmu tentang makna atau arti.
A. Batasan Ilmu Semantik
Istilah Semantik lebih umum digunakan dalam studi ingustik daripada istilah untuk ilmu
makna lainnya,seperti Semiotika, semiologi, semasiologi,sememik, dan semik. Ini dikarenakan
istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang cukup luas,yakni mencakup
makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda lalulintas, morse, tanda matematika,
dan juga tanda-tanda yang lain sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna atau
arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
B. Hubungan Semantik dengan Tataran Ilmu Sosial lain
Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik
yang memiliki hubungan dengan Imu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan juga
dengan filsafat dan psikologi.
1
1. Semantik dan Sosiologi
Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan
bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitas
kelompok penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan
identitas kelompok penuturnya.
Kata ‘cewek’ identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata ‘wanita’ terkesan
lebih sopan, dan identik dengan kelompok orang tua yang mengedepankan
kesopanan.
2. Semantik dan Antropologi.
Semantik dianggap berkepentingan dengan antropologi dikarenakan analisis makna pada
sebuah bahasa, menalui pilihan kata yang dipakai penuturnya, akan dapat menjanjikan
klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti ‘lapar’ dapat
mencerminkan budaya penuturnya.
Karena kata ‘ngelih’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat Jogjakarta.
Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat daerah Jombang.
C. Analisis Semantik
Dalam analisis semantik, bahasa bersifat unik dan memiliki hubungan yang erat dengan
budaya masyarakat penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat
digunakan untuk menganalisi bahasa lain.
Contohnya penutur bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘rice’ pada bahasa Inggris
yang mewakili nasi, beras, gabah dan padi.
Kata ‘rice’ akan memiliki makna yang berbeda dalam masing-masing konteks yang
berbeda. Dapat bermakna nasi, beras, gabah, atau padi.
2
Tentu saja penutur bahasa Inggris hanya mengenal ‘rice’ untuk menyebut nasi, beras,
gabah, dan padi. Itu dikarenakan mereka tidak memiliki budaya mengolah padi, gabah, beras dan
nasi, seperti bangsa Indonesia.
Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan bahwa tidak selalu
penanda dan referent-nya memiliki hubungan satu lawan satu. Yang artinya, setiap tanda
lingustik tidak selalu hanya memiliki satu makna.
Adakalanya, satu tanda lingustik memiliki dua acuan atau lebih. Dan sebaliknya, dua
tanda lingustik, dapat memiliki satu acuan yang sama.
Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan contoh-contoh berikut :
Bisa ‘racun’
‘dapat’
buku ‘lembar kertas berjilid’
kitab
3
Jenis Semantik
Semantik memiliki memiliki objek studi makna dalam keseluruhan semantika bahasa,
namun tidak semua tataran bahasa memiliki masalah semantik.
Hal itu dapat dilihat dari bagan berikut :
Fungsi (o semantik)
Tata bahasa
(gramatika) sintaksis kategori
Peran semantik gramatika
morfologi
fonologi (o semantik); tetapi tiap fonem membedakan
(fonemik) makna
Fonetik (o semantik)
Leksikon semantik leksikal
Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan
sintaksis.
Morfologi adalah cabang lnguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses
pembentukannya. Satuan dari morfologi yaitu morfem dan kata.
Contoh :
Ajar pe-lajar
be-lajar pe- dan be- dapat membedakan makna
4
Sedangkan sintaksis, adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam
membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Sintaksis memiliki satuan
yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat.
Semantik sintaktikal memiliki tataran bawahan yang disebut :
a) Fungsi gramatikal
b) Kategori gramatikal
c) Peran gramatikal
Contoh analisis semantik sintaktikal :
Kata
Fungsi Si Udin menjaga adiknya di rumah sakit
fungsi subjek predikat objek keterangan
kategori nomina verba nomina nomina
peran agent benefaktif patient locative
Satuan dan proses dari morfologi dan sintaktik memiliki makna. Oleh karena itu, pada
tataran ini ada masalah-masalah semantik yang disebut semantik gramatikal karena objek
studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.
Kalau yang menjadi objek penyelidikan adalah semantik leksikon, maka jenis
semantiknya adalah semantik leksikal. Semantik leksikal menyelidiki makna yang ada pada
leksem dari bahasa. Oleh karena itu, makna yang ada dalam leksem disebut makna leksikal.
Leksem adalah satuan-bahasa bermakna. Istilah leksem ini dapat dipadankan dengan
istlah kata, yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis,dan yang lazim
didefiinisikan sebagai satuan gramatik bebas terkecil. Baik kata tunggal maupun kompositum
Contoh :
Kambing nama hewan
Hitam jenis warna
Kambing hitam ‘orang yang dipersalahkan’
Manfaat Semantik
5
1. Bagi seorang wartawan, reporter, atau orang-orang yang berkecimpung dalam dunia
persuratkabaran dan pemberitaan :
Mereka akan memperoleh manfaat praktis dari pengetahuan mengenai
semantik,yang dapat memudahkan dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna
yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
2. Bagi peneliti bahasa :
Bagi pelajar sastra, pengetahuan semantik akan banyak member bekal teoritis
untuk menganalisis bahasa yang sedang dipelajari.
Sedangkan bagi pengajar sastra, pengetahuan semantik akan member manfaat
teoritis, maupun praktis. Secara teoritis, teori-teori semantik akan membantu dalam
memahami dengan lebih baik bahasa yang akan diajarkannya. Dan manfaat praktisnya
adalah kemudahan untuk mengajarkannya.
3. Bagi orang awam :
Pemakaian dasar-dasar semantik tentunya masih diperlukan untuk dapat
memahami dunia yang penuh dengan informasi dan lalu-lintas kebahasaan yang terus
berkembang.
Semantik Dalam Studi Linguistik
1. Aristoteles (384 – 322 SM)
Kata adalah satuan terkecil yang mengandung makna. Yaitu (1) makna yang hadir
dari kata itu sendiri secara otonom (makna leksikal), dan (2) makna yang hadir akibat
proses gramatika (makna gramatikal). (Ullman 1977:3)
2. Plato (429 – 347 SM)
Bunyi-bunyi bahasa secara implicit mengandung makna tertentu.
Memang ada perbedaan pendapat antara Plato dan Aristoteles. Pato mempercayai tentang
adanya hubungan berarti antara kata (bunyi-bunyi bahasa) dengan referent-nya. Sedangkan
Aristoteles, berpendapat bahwa hubungan antara bentuk dan arti kata adalah soal perjanjian
antar pemakainya (Moulton 1976 : 3).
6
3. C. Chr. Reisig (1825)
Konsep baru mengenai gramatika :
Gramatika terdiri dari tiga unsure utama, yaitu :
a) Semasiologi – studi tentang tanda
b) Sintaksis – studi tentang susunan kalimat
c) Etimologi – studi tentang asal usul kata,perubahan bentuk kata, dan perubahan
makna
4. Michel Breal (akhir abad XIX)
Dalam karangannya, Essai de Semantique, telah menggunakan istilah semantik.
Dan menyebutnya sebagai suatu bidang ilmu yang baru.
5. Ferdinand de Saussure
Dalam bukunya Cours de Linguistique Generale (1916).
“studi lingustik harus difokuskan pada keberadaan bahasa pada waktu tertentu.
Pendekatannya harus sinkronis, dan studinya harus deskriptif”.
De Saussure juga mengajukan konsep signé (tanda) untuk menunjukkan
hubungan antara signifié (yang ditandai) dan signifiant (yang menandai).
Signifié adalah makna atau konsep dari signifiant yang berwujud bunyi-bunyi
bahasa.
Signifié dan signifiant sebagai signé linguistique adalah satu kesatuan yang
merujukpada satu referent. Yaitu sesuatu, berupa benda atau hal yang dikuar bahasa.
7
Materi Kuliah PBS " Sintaksis"
BAB 6
SINTAKSIS
Sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “sun” yang berarti “dengan” dan kata “tattein”
yang berarti “menempatkan”. Secara etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama
kata-kata menjadi kelompok kata / kalimat.
Pembahasan sintaksis meliputi :
A. STRUKTUR SINTAKSIS
Meliputi tentang fungsi sintaksis, kategori sintaksis dan peran sintaksis. Menurut
Verhaar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur SPOK itu merupakan
”kotak-kotak kosong” atau ”tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa
karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa
kategori dan memiliki peranan tertentu.
Contoh :
Nenek melirik kakek tadi pagi.
Tempat kosong yang bernama subjek diisi oleh kata ”nenek” yang berkategori
”nomina” yang memiliki peran ”pelaku (agentif). ”Predikat diisi oleh kata ”melirik” yang
berkategori ”verba” yang memiliki peran ”aktif”. Objek diisi oleh kata ”kakek” yang
berkategori ”nomina” yang memiliki peran ”sasaran”. Tempat kosong yang bernama
keterangan diisi oleh frase ”tadi pagi” yang berkategori ”nomina” yang memiliki peran
”waktu”.
Struktur sintaksis menimal harus memiliki fungsi subjek dan predikat. Sedangkan
objek dan keterangan boleh tidak muncul.
Konektor adalah alat sintaksis yang biasanya berupa sebuah morfem atau gabungan
morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. konektor itu bertugas
menghubungkan satu konstituen dengan konstituen lain, baik yang beada diluar kalimat.
Dilihat dari sifat hubungannya koektor ada dua macam :
a. Konektor koordinatif
Adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang sama
kedudukannya atau sekerajat. Konjungsi koordinatif seperti dan, atau, & tetapi dalam
bahasa Indonesia adalah konektor koordinatif.
Contoh :
Nenek ”dan kakek pergi berburu.
Dia memang galak tetapi hatinya baik.
b. Konektor subordinatif
Adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang kedudukannya tidak
sederajat. Maksudnya konstituen yang satu merupakan konstituen atasan dan konstituen
yang lain menjadi konstituen bawahan. Konjungsinya kalau, meskipun dan karena. Contoh
:
Kalau diundang, saya tentu akan datang.
Dia pergi juga meskipun hari hujan.
B. KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS
Dalam tatasan morfologi ”kata’ merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah
morfem). Tetapi dalam tataran sintaksis ”kata” merupakan satuan terkecil, yang secara
hierarkeal menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Dalam
bab ini ”kata” hanya dibicarakan sebagai satuan terkecil dlam sintaksis, yaitu dalam
hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase,
klausa, dan kalimat.
Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, ”kata” berperan sebagai pengisi fungsi
sintaksis, sebagai penanda katerori sintaksis dan sebagai perangkai dalam penyatuan
satuan-satuan / bagian-bagian dari satuan sintaksis. ”Kata” dibedakan menjadi 2 macam :
1. Kata penuh (fullsord)
Adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk
mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai
sebuah satuan tuturan. Seperti kata ”kucing” di beri prefiks ber-disetai perulangan, & di
beri surfiks –an, menjadi ”berkucing-kucingan”.
2. Kata tugas (function word)
Adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses
morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat berdiri
sendiri. Sesuai dengan namanya, yaitu kata tugas, dia selalu terikat dengan kata yang ada
dibelakangnya (untuk konjungsi), atau yang ada di depannya (untuk preposisi), dan dengan
kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi).
Contoh :
Bu Leoni sedang membahas penggunaan preposisi in, on dan at dalam bahasa
Inggris. Maksudnya yang dibahas bu Leoni bukan in, on dan at itu, melainkan
preposisi in, preposisi on, dan preposisi at.
C. FRASE
Frase Lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang
bersifat non predikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi
sintaksis di dalam kalimat. Jadi, hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase itu tidak
berstruktur “SP” atau “PD”. Maka frase adalah konstituen pengisi fungsi-fungsi sintaksis,
sehingga salah satu unsur frase itu tidak dapat dipindahkan “sendirian”.
Contoh frase :
Nenek saya sedang membaca buku humor di kamar tidur
S P O K
1. Jenis-jenis frase.
a. Frase Eksosentrik
Adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku
sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Misal : frase “di pasar”, terdiri dari
komponen “di” & komponen “pasar”. Secara utuh frase ini dapat mengisi fungsi
keterangan. Frase eksosentrik dibedakan menjadi:
1) Frase eksosentrik yang direktif
Komponen pertamanya berupa preposisi, seperti “di,ke dan dari”
dan komponen berupa kata/kelompok kata yang biasanya berkategori
nomina.
Contoh :
di pasar
dari kayu jati
demi keamanan
2) Frase eksosentrik yang non direktif
Komponen pertamanya berupa artikulus, seperti “si” dan “sang” atau”yang”,
“para” dan “kaum”, sedangkan komponen keduanya berupa kata berkategori
nomina, adjektiva atau verba
Contoh : - si miskin
- para remaja masjid
b. Frase Endosentrik
Adalah frase yang salah satu komponennya memiliki perilaku sintaksias
yang sama dengan keseluruhannya.
Misal :
Nenek sedang membaca komik di kamar.
Nenek membaca komik di kamar
yang berarti ”membaca” dapat menggantikan frase” sedang membaca”
c. Frase Koordinatif
Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau
lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh
konjungsi koordinatif, baik yang tunggal (dan, atau, tetapi) maupun konjungsi
terbagi (baik….baik, makin…makin, baik….maupun….).
Contoh :
sehat dan kuat
makin terang makin baik.
d. Frase Apositif
Adalah frase yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, oleh
karena itu urutan komponennya dapat dipartukarkan.
Contoh ::
Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali.
2. Perluasan Frase
Dalam Bahasa Indonesia perluasan frase ini tampakny sangat produktif, antara lain
karena adanya faktor :
a. Untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus atau sangat khusus
sekali biasanya diterangkan secara leksikal.
Contoh :
kereta
Kereta api
Sebuah kereta api ekspres
b. Bahwa pengungkapan konsep kata, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar, dan
pembatas tidak dinyatakan dengan afiks seperti dalam bahasa-bahasa fleksi,
melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.
c. Keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci terhadap konsep terutama
untuk konsep nomina, biasanya digunakan konjungsi “yang” untuk penyambung
keterangan-keterangan tambahan.
Contoh :
Kakak saya meninggal minggu lalu.
Kakak saya yang bekerja di Jakarta meninggal seminggu yang lalu
D. KLAUSA
Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif yang
didalam konstruksi itu ada komponen berupa kata/frase yang berfungsi sebagai predikat,
sebagai subjek yang dikatakan bersifat wajib, sebagai objek dan sebagai keterangan.
Contoh :
Kakek membaca koran tadi pagi.
Contoh dalam kalimat majemuk koordinatif yang terdapat dua buah klausa :
Nenek membaca komik
Kakek membaca koran
Nenek membaca komik sedangkan kakek membaca koran.
Contoh klausa yang terletak ditengah kalimat karena disisipkan sebagai keterangan
tambahan :
Gadis itu bukan cucu nenek
Gadis itu duduk di depan
Gadis yang duduk di depan itu bukan cucu nenek.
1. Jenis Klausa
Berdasarkan strukturnya :
a. Klausa Bebas
Adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap minimal
mempunyai subjek dan predikat, karena itu mempunyai potensi untuk menjadi
kalimat mayor.
Contoh :
Nenekku masih cantik
Kakekku gagah berani
Nenekku masih cantik dan kakekku gagah berani.
b. Klausa Terikat
Adalah klausa yang mempunyai struktur yang tidak lengkap. Unsur
yang ada dalam klausa ini mungkin hanya subjek saja/objek saja / keterangan
saja.
Contoh :
Konstruksi “ tadi pagi” yang bisa menjadi kalimat jawaban untuk
kalimat tanya “Kapan nenek membaca koran ?”
Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dibedakan menjadi
:
a. Klausa Verbal
Adalah klausa yang predikatnya berkategori verba. Misal : nenek
mandi, matahari terbit.
Macam-macam tipe verba :
1) Klausa Transitif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba transitif. Misal
: Kakak menulis surat.
2) Klausa Intrasitif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba intransitif.
Misal : adik melompat-lompat ibu sedang berdandan.
3) Klausa Refleksif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba refleksif. Misal
: ibu sedang berdandan.
4) Klausa Resiprokal
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal.
Misal : mereka bertengkar sejak kemarin
b. Klausa Nominal
Adalah klausa yang predikatnya berupa nomina/frase nominal.
Contoh :
(Petani) Kakeknya petani di desa itu.
(dosen linguistik) Dia dulu dosen linguistik
a. Klausa Ajektifal
Adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektifa baik berupa kata
maupun frase.
Contoh :
Ibu dosen itu cantik sekali
b. Klausa Adverbial
Adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial
Contoh :
Bandelnya teramat sangat.
c. Klausa Preposisional
Adalah klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi.
Contoh :
Nenek ada di kamar, dia datang dari Medan dan kakek pergi ke
pasar baru
d. Klausa Numeral
Adalah klausa yang predikatnya berupa kata/frase numeralia.
Contoh :
Gajinya adalah lima juta sebulan, anaknya ada dua belas orang,
dan taksinya ada delan buah.
E. KALIMAT
Adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Disini dalam
kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil dengan mengikuti konsep, bahwa
kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa
klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan serta disertai dengan intonasi final.
1. Jenis Kalimat
Kalimat inti dan kaliman non inti
Kalimat inti disebut juga kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari
klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral dan afirmatif. Dalam
bahasa Indonesia paling tidak kalimat inti kita dapati dengan pola sebagai berikut :
FN + FV = Nenek datang
FN + FV + FN = Nenek membaca komik
FN + FV + FN + PN = Nenek membacakan kakek komik
FN + FN = Nenek dokter
FN + FA = Nenek cantik
FN + Fnum = Uangnya dua juta
FN + FP = Uangnya di dompet
Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai proses
transformasi.
Dengan demikian dapat dibagankan :
Kalimat inti + Proses Transformasi = Kalimat non inti
a. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk
Kalimat tunggal : klausanya hanya satu
Kalimat majemuk : klausa dalam kalimat terdapat lebih dari satu
Macam-macam kalimat majemuk :
1) Kalimat majemuk koordinatif.
2) Kalimat majemuk subordinatif
3) Kalimat majemuk kompleks.
b. Kalimat mayor dan kalimat minor
Kalimat mayor : klausanya lengkap, minimal mempunyai subjek dan predikat
Kalimat minor : klausanya tidak lengkap, hanya terdiri dari S/P/O/K saja.
c. Kalimat verbal dan kalimat non verbal
d. Kalimat bebas dan kalimat terikat.
2. Intonasi Kalimat
Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa.
Jadi kalau intonasi dari sebuah kalimat ditinggalkan maka sisanya adalah klausa.
Ciri-ciri intonasi berupa adanya tekanan, tempo dan nada.
3. Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus dan Diatesis
a. Modus
Adalah pengungkapan / penggambaran suasana psikologis perbuatan
menurut tafsiran si pembicara tentang apa yang diucapkannya.
Macam-macam modus :
1) Modus indikatif/ deklaratif (sikap objektif/netral)
2) Modus optatif ( harapan/keinginan ).
3) Modus imperatif ( perintah,larangan ).
4) Modus interogatif (pertanyaan).
5) Modus obligatif (keharusan).
6) Modus desideratif ( keinginan/kemauan ).
7) Modus kondisional (persyaratan).
b. Aspek
Adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam
suatu situasi, keadaan, kejadian/proses.
Macam-macam aspek :
1) Aspek Kontinuatif (perbuatan truz berlangsung).
2) Aspek inseptif (peristiwa baru mulai).
3) Aspek progresif (perbuatan sedang berlangsung).
4) Aspek repetitif (perbuatan terjadi berulan-ulang)
5) Aspek perfektif (perbuatan sudah selesai).
6) Aspek imperfektif (perbuatan berlangsung sebentar).
7) Aspek sesasif (perbuatan berakhir).
c. Kala/Tenses
Adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya
perbuatan, kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.
d. Modalitas
Adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara
terhadap hal yang dibicarakan terhadap lawan bicaranya.
Jenis-jenis modalitas :
1) Modalitas intensional (keinginan, harapan, ajakan).
2) Modalitas epistemik (kemungkinan, kepastian).
3) Modalitas deontik (keizinan/keperkenaan)
4) Modalitas dinamik (kemampuan)
e. Fokus
Adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian
pendengar/pembaca tertuju pada bagian itu.
f. Diatesis
Adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat
dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.
Macam-macam diatesis :
1) Diatesis aktif
2) Diatesis pasif
3) Diatesis refleksif
4) Diatesis resiprokal
5) Diatesis kausatif
F. WACANA
Adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan
satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.
1. Jenis Wacana
Berdasarkan sarananya :
a. Wacana lisan
b. Wacana tulisan
Berdasarkan penggunaan bahasanya :
a. Wacana prosa, meliputi :
1) Wacana narasi (menceritakan).
2) Wacana eksposisi (memaparkan).
3) Wacana persuasi (mengajak atau melarang )
4) Wacana argumentasi (berargumen atau alasan ).
G. CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN
Dalam pembahasan subbab di atas dapat dilihat bahwa sebuah kata atau frase dengan
persyaratan tertentu dapat menjadi sebuah kalimat dengan urutan hierarki satuan-satuan
linguistik, yaitu : fonem membentuk morfem, morfem membentuk kata, kata membentuk frase,
frase membentuk klausa, klausa membentuk kalimat, akhirnya kalimat akan membentuk
wacana.
Langganan:
Postingan (Atom)